Suatu siang ketika tubuh terasa penat karena beratnya beban di punggung, seorang teman menyapa hangat. Matahari di luar bersinar sangat terik, membuat udara panas seakan menggigit kulit. Sinar remang sebuah restoran menjadi saksi bisu pertemuan kami yang tidak disengaja, ketika akan memenuhi kebutuhan utama manusia. Perut seakan meronta, meminta makanan untuk dicerna. Namun kami masih bertegur sapa. Ketika senyum dan kata hampir habis, ia memanggil sekali lagi dan menyerahkan sebuah buku ke tangan saya.
Apr 21, 2012
Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen
Jan 11, 2012
Semoga
Jul 24, 2011
Tugas Mengarang. Tema: Keluargaku. Tanggal: 23 Juli 2011
Papa juga memberi aku beberapa les. Hari Senin, aku les Matematika di Kumon. Levelku sudah sampai level kelas 5 SD, padahal aku masih 3 SD dan aku bisa mengerjakan tugas-tugasnya paling cepat dari anak lainnya. Kata Papa Matematika itu pelajaran yang paling penting, dan papa sayang aku karena aku pintar Matematika. Hari Selasa, aku les Bahasa Inggris. Kata Papa, Bahasa Inggris itu sangat penting, jadi selain di sekolah, aku juga harus les Bahasa Inggris. Dan Papa juga selalu berbicara Bahasa Inggris denganku supaya aku semakin lancar berbicara Bahasa Inggris. Hari Rabu, aku les Matematika lagi, dan hari Kamis aku les Bahasa Inggris lagi. Hari Jumat aku les pelajaran. Ada guru yang datang ke rumahku dan dia mengulang pelajaran aku selama satu minggu itu, atau biasanya membantu aku belajar untuk ulangan dalam minggu itu. Kata Papa nilai raporku harus bagus dan waktu kenaikan kelas kemarin aku ranking 1, jadi Papa semakin sayang aku. Hari Sabtu aku les piano karena Papa dari dulu ingin belajar piano tapi tidak bisa, jadi sekarang Papa senang kalau melihat aku bisa bermain piano. Setelah les piano, biasanya mama mengajakku jalan-jalan ke mall.
Mama memang selalu sibuk kerja dari hari Senin sampai Jumat. Mama sudah pergi ke kantor sebelum aku bangun pagi, dan biasanya Mama pulang kantor jam 9 malam karena banyak rapat katanya, dan aku selalu sudah harus tidur jam 9 malam karena besoknya aku harus bangun jam 6 pagi. Tapi tetap saja Mama sangat menyayangiku. Mama terus bekerja karena sayang aku. Uang hasil Mama kerja selalu dipakai untuk membelikan aku barang-barang. Waktu itu Mama belikan aku BB. Juga PSP dan beberapa barang lainnya. Mama juga sering membelikan aku baju. Kadang bajuku sama persis dengan baju mama. Modelnya juga sama. Jadi seperti kembar. Kata Mama supaya kompak, jadi orang-orang bisa lihat kalau Mama sangat sayang aku. Sepatu juga Mama kadang belikan seperti sepatu model mama. Kalau jalan ada bunyi tok-tok nya. Supaya aku cantik, dan biasanya kalau aku tampil cantik, Mama semakin sayang aku.
Hari Minggu, kadang-kadang Mama ikut arisan. Di arisan itu Mama berkumpul sama teman-teman SMA Mama. Ada juga arisan sama teman-teman kuliah Mama. Biasanya aku diajak. Mama suka cerita tentang aku. Mama bangga karena aku rangking 1, dan aku bisa main piano. Ada teman Mama yang anaknya pintar ballet, jadi kata Mama aku juga harus belajar ballet. Teman-teman Mama juga bilang aku cantik, jadi Mama senang ajak aku dan Mama semakin sayang aku.
Papa sayang aku, Mama sayang aku.
Aku sayang Papa, aku sayang Mama.
Aku selalu ingin bisa menyenangkan mereka dan menjadi anak baik supaya mereka terus sayang aku.
Apr 30, 2011
Ketika Akhirat pun Outsourcing
Manajer SDM pun mengambil kebijakan sensasional: outsourcing! Kebetulan belum lama ini segelintir penghuni surga mendirikan Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Meski mahal, tapi tetap lebih efektif dibanding merekrut malaikat pengadil baru dan mengirim mereka ke berbagai training dan workshop, sebelum akhirnya menjadi tenaga siap pakai. Kesepakatan pun dihasilkan: "Mulai besok, semua proses pengadilan terakhir & penentuan nasib para arwah menjadi tanggung jawab BPP"
Perdebatan hebat terjadi di internal Biro Pengukuran Psikologi (BPP). Pendekatan mana yang harus dipilih? Kuantitatif, atau kualitatif? Karena keterbatasan waktu, akhirnya mereka memilih kuantitatif. Masing-masing arwah diminta mengerjakan Tes Kesucian Dasar. Ada lima domain dan tiga puluh indikator di dalamnya, yang secara keseluruhan ingin mengukur tingkat kesucian seseorang. Expert judgment dilakukan ke tiga tokoh yang dianggap sangat suci: Bunda Teresa, Paus Yohanes Paulus II, dan Gandhi. Uji validitas lolos. Uji reliabilitas pun lolos setelah menghilangkan beberapa item yang dirasa memiliki derajat kesulitan terlalu tinggi: 0.1.
Alat tes diadministrasikan klasikal, langsung ke seratus arwah sekaligus. Cukup menghemat waktu, antrian arwah semakin cepat dipangkas. Setelah hasil tes diskoring, keseratus arwah diurutkan dari yang skornya terendah ke tertinggi. Permasalahan pun muncul: norma belum ada. Tidak ada cutting point yang jelas. Mereka yang skornya 70 ke atas bisa langsung dikirim ke surga. Mereka yang skornya di bawah 30 dikirim ke neraka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang berada di tengah kurva normal, antara Z-Score -0.5 dan +0.5? Apa yang membedakan mereka yang ada di persentil 49 dan persentil 51? Mengapa skor setipis itu bisa membedakan nasib mereka ke depannya? Perbedaan pendapat pun tidak terselesaikan. Pendekatan kuantitatif gagal.
