Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Jun 17, 2013

Minggu Pagi di Cilincing

Apa yang terbersit di kepala kita ketika mendengar kata “Cilincing”? Mungkin yang terbayang adalah suatu sudut kota Jakarta yang kumuh. Enggan untuk dilihat apalagi didatangi. Dekat dengan pelabuhan dan pabrik-pabrik besar, Cilincing merupakan bagian kota Jakarta yang menunjukkan kekhasannya sebagai  daerah industri kaum pekerja.

Sepanjang jalan tol menuju Cilincing, kita akan melihat deretan pabrik dan mesin-mesin alat berat di kiri kanan jalan. Sementara di jalanan, sering sekali kita berpapasan dengan truk-truk kontainer besar. Minder rasanya menaiki mobil kijang yang diapit oleh truk-truk kontainer besar.

Pernahkah terbayang kehidupan seperti apa yang dapat kita temukan di Cilincing?

Daerah Cilincing sendiri merupakan daerah yang luas. Ada daerah pemukiman layak, setengah layak sampai tidak layak sama sekali untuk disebut tempat tinggal. Kalau kita meng-googling “Cilincing” maka yang muncul adalah berita kriminal, narkoba, nelayan, perjudian dan berita-berita lainnya yang negatif.

Seeing is Believing

Idiom ini pertama kali muncul pada tahun 1639. Idiom ini muncul dari cerita Santo Thomas yang tidak percaya bahwa Yesus yang disalib telah bangkit. Maka dia berkata kalau ia baru akan percaya bahwa Yesus bangkit jika ia dapat mencucukkan jari pada lubang di tangan Yesus karena disalib.
Ini juga bisa berlaku untuk kita. Kita baru mempercayai sesuatu jika melihat hal tersebut secara langsung. 

Sebaliknya kita juga perlu peka dan kritis mempercayai yang disajikan atau disuguhkan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam bentuk pengetahuan yang ada di keluarga, masyarakat, dan media massa. Sebab siapa tahu keyakinan kita akan suatu hal diarahkan melalui apa yang dengan sengaja disuguhkan di depan mata kita.

Kembali ke soal Cilincing. Di Minggu pagi saat menyusuri gang-gang kecil di Cilincing, saya melihat dinamika kehidupan masyarakat yang memperlihatkan sendi dan denyut-denyut kehidupan sosial manusia masih ada dan hidup.

Berbelok ke gang di sebelah kiri, terlihat tiga ibu berpakaian gamis dan jilbab serasi warna merah dan kuning gading. Lengkap dengan riasan wajah sedang memegang alat music. Saya duga mereka akan qasidahan di suatu hajatan.

Menyusuri gang, lalu berbelok ke sebelah kanan terlihat jalanan gang ditutup oleh kursi kayu panjang. Di jalan tersebut sekitar lima belas ibu-ibu sedang melakukan senam aerobik dipandu oleh instruktur laki-laki. House music diputar untuk mengiringi gerakan mereka. Riuh sekali suasananya. Di sekitarnya, ada beberapa anak kecil yang menonton para ibu berlatih senam. Ada juga ibu yang menggendong bayi lalu ikut berjoget mengikuti irama house music.

Tak berapa lama, sambil mencari jalan keluar dari gang sempit ini terdengar suara pengumuman dari masjid. Tersiar berita duka cita atas meninggalnya seorang nenek dari pengeras suara masjid. Pengurus masjid juga memberitahukan kapan jenazah akan di-sholatkan dan dibawa ke pemakaman.

Di setiap sudut atau pengkolan gang, dengan mudah ditemui warung. Warung yang bukan hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari tapi juga menjadi tempat nongkrong. Anak muda nongkrong dengan sesama anak muda, bapak-bapak nongkrong dengan sesama bapak-bapak. Begitu juga dengan para ibu.

Tak lama kemudian, dari pengeras masjid lainnya terdengar suara himbauan untuk melakukan kerja bakti bersama.

Saya tercenung.

Saya yang tinggal di kompleks perumahan tidak pernah menyaksikan dinamika kehidupan bermasyarakat seperti ini di lingkungan tempat tinggal saya. Paling hanya ada rapat RT. Itupun yang hadir biasanya hanya sepertiga dari warga kompleks.

Saat saya lari pagi atau sore keliling kompleks, saya menyadari bahwa yang menikmati jalanan kompleks yang enak hanyalah para baby sitter dengan anak majikannya yang didorong di kereta bayi dan sepeda, atau para anjing peliharaan majikan yang dibawa berkeliling oleh pembantu rumah tangga.

Sementara pemilik rumah yang tinggal di kompleks hanya berseliweran dengan mobil. Pergi pagi, pulang 
malam dan langsung masuk ke garasi rumah.

Sepuluh tahun lalu, saya masih kenal tetangga saya. Setiap sore saya bermain dengan tetangga seumuran. Naik sepeda keliling kompleks atau bermain di rumah.

Salah satu keberfungsian manusia yang sehat dilihat dari kualitas interaksi dan relasi sosialnya.

Di tempat yang sering dikonotasikan orang sebagai tempat yang kumuh, kriminal dan tidak layak tinggal saya menyaksikan kemanusiaan manusia yang terfasilitasi melalui ruang publik yang terbatas.

Saya melihat orang-orang bisa mengobrol dengan akrab di luar rumah, tak hanya mengurung diri di dalam rumah beton.

Saya melihat orang-orang yang bisa terlihat rileks dan tersenyum saat bertegur sapa dengan sesamanya. Bukan hanya tersenyum ke layar tablet atau komputer ketika ada orang nun jauh di sana menge-like status Facebook saya. *eaaa*

Minggu pagi itu di Cilincing saya diizinkan-Nya melihat kemanusiaan manusia pada suatu kelompok masyarakat yang sering kita nihilkan keberadaannya.  