Dalam waktu singkat mereka beralih ke pendekatan kualitatif. Panduan FGD disusun, sekaligus manual berisi rating dan cara penilaian. Dalam melakukan FGD, tiga praktisi BPP menghadapi sepuluh arwah. Setelah FGD selesai, mereka melakukan kalibrasi untuk menguji inter-rater validity. Boom! Masalah baru muncul: definisi teoritis mereka tentang kesucian berbeda, sesuai aliran mereka. Ada yang beraliran humanis, ada yang behaviorisme, ada yang psikodinamis. Perbedaan standar tidak terjembatani. Pendekatan kualitatif bubar jalan.
Setelah kurang lebih seminggu tidak menemukan solusi, Guru Besar di BPP pun memberi usul untuk menggunakan kedua pendekatan sekaligus, kuantitatif, dan kualitatif. Skor di kedua tes dianalisa dan diukur pengaruh multivariatnya. Dengan bantuan aplikasi Lisrel versi terbaru, analisis dimudahkan. Data dimasukkan, lantas hasil keluar. SURGA. NERAKA. SURGA. NERAKA.
Semua berjalan cukup lancar, hingga suatu saat ada "kecelakaan". Seorang yang sudah dinyatakan gagal ditolak ke neraka, baik oleh pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, malah dimasukkan ke surga oleh Dewan Agung Pengadilan Terakhir. Praktisi BPP gerah. Mereka merasa kerja keras mereka tidak dihargai. Setelah dikonfirmasi ke Dewan Agung, ternyata orang tersebut memang semasa hidupnya adalah pendosa berat. Namun, tepat sebelum kematiannya, orang tersebut menyatakan bertobat. Hal itu membuatnya pantas dimasukkan ke surga. Praktisi BPP tetap tak terima. Debat runcing tak terelakkan. Kerja sama berakhir. Izin praktik BPP pun dicabut oleh Dewan Agung.
Setahun ternyata cukup untuk membuat BPP berbenah diri. Setelah sekitar setahun vakum dari surga, mereka membuka kantor baru di neraka. Kini fokus mereka tidak lagi ke pengukuran, melainkan ke konseling dan bimbingan arwah. Mereka yakin, arwah pun memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan menjadi lebih baik. Mereka mulai mendekati arwah-arwah jahat, dan menyadarkan mereka, satu per satu. Setelah penuh perjuangan, usaha mereka terdengar hingga ke telinga orang nomor satu di dunia akhirat. Terkesima dengan usaha mereka, sang presiden dunia akhirat mengeluarkan dekrit: "Semua penghuni neraka yang sudah mengikuti program konseling selama setahun dan menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik, berkesempatan dipindahkan ke surga.". Satu per satu penghuni neraka pun termutasi ke surga.
Tak lama kemudian, neraka bangkrut. BPP semakin dikenal dan diakui jasanya. Kantor cabangnya semakin banyak, hingga ke bumi. Karena mereka yakin, pada dasarnya setiap orang memiliki kualitas personal yang baik dalam diri masing-masing. Yang membedakan hanya lingkungan tempat mereka dibesarkan, agama tempat mereka disangkarkan, dan sederet faktor situasional lainnya. Maka tak adil rasanya mengevaluasi mereka di Pengadilan Terakhir dengan mengacuhkan peranan faktor situasional. Sekali lagi, mereka yakin setiap orang itu pada dasarnya baik. Setiap orang bisa menjadi baik. Hanya saja kita kerap tidak menyadarinya. Juga enggan disadarkan.
Jakarta, 28 April 2011
Okki Sutanto | octovary.blogspot.com
Apr 26, 2011
Besok!
Ia mengaku memiliki cinta, untukku.
Aku ragu ia sungguh memilikinya. Kami baru kenal beberapa minggu. Berawal dari saling sapa di lorong sekolah, kadang kami mengobrol. Kami sama-sama penghuni pertama gedung sekolah setiap harinya. Alasanku: rumahku jauh, dan daerah rawan macet. Berangkat pukul lima, aku akan tiba pukul enam di sekolah. Terlambat berangkat lima belas menit, bisa-bisa pukul delapan aku baru tiba. Sederhana bukan? Alasan dirinya lebih sederhana lagi. Suatu hari ia salah melihat jam, dan datang kepagian ke sekolah. Semenjak "kecelakaan" itulah ia jadi rajin datang pagi ke sekolah, menunggangi motor kesayangannya. Biar tidak kena macet, kilahnya. Belakangan, baru ia akui, akulah alasan dirinya selalu datang pagi ke sekolah.
Dua tahun lalu.
Ia bilang masih menyimpan cinta, untukku.
Aku masih ragu. Aku tahu, kami sudah cukup akrab. Semangkok bubur ayam hangat di meja kantin menjadi saksi bisu setiap harinya. Pun setumpuk surat cinta darinya di lokerku. Juga ratusan tiket bioskop dan puluhan buku yang kami nikmati bersama. Kami suka membunuh waktu bersama. Dengan indah, tentunya. Berdua. Tapi aku ragu, bahwa ruang bening berjarak di antara kami itu betul-betul cinta. Aku rasa ia hanya butuh seorang teman. Dan aku rasa aku teman terbaiknya. Untuk apa bertaruh memulai sesuatu yang bisa berakhir menyakitkan? Jika tanpa itu pun aku masih bisa dekat dengannya. Mereguk manisnya.
Tahun lalu.
Ia nyatakan lagi cintanya, tanpa kata-kata.
Ia melepas tawaran beasiswa dari universitas di kota sebelah. Ia memilih tetap di Jakarta, di tempatku ingin merajut masa depan. Tapi sejentik keraguan lain kini menggoyahkan harapanku. Di depan kami akan ada lembaran kehidupan yang baru. Bukankah kini dunia akan berputar lebih cepat, dan aku dengan segera akan menjadi lembaran kenangan lama baginya? Aku lebih memilih menjadi kenangan yang indah, abadi, dengan tetap sebagai sahabatnya. Dibanding menjadi kenangan yang lebih indah, namun berpotensi tak kekal.
Besok.