Sesungguhnya siapa yang berhak membuat definisi dan mengklaim diri sebagai yang paling ‘beradab’?-Maria Hartiningsih, jurnalis senior Kompas di bidang HAM dan kemanusiaan (2013).

Sekali lagi, pengalaman dan perjalanan hidup menyadarkan saya akan keberagaman. Menyadarkan betapa paradigma berpikir kita sendiri yang seringkali membuat kotak sempit sehingga kita sulit melihat kekayaan dan keberagaman warna hidup di depan kita.

Termasuk membatasi bahkan menghambat kita untuk menyadari sentuhan dan suara-Nya di keseharian hidup kita.

Seeing is believing-St. Thomas.

Jan 10, 2013

Saya dan Perbedaan


Sejak tahun 2010, semakin banyak bermunculan film-film Indonesia yang mengangkat hubungan percintaan antar lawan jenis dari suku dan/atau agama yang berbeda. Secara fundamental, perbedaan agama dalam hubungan percintaan dianggap lebih krusial dan menjadi isu di dalam kehidupan masyarakat. Jika diperhatikan, setting yang dibangun di cerita sebagian besar berada di tahap forming atau pembentukan. Ketika dua insan dari latar belakang berbeda saling bertemu dan jatuh cinta lalu ingin menikah tapi tidak disetujui oleh keluarga karena perbedaan tersebut.

Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan agama bukanlah baru terjadi di tahun-tahun terakhir ini. Situasi seperti ini sudah terjadi puluhan bahkan ratusan tahun sejak agama-agama “impor” masuk ke bumi pertiwi. Lalu bagaimana menjalani hidup di dalam keluarga, kelompok dan masyarakat dalam perbedaan yang sudah terberi (given) seperti ini?

Saya adalah orang yang terlahir dalam situasi terberi (given) berada dalam perbedaan. Hubungan antar berbagai keluarga inti di keluarga besar merupakan interaksi antar keluarga yang berbeda agama. Keluarga saya menganut agama Katolik, keluarga tante saya beragama Kristen Protestan, keluarga tante saya yang lain beragama Islam, dan ada keluarga om-tante saya beragama Buddha.

Saya tidak lahir dalam kondisi baru akan membentuk keluarga. Ketika saya lahir, kondisi-kondisi berbeda seperti ini sudah ada dan terberi. Saya belajar hidup dan bertumbuh dalam perbedaan-perbedaan ini. Saya hidup dalam keberagaman sedari saya mulai berjalan dan mengucap kata pertama.

Saat ini saya memang tidak terlalu sering bertatap muka, bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar saya. Kami berkumpul hanya pada waktu-waktu tertentu, entah ada saudara yang menikah, meninggal, atau hari besar agama. Tapi dari pengalaman masa kecil yang teringat di saat ini saya mengingat memiliki pengalaman-pengalaman berinteraksi bersama mereka yang menyenangkan.

Pengalaman duduk, mengobrol, makan dan tertawa bersama. Interaksi normal antar manusia.

Manusia yang sama-sama punya mata, telinga, mulut, tangan dan kulit yang melapisi tubuh. Sama-sama berselera untuk menikmati makanan dan duduk bersantai.

Lebih dari itu, ada ikatan dan perasaan sebagai satu keluarga yang menyatukan. Kami berbeda tapi kami menyadari kami punya leluhur, nenek moyang yang sama. Kami mengasihi dan menghormati kakek-nenek, emak-akong, eyang putri-eyang kakung yang sama sehingga membuat kami juga mampu mengasihi dan menghormati satu sama lain.

Dari pengalaman ini saya belajar, ikatan keluarga melampaui perbedaan agama.
Hal serupa saya temui ketika mengunjungi komunitas Kampung Sawah. Ada yang tau komunitas Kampung Sawah?

Di komunitas ini masih tersisa orang-orang Betawi yang tinggal bersama dalam populasi sejumlah 20.000 orang berdasarkan penuturan tokoh masyarakat setempat. Orang-orang Betawi di sini ada yang menganut agama Kristen Protestan, Katolik dan Islam. Di lingkungan Kampung Sawah sendiri, berbagai gereja dan masjid didirikan berdekatan bahkan bersebelahan. Saat ini, komunitas gereja yang ada di Kampung Sawah pun kian beragam. Mulai dari Gereja Pasundan, Gereja Kristen Jawa, Gereja HKBP dan beberapa gereja lainnya.

Mereka terbiasa saling meminjamkan ruangan dan membantu jika ada acara keagamaan dari salah satu agama. Pernikahan antar agama maupun berbeda-beda agama di satu keluarga bagi mereka adalah hal yang biasa.

“Jadi dari satu nenek saya, yang anak pertama masuk Islam, yang anak kedua, bapak saya masuk Kristen. Saya sendiri Kristen dan ikut gereja Pasundan”, demikian penuturan seorang bapak tokoh masyarakat di Kampung Sawah berusia 60-an tahun.

Saya lumayan kaget mendengar penuturan bapak ini. Sebab ia menggunakan pakaian khas Betawi: peci, baju koko dan sarung. Atribut pakaian yang saya identikkan dengan agama Islam. Di kemudian hari ketika mengobrol dengan Mas Danny Yatim, baru saya ketahui kalau peci itu sebenarnya tradisi di Indonesia yang dahulu berlaku universal *lihat saja foto-foto generasi muda Indonesia tahun 1920-1970-an. Sementara saat ini peci sudah bergeser seolah-olah hanya yang beragama Islam yang memakai peci.

Bapak ini juga menceritakan orang-orang di Kampung Sawah terlibat dalam perseteruan, misalnya pada saat berkendara di jalan mereka menjadi mudah akur karena menyadari kalau mereka masih bersaudara, nenek moyangnya masih sama. Kesadaran ini membuat mereka cepat meredam pertikaian di antara mereka.
Sejuk sekali hati rasanya mendengar penuturan bapak ini. Percakapan di jalan kecil yang rindang pepohonan di Kampung Sawah kala menjadi pendamping kelompok dan penerjemah untuk pemuka agama dari World Church Organization (WCO), sebuah organisasi oikumene antar berbagai denominasi gereja.

Berbeda bukan hal yang tabu.

Berbeda adalah keindahan.

Berbeda adalah keberagaman yang diizinkan-Nya terjadi. Sebagaimana Ia menciptakan keberagaman flora dan fauna di darat, laut dan air.

Jika Ia, Sang Pencipta Kehidupan saja mencipta dunia dan isinya dalam keberagaman. Siapakah kita, manusia ciptaan-Nya yang berani menistakan keberagaman?

Kalau sedari saya hidup dan membuka mata, saya sudah hidup di tengah keberagaman masak saya harus meniadakan kehidupan saya sendiri demi “keseragaman”?

Di akhir berbagai pertanyaan, pergumulan dan keprihatinan saya terhadap situasi di Indonesia akhir-akhir ini, salah satu cuplikan adegan di film Tarzan yang saya tonton saat kelas 5 SD selalu muncul.

Adegan ketika Tarzan bertanya kepada ibu gorilla, mengapa Kala, sang Ayah gorilla dan kelompoknya membenci dirinya, apakah karena dirinya berbeda?

Lalu ibu gorilla menjawab, “Lihat…apakah yang berbeda dari kita? Rentangkan jari tanganmu, lihatkan jari tangan kita sama meskipun aku lebih berbulu. Kita juga punya dua mata yang sama. Lalu…rasakan degup jantung di dadaku. Bukankah degup jantungku sama dengan degup jantungmu, Nak?”

Di momen itu, Tarzan menyadari persamaan dirinya dengan ibu Gorilla serta bagaimana Ibu Gorilla mengasihi dan menerima dia.

Di momen itu saya menonton, saya menangis tersedu-sedu .

We’re not that difference, dear human.

Sep 13, 2012

Menikah Muda: Sebuah Argumentasi Pribadi


Melihat satu per satu perempuan muda di sekitar saya menikah. Padahal pribadinya belum matang. Ketidakmatangannya berpengaruh ketika nanti punya anak
Melihat dan merencakan foto pre-wedding memang seru, tapi menikah lebih besar konsekuensinya dari itu.
Habis belanja bulanan rumah tangga. Menyadari betapa banyak pengeluaran rumah tangga yang dibiayai orang tua dan saya belum sanggup untuk meng-afford hidup seperti ini
(@anasbubu, 2012).

Saya menulis ini dari sudut pandang pribadi saya menanggapi fenomena dan peristiwa di lingkungan sekitar saya. Saya tidak bicara dari sudut pandang agama. Saya berbicara dari sudut pandang psikologi, ekonomi, dan pengalaman pribadi.

Saat ini saya hampir memasuki usia 22 tahun. Usia yang menurut banyak orang, usia perempuan muda yang sedang ranum-ranumnya. Perempuan muda yang potensial menikah dan memiliki anak. Tak heran jika orang bertemu dengan perempuan seusia saya akan bertanya, “Kapan menikah?”.

Menikah adalah hak setiap orang, menikah muda pun hak setiap orang. Namun alangkah baiknya jika hak ini dijalani atas pertimbangan yang matang dan masak mengenai konsekuensi dari keputusan hidup yang akan diambil.

Saya belum tahu bagaimana proses pengambilan keputusan seseorang sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Hal-hal apa saja yang dipertimbangkannya, hal-hal apa saja yang sudah dipersiapkannya, hal-hal apa yang sudah diantisipasinya. Adakah pemikiran seperti ini selalu dilakukan? Ataukah hanya sudah merasa cocok dengan pasangan, sudah “berumur”, sudah didesak keluarga dan sana-sini untuk menikah atau sudah terlanjur hamil?

Saya peduli pada perempuan-perempuan muda, usia remaja (16-19 tahun) dan usia dewasa awal (20-25 tahun) yang mengambil keputusan untuk menikah tanpa pertimbangan dan pemikiran yang matang. Tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi potensi diri dan dunia sekitarnya. Tanpa pernah menyadari dan mengetahui peluang apa saja yang ditawarkan dunia untuk ia mengembangkan dan memaksimalkan dirinya.

Saya peduli pada perempuan-perempuan muda yang sudah terlanjur menikah dan merasa terjebak pada rutinitas hidup yang membosankan menurut mereka. Membuat mereka menjadi kutu loncat ketika tuntutan peran sebagai istri dan ibu membutuhkan diri yang selalu ada kapanpun dibutuhkan.

Saya peduli pada perempuan-perempuan muda yang tidak berpikir panjang ketika menghadirkan anak ke dunia ini. Ketika anak dipandang sebagai komoditi dan checklist terpenuhinya tuntutan sosial. Padahal mereka sendirinya belum sebegitu tergerak dan terpanggilnya untuk menjadi ibu dan orang tua. Ketika mengurus anak penuh dengan keluhan dan bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial, berpikir bahwa kehadiran ibu yang penuh dan utuh dapat digantikan oleh seorang babysitter dari desa.