Giliranku menyatakan cintaku. Aku mencintainya. Lebih dari sekedar ribuan pelukan hangat seorang sahabat. Lebih dari ratusan kalimat-kalimat penopang kesedihan. Lebih dari puluhan momen di mana aku merasa tak kuat lagi menjadi sekedar sahabat, namun hati dan bibirku tak pernah berharmoni seutuhnya.
Aku mencintainya. Sesederhana itu. Seabsolut itu. Dan besok akan aku curahkan semua perasaanku. Tentang kesempurnaannya yang membuatku ingin berada di sisinya. Sekaligus tentang ketidaksempurnaannya yang juga membuatku ingin berada di sisinya.
Besok, aku akan menyatakan cintaku padanya. Tak noleh ada lagi keengganan bibir untuk berucap. Tak boleh ada lagi keraguan hati untuk bersikap. Tak boleh. Karena besok adalah kesempatan terakhirku. Aku tahu itu.
Karena di saat petinya tertutup sempurna, dan tanah segenggam mulai menutupi liangnya, kami akan berpisah. Juga saat amin terucap dan air mata keluarganya menderas kembali, saat itu pula namanya terhapus dari dunia ini selamanya. Kosa kata itu akan terhapus tanpa jejak dari semua kamus di kehidupanku.
Semoga pernyataan cintaku besok belum terlambat.
Aku yakin ia masih mendengar.
Iya kan, sayang?
Jakarta, dimulai 4 Februari 2011, diselesaikan 25 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com
(Berusaha tak melulu berharap pada esok)
Apr 24, 2011
Bom Gereja
Semua sibuk berusaha menyelamatkan diri. Salib di atas altar pun kehilangan daya magisnya memusatkan konsentrasi dan menenangkan umatnya. Aku tetap duduk. Di tempat dudukku sedari awal. Tak beranjak sama sekali. Aku memperhatikan semua detil dengan seksama, dengan perasaan berdebar, dengan konsentrasi penuh, hingga seakan-akan semua berjalan sangat lambat. Aku tak perlu takut dianggap aneh karena tidak berusaha menyelamatkan diri, aku yakin di saat seperti ini semua orang tak sanggup memikirkan apa pun kecuali tentang keselamatan dirinya sendiri.
Aku menutup mata, berlutut, mulai memanjatkan doa. Aku berharap tidak ada yang terluka, bahkan tewas, saat semua umat berhimpitan keluar dari gereja. Itu saja. Karena aku yakin, ledakan itu sendiri takkan melukai siapa pun. Bom meledak di dalam ruangan tak terpakai di belakang goa maria. Daya ledaknya pun tidak besar, meski asap yang ditimbulkannya memang dibuat seolah bom tersebut mampu meruntuhkan gedung bertingkat. Sudah cukup, sekedar untuk menakuti umat satu gereja.
Saat lautan umat yang saling berdesakan keluar mulai surut, aku ikut beranjak keluar dari gereja. Menghilang dalam lautan umat yang masih diselimuti cemas dan takut. Sejurus kemudian aku sudah tiba di rumahku, langsung menyalakan televisi. Benar saja, berita tersebut langsung muncul menjadi headline news di stasiun-stasiun televisi nasional. Pemadam kebakaran, polisi, dan tim Gegana sudah tiba di lokasi. Berbagai foto dampak ledakan disorot berulang-ulang. Saat pembawa berita mengumumkan tidak adanya korban luka maupun jiwa, aku menghembuskan nafas panjang. Bersyukur. Televisi pun aku matikan.
Senyum tersimpul. Semua berjalan sesuai rencana. Besok, peristiwa tadi akan menjadi berita terhangat seantero negeri. Semua petunjuk yang bisa mengarah pada keterlibatanku sudah terhapus tanpa jejak. Aku yakin dalam beberapa hari polisi akan putus asa. Dan seperti biasa, mereka akan menciptakan tokoh-tokoh rekaan untuk dijadikan kambing hitam. Seorang ekstremis, anggota jaringan teroris internasional, dan berbagai embel-embel yang kelihatan nyata, padahal tidak. Untungnya, media dan masyarakat sedemikian mudahnya mempercayai karangan tersebut. Mereka lebih memilih keberadaan seorang tokoh antagonis, tanpa perlu tahu apakah tokoh tersebut benar-benar ada atau tidak, dibandingkan dibiarkan terus menerka, siapa yang patut dipersalahkan dari kejadian tersebut.
Semua akan lebih percaya pada hasil karangan polisi, tak peduli seberapa absurd dan minim verifikasinya karangan tersebut. Siapa yang percaya, kalau bom tersebut tak lebih dari sekedar ungkapan kekecewaan sang pelaku terhadap gerejanya sendiri? Gereja yang telah terlalu memegahkan diri, dan kehilangan kekhusyukannya sama sekali. Gereja yang terlalu mementingkan ukiran-ukiran indah di sekujur tubuhnya sendiri, dan mengacuhkan keimanan pengunjungnya. Gereja yang sudi repot-repot memasang pendingin ruangan, proyektor, hingga sound-system canggih nan mahal, meski harus mengorbankan kesakralan pemaknaan iman umatnya sendiri. Gereja yang sudah terlalu menyamankan fisik penggemarnya, hingga tak pantas lagi mengenang kesederhanaan anak manusia yang mereka salib dan teladani secara bersamaan.
Semoga saja, usahaku kali ini membuahkan hasil. Mungkin ledakan kecil ini bisa lebih efektif dibandingkan ratusan surat yang sudah kulayangkan sebelumnya ke para petinggi gereja. Jika masih belum berhasil juga, mungkin usaha berikutnya akan melibatkan sedikit darah. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Ia yang tersalib, kadang pengorbanan itu penting, untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Dan jelas, tak perlu mengorbankan banyak orang, sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Ia yang tersalib, korbankanlah pertama-tama dirimu sendiri. Darahmu sendiri. Nyawamu sendiri. Imanmu sendiri. Amin.
Jakarta, 22 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com/
(sama-sekali-tidak-berencana-merakit-bom)
Apr 10, 2011
Pulang
GA 824
From Singapore to Jakarta
Departure time: 06:30
Arrival time : 09.30
Hari ini aku pulang. Pulang ke kota yang sudah kutinggalkan lima tahun lamanya. Pulang kepada masa lalu, Pulang ke rumah, kepada tentakel-tentakel gurita yang penuh kehangatan. Mungkin apa yang ada dulu, tiada lagi sekarang. Tapi apa yang ada dulu, masih hidup di hatiku sampai sekarang. Setiap roman percintaan, roman perpisahan, dan roman pengorbanan yang membentukku menjadi manusia utuh sekarang.