Menurut saya, menikah adalah tahap kehidupan yang perlu diambil dengan pertimbangan masak. Terlebih lagi ketika menjadi ibu.  Ibu yang kepribadiannya sudah matang membuat ia memiliki kualitas tersendiri dalam mengasuh dan mendidik anaknya. Kematangan psikologis memang tidak selalu sejalan dengan usia biologis. Namun, kalau usianya saja masih muda kemungkinan besar kematangan psikologisnya pun masih di sekitar usia itu bahkan lebih rendah.

Saya berbicara untuk perempuan-perempuan muda seusia saya yang hidup di zaman ini. Sebab menikah mudah untuk generasi-generasi yang lalu tidak sekrusial saat ini.

Hamil, melahirkan, menyusui, merawat dan mengasuh anak bukanlah kondisi yang selalu nyaman. Seringkali dihinggapi rasa tidak nyaman, sakit, tidak enak, pengorbanan fisik seperti kekurangan waktu tidur, sampai pengorbanan mental di mana harus mengutamakan kebutuhan bayi kecil di atas kepentingan diri sendiri.
Sudahkah mampu menjalani proses menjadi ibu seperti ini dengan kerelaan hati? Menyadari bahwa seluruh ketidaknyamanan dan kesakitan ini dilalui atas dasar pertimbangan matang dan keputusan diri sendiri untuk menghadirkan generasi penerus kehidupan?

Berkaca pada diri sendiri. Saya saja saat ini kalau badan sedang sakit, entah sakit gigi atau PMS, dengan mudahnya saya uring-uringan dan bad mood. Kewajiban belajar sebagai mahasiswa pun bisa saya abaikan dan kesampingkan jika badan dan perasaan sedang tidak enak. Apalagi ketika badan dan perasaan sedang tidak enak lalu harus melayani kebutuhan orang lain. Terlebih melayani kebutuhan bayi mungil-rentan, yang hidupnya amat bergantung pada pengasuhnya.

Saya juga masih ingin bermain-main, jalan-jalan dan bisa membeli barang-barang yang saya inginkan. Berada di keluarga dengan kelas sosial ekonomi menengah, membuat saya belajar membuat prioritas mana yang butuh saya beli, mana yang hanya saya inginkan semata. Termasuk memikirkan bagaimana orang tua saya memenuhi kebutuhan dua anak yang lainnya. Kondisi saya saat ini memberi kemungkinan pada saya untuk sesekali menggunakan uang untuk bersenang-senang.

Coba bayangkan jika dalam keadaan diri masih ingin bersenang-senang, masih ingin membeli hal-hal yang diinginkan, masih ingin memuaskan dan menyenangkan diri sendiri, lalu memiliki anak. Uang yang semestinya bisa dipakai untuk bersenang-senang sendiri harus dibagi dua bahkan dialihkan untuk kebutuhan bayi kecil. Ditambah lagi uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja banyak, apalagi untuk memenuhi kebutuhan tersier?

Berkaca pada pengalaman ibu dan beberapa sepupu yang menunda usia pernikahan hingga masuk ke usia dewasa madya (25-30 tahun). Membuat mereka tidak hanya matang secara usia, tapi juga matang  sebagai seorang individu maupun sosial-ekonomi.

Ibu saya menikah di usia 29 tahun dan memiliki anak pertama di usia 30 tahun. Suatu hal yang aneh untuk orang-orang kebanyakan di tahun 1990-an. Ia menikah setelah berpacaran 6,5 tahun, setelah lulus kuliah dan bekerja, setelah bertemu dengan beragam orang dari berbagai negara. Sewaktu kecil saya melihat ibu saya cenderung lebih tua dan tidak se-fashionable ibu-ibu teman sekolah saya yang mayoritas berasal dari kalangan menengah atas.  

Dulu saya juga berpikir ibu saya kolot dan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Namun setelah melewati masa remaja yang penuh krisis dan mempelajari psikologi, saya jadi menyadari kualitas pola asuh dan penanaman nilai beliau sehingga membentuk pribadi saya seperti yang hari ini.
Ibu mendidik saya dengan nilai-nilai hasil refleksi dan internalisasi diri atas pengalaman hidup yang telah ia peroleh. Ibu tidak mendidik saya dengan “kata orang” atau “kata masyarakat”. 

Ia memfasilitasi dan memberikan ruang pada saya untuk mengenali dan menjadi diri sendiri. Meskipun prosesnya pun tetap tidak mudah. Bahkan ketika ia sedang memarahi atau menegakkan peraturan, ia tetap bertanya pada saya “kalau kamu merasa apa”, “kalau menurut Anas bagaimana”.

Betapa saya merasa penting dan berarti sebagai seorang individu.
Betapa saya merasa penting dan berarti untuk ibu yang menghadirkan saya ke dunia ini.
Betapa ia mempedulikan saya sehingga pendapat dan perasaan saya menjadi begitu berarti baginya.

Padahal dengan pola asuh seperti ini saja, saya masih mudah merasa minder, tidak percaya diri dan tidak merasa dipedulikan (ini mungkin kontribusi pengalaman di kandungan dan posisi sebagai anak pertama yang hanya berjarak 1,5 tahun dengan adik).

Untuk setiap nilai-nilai hidup; nilai-nilai religiusitas maupun nilai-nilai budaya pun ia filterisasi terlebih dahulu sebelum diajarkan kepada anak-anaknya. Tidak ada nilai di budaya atau masyarakat yang ia berikan mentah-mentah kepada anak-anaknya.

Pengaruhnya sangat signifikan terasa ketika saya memasuki usia dewasa awal seperti ini. Menyadari  banyak orang hidup karena “kata orang”, “kata keluarga”, “kata masyarakat” tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengenal “apa kata dirinya sendiri tentang dirinya”. 