Udara panas menyengat setibanya di bandara Soe-tta. Ternyata tempatku tinggal bertambah tinggi saja suhunya. Riuhan orang menanti mereka yang baru saja keluar dari pesawat. Aku? Aku sendirian. Tiada yang menunggu untuk menjemputku ke rumah. Memang sebaiknya tidak. Karena toh aku tidak akan lama berada di sini. Aku datang untuk menunjukkan cintaku. penghormatanku. Dan kesetiaanku pada cinta lama yang kini hanya hidup di hatiku seorang. Setelahnya aku akan kembali kepada dunia yang lain. Kembali kepada tuntutan-tuntutan pekerjaan yang sudah menantiku bahkan di saat aku baru merencanakan untuk pulang ke rumah.
*****
“ Kemana Bu? “
“ ke Hotel H pak..”
Aku menaiki taksi menuju sebuah hotel. Aku akan menginap di sana. Karena rumahku tidak bisa lagi ditinggali bahkan diinapi. Bahkan kini rumah tersebut tidak lagi memiliki properti. Ia hanya sebidang tanah kecil, tapi yang selalu kurindu setiap waktu.
Perjalanan ini terasa menyengat jiwa. Akan kerinduan, akan kepenatan semasa masih duduk di bangku sekolah. Semasa pikiranku masih begitu naïf memandang kehidupan. Ah ya, aku terlupa.. Jakarta tidak kehilangan kemacetannya. Dan AC di taksi ini, masih saja tidak terasa. Tapi aku merasa begitu dekat dengan rumah. Walau mungkin esok baru sempat kukunjungi dirinya.
*****
Pagi hari.
Aku terbagun oleh suara alarm dari handphone-ku. Terbangun dan tersentak begitu kagetnya. Bertanya dimanakah aku saat ini? Ah.. ya. Di dalam perjalanan menuju rumah. Aku tersenyum, membayangkan pagi ini aku akan datang mengunjungi rumahku. Maka aku bergegas untuk mandi. Untuk berdandan secantik mungkin menuju kepada kenangan.
*****
“ ke jalan Kenangan pak.”
Lagi-lagi aku naik taksi. Taksi yang berwarna biru sebiru ketika aku meninggalkan Jakarta. Rupa-rupanya taksi ini masih saja menjadi pendominasi pasaran taksi di Jakarta. HEBAT. Sehebat rumah yang kan kukunjungi. Sehebat tokoh yang aku kan datangi. Mereka begitu konsisten untuk diam di hatiku. Seberapa jauhpun aku berada.
*****
Sekarang aku tiba di rumah masa kecilku. Masih sama besarnya dengan yang dulu. Halamannya masih begitu bersih, karena kakakku yang tinggal di Jakarta membayar orang untuk menjaga dan merawat rumah ini. Aku membunyikan bel. Tidak lama seorang perempuan tua datang menyambutku.
“ ah.. Mbak.. kapan datang ke Jakarta? Kok ndak kirim kabar mbak? Wah si mbak tambah cantik..”
“ iya, kebetulan mampir.. ada pekerjaan kantor..”
“oh.. kakak mbak tau mbak di sini?”
“ tidak bi.. tidak perlu diberitahu ya? Saya Cuma sebentar melihat-lihat. Harus buru-buru pergi, tidak enak jika tidak mapir.. “
“baik, mbak.. monggo masuk”
Aku melangkah menuju ke dalam rumah. Begitu sepi, tiada lagi yang tinggal di dalamnya. Tidak juga kakak-kakaku yang tinggal di Jakarta. Mungkin karena letak rumahku cukup jauh masuk ke dalam, sehingga untuk menuju jalan besar kami harus naik ojek dulu.
Langkahku begitu gontai. Jantungku berdentum begitu cepat, layaknya lagu tentu kali ini drum tersebut memainkan bagian reff-nya. Aku takut melangkah lebih dalam, tidak siap rasanya memandang barisan foto-foto wisudaku dan ketiga kakakku masih terpasang di sana. Tepat seperti hari dimana aku pergi dari rumah.
“mau minum apa mbak? Biar bibi bikinin”
“gak usah bi, Cuma sebentar kok. Aku harus pergi ke tempat lain”
BOHONG.
Bukan karena kau harus pergi ke tempat lain. Tapi karena aku tidak cukup kuat untuk lebih lama menghirup kenangan manis ini. Kenangan masa kecil. Kenangan saksi bisu perjuanganku menuju hari ini. Aku tidak siap. Tidak untuk paparan memori ini.
Aku melangkah menuju kamarku. Masih ada meja belajar tua, tempat tidur, dan lemari pakaian dari kayu jati. Di sini tempatku biasa menulis. Tempatku menangis di setiap penghujung kisah cinta remaja. Di meja ini kuletakkan cangkir-cangkir kopiku yang menemaniku berjuang menghadapi skripsi.
“Ah..”
Aku melangkah menuju kamar ayah dan ibuku. Masih seperti yang dulu. Masih memuat aroma daster ibuku. Entah bagaimana aku tidak mengerti. Tapi semua itu seperti tidak larut dimakan jaman.
Sejenak aku berjalan menyeret langkahku menuju teras. Memandang kembali rumahku dari teras, menyatukan setiap mozaik kenangan. Mengintegrasikan semua bagian menjadi sebuah bentuk bangunan yang sangat kukenal.
Ya.
Ya.
Ini rumahku.
Tapi bukan rumahku.
Ah entah bagaimana mengatakannya, Bahasa Indonesia tidak membedakan rumah dari rumah yang sesungguhnya. Tidak membedakan rumah sebagai kata sifat dan kata benda.
Ya. Ini lah bendanya. Inilah rumahku.
Inilah rumahku, tapi bukan rumah ini yang menjadi tujuan kedatanganku.
aku tiba-tiba saja ingin pergi secepat mungkin dari bangunan ini. Aku ingin datang ke rumahku yang sesungguhnya. Tempat labuhan jiwa. Tempat artefak kenangan.