Menjadi ibu bukan hanya semata-mata melahirkan, merawat dan memberi makan seorang anak. Ibu memasukkan keseluruhan diri (self ibu); penghayatannya tentang diri dan lingkungan dalam interaksi dengan anak. Pada akhirnya hal ini akan terinternalisasi dan menjadi bagian dari diri (self) anak juga.

Kalau ibunya saja belum yakin dengan dirinya, dengan lingkungannya. Belum matang dalam menyikapi diri dan lingkungannya. Belum yakin dengan  berbagai arus nilai-nilai hidup yang berseliweran di sekitarnya. Bagaimana ia dapat mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang kokoh, solid dan matang? Pribadi yang berkualitas dan berkompeten untuk berkompetisi di dunia global sekarang ini?

Seorang ibu adalah pendidik pertama dan terutama anak. Bagaimana mungkin anaknya bisa terdidik, jika ibunya tidak terdidik?
Ibu berhutang pada masyarakat, sebab anak yang ia didik merupakan bagian dari masyarakat yang akan hidup dan berkembang di masyarakat.
(R.A. Kartini, 1902)

Aug 29, 2012

Tanah Air: Cinta yang Berakar dalam Kesedihan


Oleh Gita Panjaitan
“Kita memuja upacara bendera di istana. Bangga, katanya. Haru, sebutnya. Kaum nasionalis semu bermunculan. Segera menghilang 24 jam kedepan. Sulit bagi saya jatuh cinta pada negara ini, tapi sangat mudah bagi saya untuk terus mencintai tanah air. Kemanapun saya pergi, tanah air: ribuan pulau, jutaan penduduk, beragam budaya, bahasa, kearifan lokal, akan terus memanggil saya pulang.
Dimana lagi ada orang-orang seaneh, selugu, sebodoh, dan semenggemaskan, seperti orang-orang di tanah air kita? Bangga akan bhineka tunggal ika, tapi terus menerus mempertahankan stereotipe negatif, dan diskriminasi terhadap asal suku, agama, dll? Negara kita sakit karena orang-orangnya sakit. Negara tidak akan ada, jika tidak ada orang-orang yang mendirikannya. Tetapi tanah air, adalah sebuah tempat dimana hati kita berada; "Home", istilah yang tidak disediakan dalam Bahasa Indonesia.
Kadang cinta terhadap tanah air menimbulkan kebingungan, karena tampaknya sulit memisahkan "tanah air" dari "negara". Tapi tanah air itu menurut saya sangat mungkin dibedakan dari negara.
Berbicara tentang tanah air, berbicara soal keberakaran. Sebuah keyakinan bahwa saya berasal dari tanah ini. Saya mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal tanah ini. Saya adalah bagian dari tanah ini. Berbicara soal negara itu bicara soal sistem. Sesuatu yang dengan sengaja dibentuk manusia. Sesuatu yang berasal di luar diri manusia. Kita bisa mengatakan bahwa kita adalah manusia Jawa,mencintai budaya Jawa,lahir di tanah Jawa, tanpa berpikir bahwa Pulau Jawa adalah bagian dari Indonesia.”
Semua tulisan di atas hanyalah kumpulan “kicauan” saya hari ini yang dengan rendah hati dikumpulkan oleh Anastasia Satriyo. Sangat tidak bisa dijadikan tulisan ilmiah, karena tulisan tersebut tidak runut. Semua adalah fragmen-fragmen pikiran saya hari ini, tentang kita; tentang Indonesia; tentang tanah air kita yang tidak dapat kita lupakan; tentang negara yang begitu memuakkan-namun tetap diam-diam bersemayam dalam istana hati yang paling megah.
Sejak kecil saya belajar tentang tanah air, tentang tanah yang padanya kaki saya menjejakkan langkah pertama di dunia; dan sumber air yang membasuh tubuh saya yang lengket oleh darah ibu saat ia melahirkan. Kita tidak berasal dari negara, kita berasal dari tanah air. Ketika dilahirkan, kita tidak lahir dan belajar mengenai undang-undang, kita lahir dan belajar berbicara bahasa ibu. Belajar mengenai ayah dan ibu yang berbeda cara berkomunikasinya, belajar mengenal paman yang mungkin tinggal di Pulau Kalimantan dan setia mudik ke Pulau Jawa untuk merayakan lebaran bersama keluarga. Kita belajar tentang Pak Slamet, seorang tetangga yang adalah seorang guru Bahasa Indonesia. Kita belajar tentang Pak Hatorangan yang berbicara dengan nada tinggi saat mengobrol dengan Pak Slamet. Lebih dari semua itu, kita belajar tentang rumah. Tempat asal, tanah air yang namanya Indonesia. Tempat yang sesungguhnya dulu pernah sangat kaya akan perbedaan namun tetap bersih hati oramg-orang kecilnya.
Hari ini, kita bisa menghitung dengan data statistik berapa jumlah orang Indonesia yang pesimis mengenai negara ini. Tapi kita juga bisa menggali dengan wawancara mendalam mengenai kecintaan orang-orang terhadap tanah air mereka. Tentang ribuan pulau dan penduduknya. Tentang interaksi yang membekas di dalam hati. Tentang keinginan untuk pulang di saat berada begitu jauh dari rumah.
Maka, ketika saat ini konsep negara terlihat semakin mengecewakan. Ketika sistem pemerintahan meniadakan aspek kemanusiaan, ketika melakukan sesuatu untuk negara terasa sia-sia bahkan sejak awal perencanaan, mungkin ini saatnya kita berpaling kepada konsep tanah air. Kepada manusia-manusia yang kaya akan aspek budaya dan masih senang tinggal bersama. Kepada senyum ramah satu sama lain saat berpapasan, kepada anak-anak masa depan yang saat ini belum memahami konsep kebencian, korupsi, dendam masa lalu, dan polusi hati.
Saya memang kesulitan untuk optimis, jika membayangkan bahwa suatu hari nanti anak saya akan bertumbuh di negara yang penuh dengan tindakan korupsi. Saya kesulitan untuk optimis, jika anak saya belajar membaca dari koran yang memberitakan pemukulan terhadap etnis tertentu, penggusuran terhadap pemeluk agama tertentu, pemerkosaan, dan larangan resmi pemerintah kepada perempuan untuk mengenakan rok mini.
Kemudian saya memalingkan wajah saya kepada teman-teman saya. Kepada orang-orang yang memperjuangkan hidup bersama dengan mengusung konsep pluralisme, kepada teman-teman saya yang berpacaran dengan etnis yang berbeda dan bersedia belajar memahami budaya etnis pasangannya. Saya melihat secercah harapan bahwa di masa depan masih ada kalian, masih ada orang-orang yang memberikan ruang pada perbedaan, yang saling mengagumi atas dasar cinta. Dan saya masih bisa membayangkan, di masa depan.. keponakan, anak, cucu, dan cicit saya masih bisa menyanyikan lagu yang sama..
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Apr 8, 2012