Terburu-buru aku meminta diri dari bibi, dan kembali mengingatkannya untuk tidak memberitahu siapapun bahwa aku datang ke bangunan ini.
Aku berjalan begitu cepat. Dua kali lebih cepat dari kecepatan normalku dalam berjalan. Mencari pangkalan ojek dan menaikinya. Ya. Aku meminta si tukang ojek untuk membawaku lebih cepat aku harus cepat. Rasa rindu ini sudah memuncah di dalam dada.
Setibanya di jalan besar, lagi-lagi aku memberhentikan taksi. Taksi yang juga berwarna biru.
“Pondok Harapan, Pak”
“kalau bisa, jalannya cepat ya”
1 jam 20 menit.
“mbak ini sudah tiba”
“ Ah.. rupanya aku tertidur.
“masuk saja pak. Cari blok c no. 36”
“itu untuk yang agama apa mbak?”
“ Kristen”
“baik”
*****
“di depan pak, belokan pertama. Berhenti di situ”
“iya, mbak”
“bapak tunggu saya di depan kantor pusat di depan tadi ya. “
“iya mbak.”
Akhirnya inilah rumahku. Tempat kerinduanku. Tempat larinya air mata-air mata kesepianku. Aku duduk menghadapnya. Di sini. Di hadapan kedua nisan ayah dan ibuku.
“ayah, ibu.. aku datang. Jauh dari tanah sebrang. Penuh kerinduan.”
“ ini anakmu bu.. yah.. masih seperti yang dulu.. masih Rasha yang dulu”
“masih mencintai kalian. Masih begitu dalam”
Tangisku tak tertahan. Aku duduk sambil menciumi batu nisan ayah dan ibu. Keduanya memang diletakan berdampingan agar memudahkan kami jika berziarah. Dan inilah, rumahku. Rumah tambatan hatiku. Gudang nilai-nilai kehidupanku. Liang kenangan hidupku. Masih terlalu rapuh diriku untuk berdiri sendiri. Masih terlalu rapuh diriku jika harus tanpa mereka. Masih terlalu rapuh. Atau entah apakah akan selalu rapuh.
Ingin rasanya aku meningap di tempat ini. Tapi tentu hal tersebut tidak mungkin. Lagipula pesawatku akan segera lepas landas kembali menuju tempat lain 3 jam lagi.
Terpaksa kuseret langkah menuju kantor pusat pengelola makam ini. Membayar perpanjangan sewa tanah kubur untuk lima tahun kedepan. Ini bukti kesetiaanku. Bukti penghormatanku pada mereka. Bisa saja kutransfer uang itu. tapi rasanya, hanya dengan cara inilah aku bisa memaknai penghormatanku kepada ayah dan ibu.
Keluar dari kantor, kembali kuberjalan menuju taksi. Masih dengan hati yang remuk. Masih dengan mata yang sembab. Sulit memang tapi aku kembali harus berpisah.
Karena jalanku masih panjang ke depan. Dan kenangan tak seharusnya memenjarakan.
Dari dalam taksi, kutengok kembali kedua makam itu.
“selamat tinggal ayah, ibu.. aku akan kembali. Pada waktunya nanti.” Bisikku dalam hati.
“memperpanjang izin tanah makam ya mbak?” tanya supir taksi.
“iya, pak..”
“wah saya tau banget orang kayak mbak.. pasti kalau hormat sama orang tua hidupnya akan dimudahkan Tuhan,mbak.”
“ya , amin.”
Supir taksi tersebut mengatakan ucapannya dengan begitu yakin. Seakan-akan dia tahu apa yang dia ucapkan. Tetapi, ada satu hal yang tidak ia tahu. Bahwa, tanah di samping makam ayah dan ibu. Sudah dipesan. Dan akan diperpanjang selama belum digunakan.
Dan orang yang memesannya adalah aku.
“Would you know my name, if I saw you in heaven”
“will it be the same, if I saw you in heaven. “
Selang beberapa menit, radio di taksi tersebut memutar lagu itu. lagu yang terus menerus berputar di kepalaku dari lima tahun yang lalu.
“ayah.. ibu.. masihkah kalian mengingat aku ketika kita berjumpa di surga?”
Feb 25, 2011
Nasihat Pak Tua
Pak Tua menjawab, “Kalau begitu jangan membuka matamu.”
Anak muda kembali bertanya, “Saya lelah mendengar berbagai masalah hidup.”
Kata Pak Tua, “Kalau begitu, berhentilah mendengar. Iris saja telingamu, dan berikan pada mereka yang ingin mendengar.”
Anak muda mengerutkan keningnya. Namun ia bertanya lagi, “Saya ingin hidup tanpa pernah putus cinta.”
“Kalau begitu, jahit bibirmu dan berhentilah merayu.”
“Pak, anda baru saja menutup seluruh panca indera yang saya miliki.”
“Masih tersisa hidung, tempat Yang Agung menghembuskan nafasnya. Satu-satunya yang tidak layak kau buang.”
“Tapi saya tidak bisa hidup tanpa empat indera yang lain. Saya ingin tetap hidup. Tapi hidup yang menyenangkan.”
Pak Tua menyalakan sebatang rokok. “Kalau begitu, belajar bersyukur. Yang baik selalu datang dengan sisi yang gelap. Terima saja, buka semua panca indera anugerah Yang Agung. Kau bisa mulai dengan berhenti mengeluh. Buka matamu untuk menolong yang menderita. Beri telinga mu untuk mendengar masalah orang lain, bukan hanya masalahmu. Gunakan mulutmu untuk mencinta, jangan mengutuk.”
“Lalu hidung?” Tanya anak muda. “Harus ku apakan dia?”
“Aku lupa, nak. Mungkin kau harus belajar pada hidup dan menemukannya sendiri. Tolong beritahu aku kalau kau sudah mengerti nanti.”
Jan 26, 2011
Filosofi Cicak

Jan 6, 2011
(Cerpen) Seharusnya Terbakar!
![]() |
| Gambar dari SINI |
Saat lampu bioskop kembali menyala, aku hanya bisa ternganga.
Entah apa dosaku, tak diragukan lagi barusan adalah film tergoblok yang pernah aku tonton sepanjang hidupku.