Aung San Suu Kyi dan Paskah


Beberapa hari terakhir ini film The Lady yang menceritakan tentang potret kehidupan Aung San Suu Kyi ditayangkan di bioskop. Pada hari Sabtu kemarin, saya menontonnya bersama keluarga. Saya tidak tahu seberapa banyak orang Indonesia terutama teman-teman seusia saya yang familiar dengan Aung San Suu Kyi. Kisah hidupnya layak menjadi bahan permenungan bagi kehidupan kita.

Sebelum menonton film ini, saya mengenalnya sebatas artikel di harian Kompas yang beberapa kali memuat berita tentang beliau dalam kilasan kawat dunia. Beliau identik dengan gerakan pro-demokrasi di Myanmar. Beliau menjadi oposisi junta militer yang saat ini berkuasa di Myanmar dan sebagai lawan politik, ia sering menjadi tahanan rumah bahkan penjara.

Ia begitu konsisten berjuang untuk hak asasi, kesetaraan dan kehidupan yang lebih beradab di Myanmar melalui jalan damai. Berbagai foto Aung San Suu Kyi yang muncul di koran selalu menunjukkan wajahnya yang tersenyum sambil mengatupkan kedua tangan di depan wajah.

Entah kekuatan apa yang memberinya daya...

Entah apa yang terbersit dalam dirinya untuk melakukan pengorbanan sebesar itu. Meninggalkan kehidupan aman, tentram dan nyaman di Oxford, Inggris sebagai istri dari dosen, profesor dan peneliti, Michael Aris bersama dua anak laki-laki mereka.  Pada tahun 1988 ia kembali ke Rangoon, ibukota Myanmar.
Berawal dari mengunjungi ibunya yang sedang stroke, kehadirannya kembali di tanah kelahirannya menjadi tonggak pergerakan baru di negara yang diktator untuk gerakan pro-demokrasi.

Ia anak dari Jenderal Aung San yang memerdekakan Myanmar dari penjajahan Inggris. Namun ayahnya dibunuh ketika usianya baru menginjak dua tahun. Semenjak itu, ia dibesarkan oleh ibunya yang juga mengambil alih kepemimpinan partai politik.

Selepas SMA, Aung San Suu Kyi berkuliah di Oxford University, Inggris dan mendapat gelar B.A. untuk filsafat, politik dan ekonomi. Timeline hidupnya secara lengkap dapat dilihat di situs Nobel Prize ini.

Singkat cerita, menonton film ini di pekan Minggu Suci yang berpuncak pada perayaan Paskah membuat saya merasa Aung San Suu Kyi merepresentasikan  santa atau martir di zaman ini.

Kesungguhan hatinya,
Kegigihannya,
Kesabarannya,
Kerelaannya berkorban
Dan cintanya yang begitu besar pada bangsa dan tanah air.

Meski demi mewujudkan cinta dan cita-cita tentang bangsanya ia harus rela berpisah belasan tahun dari suaminya. Ia tak dapat mendampingi langsung tumbuh kembang anak-anaknya. Bahkan ia tak dapat mendampingi suaminya di akhir hayat hidupnya.

Betapa orang-orang yang dikasihinya dijauhkan darinya demi menggoyahkan misi dan niat mulianya untuk keadilan dan kedamaian di Myanmar.

Entah pergumulan hidup seperti apa yang ia rasakan pada titik-titik hidup di mana ia harus memilih antara keluarga dan negaranya. Pergumulan Yesus di Taman Getsemani yang sesungguhnya terjadi pada kehidupan Aung San Suu Kyi. Getir kebingungan dan kekalutannya tergambar melalui ekspresi dan bahasa tubuh Michelle Yeoh yang sangat apik berperan sebagai Aung San Suu Kyi.

Sedih, getir dan kalut yang tak terkatakan. Sekaligus cinta yang tak terkatakan namun dibuktikan sehingga banyak orang perlahan dapat mengalami buah-buah dari perjuangan dan pengorbanannya.

Bukan perjuangan yang instan memang, perjuangan yang hasilnya baru terlihat setelah belasan tahun. Namun berawal dari kesediaan dan komitmen Aung San Suu Kyi untuk berjuang hingga kematian, seperti yang sudah dilakukan ayah dan ibunya bagi negaranya.