Begitu banyak cerita dan detil di dalam film barusan yang membuat logika siapapun yang menontonnya bengkok sempurna. Sialnya, aku sendirian. Pikiranku tertelan pusaran kekaguman dan ketakjuban semua penonton lainnya.
Seorang wanita rela dijadikan vampir hanya demi seorang lelaki yang barus aja dikenalnya?
Bagi mereka itu sangat menyentuh, bagiku: idiot dan menyedihkan!
Seorang manusia serigala bisa mengendalikan kapanpun mereka ingin berganti wujud antara manusia dan serigala?
Bagi mereka itu fleksibel, bagiku: tolol dan tak berdasar!
Sekelompok vampir hidup bahagia dan menjadi siswa abadi di sebuah sekolah tanpa diketahui siapa pun?
Bagi mereka itu normal, bagiku sangat menginjak nalar!
Ah, cukup sudah segala ketololan film tersebut!
Salahku juga sebenarnya.
Seharusnya aku sudah tahu film ini akan seperti apa, karena aku pernah membaca ulasan dari novel seri tersebut. Jauh sebelum keempat novel ini difilmkan.
Andai saja Karina tidak memaksaku menonton film ini, pasti aku takkan sudi merogoh kocek sebanyak lima puluh ribu rupiah di loket bioskop ini dua jam yang lalu.
Ia membuatku tak mempunyai pilihan.
Sudah terlalu sering aku menolak ajakan Karina pergi.
Ia bilang aku gila, karena terlalu mencintai rumah dan kamarku sendiri.
Ia bilang aku harus menonton film ini, karena aku terlalu skeptis akan hal-hal berbau mistis, khususnya vampir.
Well, aku kira manusia waras manapun justru akan makin skeptis setelah menonton film ini.
Setelah berhasil memojokanku, akhirnya aku mengiyakan ajakannya untuk menonton malam ini.
Sepulang dari mengantar Karina ke rumahnya, aku pulang dan menyendiri di balkon rumahku.
Sejujurnya, aku sangat suka menghabiskan waktu dengan Karina.
Setiap kali Karina mengajakku pergi, dengan terpaksa aku harus menolaknya.
Sangat berat memang, namun apa daya.
Karina selalu enggan untuk bepergian di malam hari.
Sedangkan aku tak mungkin keluar rumah di siang hari.
Aku benci sinar matahari!
Sesaat setelah cahaya matahari menyentuhku, aku akan terbakar.
Percayalah, itu yang akan terjadi pada semua vampir, termasuk aku.
Terbakar, hangus, dan lenyap selamanya dari muka bumi.
Bukan sekedar menjadi berkilauan kulitku.
Seperti di film tolol itu.
Jakarta, 6 Januari 2011
Okki Sutanto
[Sumber inspirasi: Posting Tukang Review]
Nov 22, 2010
Lima Detik
Andai saat itu aku diberi sedikit waktu.
Cukup sedikit, barang sepuluh detik.
Tidak, bahkan cukup lima detik!
Untuk menjaga kewarasanku, untuk mencegah si sehat pergi dari akalku.
Sayang, lima detik nyatanya terlalu berharga untuk kumiliki saat itu.
Andai aku diberi lima detik, mungkin aku tak perlu mendekam dalam sel terkutuk ini selama lima tahun.
Sel yang busuk luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan.
Dengan kecoa busuk, para tahanan bejat, juga para penjaga lapas bangsat!
Lima tahun sudah aku mengutuki lima detik yang tak pernah kumiliki itu.
Lima detik yang seharusnya kupakai untuk menahan semua hasrat dengki dan letusan kemarahan.
Bukan justru menghabisi Yati dan Dhani, istri beserta sahabatku sendiri, yang tertangkap basah sedang tidur di kamar rumahku.
Pukul 1 siang.
Tak lama setelah jam makan siang, aku melangkahkan kaki keluar dari tempat terkutuk ini.
Udara bebas, katanya. Yang bagiku nyatanya tak sebegitu bebasnya.
Siapa aku, yang telah kehilangan lima tahun terakhir dari dunia ini?
Lembaga pemasyarakatan katanya? Rasanya aku semakin dijauhkan dari masyarakat.
Harta? Habis untuk mengurus pengadilan sialan itu.
Keluarga? Tak ada lagi yang menganggap aku keluarga setelah aib yang menggegerkan kampung itu.
Tak apalah, usiaku masih belum terlalu tua untuk memulai kehidupan baru, di tempat baru.
Setidaknya kali ini aku memiliki ribuan bahkan jutaan detik, yang bisa kugunakan sebaik mungkin.
Karena aku selalu percaya, lima detik saja sebenarnya cukup untuk membuat orang menggunakan akal sehatnya.
Namun rupanya itu tak berlaku bagi semua orang.
Herman, kakak Yati, sudah menungguku tak jauh dari gerbang lapas.
Tanpa basa-basi ia menghujamkan pisau tajamnya ke tubuhku belasan kali.
Bajuku bak kanvas merah dibuatnya.
Melihatku terkapar meregang nyawa, ia lari.
Lima detik ternyata tak cukup untuk Herman menggunakan akal sehatnya.
Bahkan lima tahun! Masih tak cukup.
Di penghujung nafas, aku bersyukur siang itu tidak hujan.
Terkapar meregang nyawa, aku masih bisa melihat biru langit untuk terakhir kalinya.
Tak lama, hanya lima detik.
Sebelum mataku tertutup selamanya.
Hanya lima detik.
Yang akhirnya kumiliki.
Jakarta, 22 November 2010
Okki Sutanto.
Oct 31, 2010
Untitled
Kata-kata itu terngiang di benakku sepanjang perjalanan ini. Mataku terpana pada pemandangan yang seolah terus berlari dan berlalu dari jendela tempat dudukku di kereta. Ya, sama seperti aku. Aku seolah sedang berlari dari masa lalu.
Aku menghela nafas dan menyenderkan sisi kepalaku pada kaca jendela. Aku merasa sedikit mual dan lelah dengan keadaan ini. Dengan mata yang refleks menutup kelopaknya, aku mulai melukis ulang semua hal-hal yang memaksaku melewati hari ini.
Aku bukan anak yang sempurna, tetapi dituntut untuk sempurna menurut versi ibuku. Betul, ibuku seringkali berkata bahwa tidak apa kurang di beberapa hal. Tetapi, "kurang" menurut versi ibuku. Kekurangan lain yang tidak ibuku miliki tidak boleh terjadi pada diriku, karena itu membuatku tidak sempurna menurut versi ibuku. Dengan kata lain, ibuku menganggap dirinya yang paling benar (benar tentang kebenaran dan benar tentang kekurangan). Dan karena ibuku menganggap dirinya paling benar, aku terkadang merasa ia menjadi takut dengan kata "salah". Aku menangkap beberapa momen di mana aku menunjukkan bahwa ia salah dan ia marah kepadaku dengan menunjukkan kepadaku bahwa itu adalah salahku atau menunjukkan bahwa ia tidak sengaja sehingga itu bukan salahnya. Ia ingin dirinya bersih dari kesalahan.
Bersih. Ya, bersih itu juga menular ke tingkah lakunya. Ia mengharuskan aku seperti dirinya, bersih. Ia selalu mengganti baju atau mandi setelah duduk di ruang keluarga karena ayah sering duduk di sana dengan menggunakan pakaian kantor. Pakaian yang ayah gunakan untuk duduk entah di tempat orang lain yang mungkin berpenyakit, begitu kata ibuku. Ibuku juga selalu mencuci piring dua kali dengan urutan yang sama; dimulai dari piring yang besar, piring kecil, mangkuk, gelas atau cangkir, dan sendok-garpu. Tidak lupa ia membilas keran dengan air setelah proses mencuci selesai. Kebiasaan yang lainnya yang sering dilakukannya adalah membersihkan apapun sebelum disentuhnya, seperti gagang pintu, telepon, dan lain-lain. Dan hal ini tentu juga berlaku padaku. Ibu mengharuskan aku untuk bisa berlaku sepertinya. Baginya, menjaga kebersihan menjadi hal mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Berbeda dengan ibuku, aku merasa terganggu. Bukannya aku tidak menyukai kebersihan. Tetapi, aku merasa ada yang salah. Sejak awal, bagaimanapun ibu menanamkan versi sempurna dirinya dalam diriku, aku tetap diriku. Aku tidak bisa menjadi ibuku. Dan inilah mengapa aku berlari darinya saat ini. Berlari agar aku bisa memulai keadaan yang aku anggap normal. Aku sudah muak dengan keadaan yang ada.
Angin bertiup dari jendela yang dibuka perlahan secara tiba-tiba. Aku membuka mata dan tampak suamiku tersenyum.
"Sayang, aku mau ke WC dulu ya," ia berkata padaku sambil mendudukkan buah hati kami yang baru berumur 3 tahun di pangkuanku dan berlalu. Aku tersenyum dan memperhatikan peri kecilku dengan tangan kecilnya yang samar-samar berlumur cokelat. Aku tersenyum padanya sambil mengambil Mitu* dari tasku dan membersihkan tangannya. Kemudian aku mengambil Antis** dari tasku juga dan menuangkan beberapa tetes di tangannya dan membantunya mengoleskan di seluruh permukaan tangannya. Dan terakhir, aku menuangkan beberapa tetes di tanganku sambil merasakan sesak di dada.
"Aku benci ibuku!"
Kata-kata itu kembali terngiang di benakku. Mataku kembali tertuju pada pemandangan yang masih terus berlari dan berlalu dari jendela tempat dudukku di kereta. Ya, sama seperti aku. Aku hanya seolah sedang berlari dari masa lalu.
-----------------------------------
*Merk tissue basah.
**Merk cairan pembersih tangan
-Jessica Farolan-
Oct 10, 2010
hutan itu
dilemma? ya.
aku bingung.
haruskah aku melangkah memasuki hutan belantara yang entah dimana berakhirnya itu?
atau lebih baik aku pulang saja?
yang ku tahu dari hutan itu hanya aku bisa menemukan puncak gunung yang kata orang pemandangannya luar biasa.
yang ku tahu dari hutan itu hanya aku bisa menemukan kedamaian di perjalananku karna tidak ada orang lain yang bisa menggangguku dan dunia imajinasi liarku.
yang ku tahu dari hutan itu hanya aku bisa menjadi aku.
yang ku tahu,
hutan itu juga bisa membuat aku tersesat di dalamnya dan tidak akan pernah keluar.
aku terlalu lama berpikir, hingga ada seorang lelaki yang muncul dengan membawa peralatan yang sama persis denganku.
sebuah ransel besar yang dinamakan orang sebagai carrier.
juga sebuah peta lokasi gunung tersebut, yang orang bilang sulit sekali didaki.
bahkan ternyata pakaian yang ia pakai juga sama persis denganku!
ah. sepatunya! warna cokelatnya sama persis dengan milikku! bahkan modelnya pun sama.
kebetulan macam apa ini?
aku jadi seperti sedang bercermin pada cermin ajaib yang bisa merubah jenis kelamin bayanganku.
orang itu menawarkan diri untuk menemaniku mendaki gunung tersebut.
lagi-lagi aku berpikir.
terlalu lama berpikir.
hingga orang itu memutuskan untuk mendahuluiku berjalan ke dalam hutan.
dan ia berkata, "ikuti aku jika kamu mau.. aku rasa kamu pun sendirian kesini karena ingin mencari kebebasan dan membiarkan duniamu berbicara tentang imajinasi.. aku pun begitu.. namun apa salahnya kalau kita mencari kebebasan itu bersama-sama? toh kita satu tujuan.. tapi ya, terserah.. aku akan berjalan duluan ke dalam.."
aku masih berpikir ketika orang itu berhenti dan menengok ke belakang.
"yakin nggak mau ikut? percayalah padaku.."
percaya.
sulit sekali bukan mempercayai orang yang out of nowhere muncul dan mengajakmu mengarungi hutan belantara yang entah dimana berakhirnya itu?
aku berpikir.
sementara orang itu semakin jauh berjalan.
aku berteriak, "hey, tunggu!"
orang itu berhenti, menoleh lagi, dan tersenyum.
ia mengulurkan tangannya.
aku berlari dan menyambut tangannya.