Ia juga menunjukkan sisi keibuan, kasih dan kelemahlembutan yang mengingatkan saya pada sosok Bunda Maria. Seorang perempuan yang berani berkata “Ya” pada rencana Allah meski ia tak tahu apa yang akan dihadapinya. Seorang perempuan yang pasrah dan berserah namun tetap berusaha memberi yang terbaik. Seorang ibu yang harus rela melihat putra yang dilahirkan dan dibesarkannya disiksa dan mati di kayu salib.

Konon, orang baru tahu rasanya menjadi ibu jika sudah menjadi ibu. Paling tidak kalimat “sakti” ini yang sering ibu saya utarakan pada saya jika saya protes akan suatu hal yang menurutnya penting untuk diusahakan.

Jika melihat bayi kecil jatuh, digigit nyamuk atau sakit saja rasanya tidak rela...bagaimana rasanya tercabik-cabik melihat anak yang dikandung dan dibesarkan harus mati di kayu salib dengan disiksan dan dihujat banyak orang?

Banyak hal masih misteri terlebih jika menyangkut cerita yang konon terjadi dua ribu tahun yang lalu.
Namun pesan-pesan perdamaian, kasih dan ketulusan hidup melalui pengorbanan dan perjuangan pada nilai-nilai luhur nampaknya masih berguna bagi kehidupan saat ini. Di era milenium ini, perjuangan ini dapat direpresentasikan oleh sosok Aung San Suu Kyi.

Tak ada manusia yang sempurna. Namun sosok Aung San Suu Kyi dapat menjadi salah satu inspirasi masa kini untuk menyadari makna kehidupan dan transendensi dalam setiap aspek kehidupan. Dunia politik yang tampaknya kotor bagi banyak orang dapat menjadi sarana bagi Suu Kyi untuk menunjukkan bakti, cinta dan pengorbanannya pada bangsa dan negara, pada kesetaraan hak asasi manusia, pada perjuangan membela martabat kehidupan.

Pada akhirnya, bukankah perjuangan terhadap kesetaraan martabat kehidupan dan kemanusiaan merupakan hal yang selalu didengungkan oleh gereja?

Maka di zaman ini jika kalimat “Mewartakan Kerajaan Allah dan kabar gembira” selalu dimaknai untuk menciptakan sebanyak-banyaknya pengikut Kristus agaknya terlalu sempit.  Berbagai metafora, perumpamaan, analogi dan ekspresi bahasa yang terdapat di dalam Kitab Suci tidak terlepas dari konteks budaya, sosial, politik, ekonomi dan hukum pada zaman si penulis Kitab Suci. Terlebih kitab suci yang mengalami proses penerjemahan bahasa berkali-kali tentu mengalami perbedaan atau penurunan makna akibat ekspresi bahasa dan pemaknaan.

Masih relevankah kita menggunakan dogma sebagai kaca mata untuk melihat kehidupan?
Bisakah kita membuka mata pada inspirasi keilahian (transendensi)  yang masih dan sebenarnya ada di kehidupan kita sehari-hari? Bahkan melalui sosok Aung San Suu Kyi yang notabene bukan penganut agama Nasrani.

I see God in every human being” (Mother Teresa).



Selamat Paskah!



                                     Use your freedom, to promote ours (Aung San Suu Kyi)



Di waktu yang bersamaan dengan dipublikasikannya film The Lady, Aung San Suu Kyi pada tahun ini diperbolehkan mengikuti Pemilu dan menjadi kandidat untuk bergabung dalam parlemen Myanmar. Kelanjutan sepak terjangnya di dunia politik masih akan kita saksikan dalam hari-hari yang akan datang.

Gambar dipinjam dari sini

Feb 19, 2012

Maret, Indonesia Kirim PRT dengan “Bungkus” Baru

Ilustrasi TKI PRT di Malaysia (dok pribadi)

"Pemerintah telah terjebak pada kenikmatan pengiriman TKI PRT ke luar negeri. Hasilnya, pemerintah lemah dalam memberikan perlindungan" - Jumhur

Surat kabar Malaysia The Star (8/2/2012) yang mengutip informasi dari Persatuan Agensi Pembantu Rumah Asing Malaysia (PAPA), memberitakan bahwa aliran kedatangan maid atau pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia secara resmi akan dimulai lagi bulan maret 2012.

Keputusan pengiriman diatas merupakan usaha pengiriman resmi pertama semenjak penghapusan moratorium pengiriman PRT oleh Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali pada Desember lalu.

Walau belum ramai yang membicarakan hal ini di Malaysia, agak-agaknya keputusan ini akan menjadi berita baik bagi para calon majikan di Malaysia dan calon pekerja asal Indonesia yang sudah saling ketergantungan.

Indonesia memang dikenal sebagai pemasok utama tenaga kerja PRT di Malaysia, selain negara Filipina dan Kamboja. Namun selama 2 tahun ini, banyak kesempatan PRT Indonesia yang telah diambil alih oleh tenaga kerja asal Kamboja akibat kekosongan PRT resmi asal Indonesia.

Menariknya, walau sempat terjadi kelangkaan PRT resmi atau legal selama dua tahun, permintaan akan tenaga kerja Indonesia di sektor ini tetaplah tinggi. Tingginya permintaan di bidang ini di sebut-sebut disebabkan oleh kesamaan budaya yang memudahkan komunikasi dan adaptasi antara majikan dan pekerja, bahkan adaptasi antara pekerja dan anak majikan.

Beda PRT Dulu dan Sekarang

Ketergantungan yang sudah ada ini tentu memaksa kedua pemerintah untuk memecahkan kebuntuan hal ini.

Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar yang di kutip Kompas (4/1/2012), Indonesia hanya akan mengirim PRT yang masuk kategori pekerja formal. Artinya pekerja-pekerja PRT yang akan datang Maret ini akan mendapat pengakuan jam kerja, ibur, gaji minimum, perlindungan sosial seperti asuransi dan jaminan keamanan.