"tapi janji ya kamu jaga aku di hutan ini? sejujurnya aku daritadi tidak sanggup melangkah masuk karna aku takut berjalan sendiri.."
ia hanya menatapku dan mengangguk.
jadilah kami bergandengan menelusuri hutan itu.
menelusuri hutan, mendaki gunung, yang hingga kini puncaknya belum nampak.
sesekali membuka peta, plotting jalur yang telah kami lewati dan melakukan navigasi demi mencari tahu kemana kami harus melangkah.
berhari-hari kami berjalan. namun kami masih terjebak di dalam hutan.
anehnya, logistik yang kami bawa pun belum juga habis.
makanan dan air sangat berlimpah di hutan ini.
ada mitos yang mengatakan bahwa di hutan ini, memang banyak keajaiban yang terjadi.
dan entah mengapa, yang kurasa di sepanjang perjalanan hanya banyak kupu-kupu berterbangan di perutku.
aku teringat salah satu papan di dekat entry point hutan ini.
papan itu memberikan keterangan singkat tentang hutan misteri ini.
Oct 6, 2010
Ilmu Bicara, Begitu Katanya...
Maka, diciptakanlah oleh Tuhan: manusia, dengan kehendak bebas.
Pada mulanya, kepada manusia diberikan dua mata untuk melihat.
Manusia melihat Bumi begitu indah. Matahari mengintip dari balik awan. Manusia memperhatikan semua itu; pupil mereka membesar menunjukkan ketertarikan dan rasa syukur. Dilihat pula rintik hujan begitu serempak. Ah, seperti apa suaranya? Manusia begitu ingin tahu, dan Tuhan pun merasa bahwa karya-Nya belum selesai.
Maka, kepada manusia diberikan dua telinga untuk mendengar.
Terdengarlah bunyi hujan, juga binatang bercengkerama tentang cantiknya bulan yang sedang tersenyum: mereka menyalak, berkicau, mengaum. Manusia mendengarkan semua itu; karena telinga tidak pernah dapat benar tertutup, dan mendengarkan sebenarnya hanya butuh ketulusan dan usaha lebih dari mendengar.
Binatang-binatang itu bercengkerama sambil menikmati buah-buah yang jatuh dari pohon. Ah, seperti apa rasanya? Dapatkan dimakan? Kembali Tuhan bekerja menyempurnakan karya-Nya.
Maka, kepada manusia diberikan satu mulut untuk menikmati makanan. Di dalam mulut ada gigi untuk mengunyah, ada lidah untuk mengecap.
Lengkap sudah!
Dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu mulut untuk menikmati makanan.
Tapi, segala keindahan dunia, segala kenikmatannya, manusia tidak dapat melantunkan puji-pujian tentang semua ini. Terlalu sunyi!
Maka, Tuhan kembali berhenti dari istirahat-Nya. Kepada manusia ditambahkan
pita suara di dalam rongga mulut untuk menghasilkan bunyi; nada-nada yang sama indahnya seperti kicau burung di pagi hari. Segala puji dan syukur yang selama ini tersimpan dalam hati, kini manusia mendendangkannya.
Semakin lama manusia menempati dunia, semakin berkembang keingintahuannya, pula kreativitasnya. Mulut yang hanya satu, kepadanya manusia berusaha menambahkan fungsinya. Mulut kini digunakan untuk bercengkerama. Bercengkerama seperti halnya hewan-hewan di sekitar mereka.
Cara ini ternyata begitu melelahkan: tiga kali nada panjang dan satu kali nada pendek untuk menyatakan cinta, satu kali nada panjang dan empat kali nada pendek untuk menyatakan terima kasih, dan lain sebagainya. Pada akhirnya manusia menyerah, meninggalkan cara ini dan mencoba mencari cara lainnya.
Manusia mulai berkomunikasi dengan gerak tubuh. Melibatkan gerak tangan, gerak kaki, dan gerak kepala. Mereka terlihat seanggun rerumputan yang melambai lembut tertiup angin. Manusia juga mencoba berkomunikasi lewat gambar. Terkadang mereka berusaha mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara sangat halus dan indah, terkadang pula mereka menggambar begitu cepat dengan garis-garis tegas, namun tetap dipergunakan pikiran dan hati mereka sehingga semuanya tersampaikan dengan bijaksana.
Suatu hari, sesosok makhluk tak bernama mendatangi dunia dan memperkenalkan sesuatu yang ia sebut Ilmu Bicara. Mudah baginya untuk membuat manusia terkagum-kagum dan ingin segera mempelajarinya. Betapa tidak! Dari mulutnya, mengalun sesuatu yang disebut ”vokal”, lalu ada pula "konsonan". Lebih jauh lagi, vokal dan konsonan bisa membentuk "kata" dan kata bisa membentuk "kalimat"!
Manusia begitu senang: semua gerak tubuh dan semua gambar dapat tergantikan. Cara ini sangat efektif lagi efisien. Berlomba-lomba manusia mempelajari Ilmu Bicara, meskipun pepohonan dan binatang-binatang terus mencibir tak setuju.
Manusia belajar dengan cepat, sangat cepat. Mungkin terlalu cepat sehingga tak sempat mereka mempertimbangkan baik dan buruk Ilmu Bicara. Mereka sibuk mempergunakan Ilmu Bicara; bahkan terlalu sibuk untuk mempergunakan pikiran dan hati sehingga tak lagi segala sesuatu tersampaikan dengan bijaksana.
Manusia mulai bertengkar. Pertengkaran dengan Ilmu Bicara. Mulut yang selama ini hanya untuk menikmati makanan dan melantunkan puji-pujian, kini menghasilkan hal-hal yang tak patut disampaikan! Lalu mereka mulai pula bertengkar dengan gerak tubuh. Gerak tubuh ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang begitu kuat, membuat manusia jatuh, terluka, remuk dan lebam. Tak cukup juga, mereka bertengkar lewat gambar. Betapa sebuah gambar dapat membuat manusia sakit hati dan semakin memicu amarah!Manusia terus bertengkar, bertikai, lupa berdamai. Segala jenis tumbuhan dan segala jenis hewan mulai habis kesabaran; akhirnya mereka menyingkir meninggalkan bumi, pergi ke tempat yang lebih baik.
Apalah artinya manusia tanpa makhluk hidup lainnya? Perlahan, pasti... mati.