Jika hal diatas diterapkan dan di monitor secara serius seperti yang di beritakan (biasanya awalnya aja..) maka PRT Indonesia akan semartabat dengan PRT asal Filipina yang selama ini terkenal didukung dan dilindungi secara penuh oleh pemerintah Filipina melalui Kedutaan Besarnya.

Tentu, tuntutan diatas tidaklah tanpa imbalan. Pihak Malaysia juga mengharapkan PRT Indonesia mempunyai kualitas yang tinggi.

Presiden Asosiasi Pembantu Rumah Tangga Malaysia mengakatakan bahwa PRT yang datang ke Malaysia Maret ini harus lulus dari 200 jam pelatihan di Indonesia.

Permintaan diatas adalah wajar, karena banyak kasus kekerasan terhadap PRT Indonesia disebabkan hal-hal kecil, seperti tidak pahamnya bagaimana menyalakan mesin cuci dan menyalakan lampu.

Akankah Pengiriman PRT dari Negeri Kaya Ini Akan Berhenti?

Melihat situasi yang ada, rasa-rasanya pemerintah Indoensia akan terus mengirimkan TKI PRT ke Malaysia dalam bentuk dan status apapun. Pemerintah sudah terbuai nikmatnya mengirim TKI. Dengan mengirim TKI, tenaga kerja di Indonesia terserap dan tiap bulannya perputaran uang dari negara tujuan juga sangat kencang. Ini kenapa sampai sekarang TKI masih di sebut sebagai pahlawan Devisa. Jadi susah untuk benar-benar lepas dari mengirim tenaga kerja non-professional ke luar negeri.

Menurut kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Jumhur Hidayat yang di kutip Media Indonesia (5/7/2011), sebelum dihentikan, pemerintah mengirim TKI PRT sebanyak 400 ribu per bulan. Sekarang, setelah memoratorium dihapus ada raturan ribu yang sudah menunggu untuk kembali ke Malaysia, seperti yang di kutip Jakarta Post (16/1/2012).

Memberdayakan TKI PRT

Ratusan ribu orang yang sudah menunggu untuk menjadi TKI PRT menunjukan dengan jelas kegagalan pemerintah menciptakan lapangan kerja, kegagalan pemerintah memberdayakan manusia Indonesia dan kegagalan pemerintah memberdayakan TKI yang sudah kembali ke tanah air.

Mengirim TKI PRT seharusnya bukan menjadi sebuah hal yang abadi!

Diharapkan peta jalan (road map) pekerja domestik 2017 yang di garap kementrian tenaga kerja dan transmigrasi untuk menghentikan secara total pengiriman TKI PRT mengcakup bagaimana memberdayakan TKI PRT baik yang masih bertugas di luar negeri dan yang sudah kembali tanah air.

Menurut hasil pengamatan penulis terhadap sejumlah TKI yang sedang bertugas di Malaysia, banyak dari mereka mempunyai semangat, impian dan niat belajar yang tinggi. Banyak juga yang berkeinginan membangun Indonesia dengan kemampuan mereka.

Kementrian tenaga kerja dan transmigrasi diharapkan bekerja sama dengan kementrian-kementerian lain (seperti kementrian pendidikan, keuangan, koperasi dan UKM, pembangunan daerah tertinggal, dll ) untuk memberdayakan para manusia indonesia ini.

Salah satu bentuknya adalah program pelatihan wira usaha, pentingnya menabung dan lain-lain yang serupa. Hal ini penting untuk mempersiapkan para pekerja ini dari sekarang, di negara kerja mereka, untuk siap bertahan hidup dan menjadi mandiri di Tanah Air. Dengan menjadi pengusaha, lapangan kerja diharapkan akan tumbuh dan dapat menyerap pengganguran yang ada.

Namun semua rencana diatas akal gagal jika tidak ada political will dari pemerintah pusat. Contohnya, adanya minat membuat usaha, tanpa dukungan stimulus bank dan daya beli masyarakat, sama saja bohong. Apakah pemerintah benar-benar ingin memberdayakan manusia Indonesia?

Apa lah jadinya nanti, yuk mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang!

Salam,

Felix Kusmanto

Tulisan ini juga di publikasikan di blog pribadi saya http://felixkusmanto.com/

Feb 15, 2012

Tuhan Memang Satu, (lagi-lagi) Kita yang...

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama...”

Sekali lagi lagu ini terngiang di kepala saya. Kali ini saya tidak sedang berdiskusi atau mengobrol dengan klien. Tidak juga sedang sekedar berbincang dengan teman. Sebaliknya, saya sedang duduk di kamar saya, sendiri.

Sekali lagi pula lagu ini mengingatkan saya akan isu kepercayaan kepada Tuhan, seperti tulisan saya sebelumnya. Dengan Tuhan yang dipercayai ada, masih banyak masalah yang membuat manusia tidak bisa bersama. Hanya karena cara mencapai Tuhan yang berbeda.

Bukan, bukan agama yang saya maksudkan. Cara mencapai Tuhan tidak harus dengan agama. Bahkan agama yang sama saja seringkali menempatkan dua orang manusia di jalan yang berbeda. Oleh karena itu, di sini saya melihat cara orang mencapai Tuhannya, bukan agamanya.

Saya pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang berbeda agama. Kami sama-sama percaya Tuhan itu ada, namun dengan cara mencapai Tuhan yang berbeda. Dengan pegangan dan jalan yang berbeda menuju Tuhan, banyak hal yang terpengaruh dan semakin menunjukkan bahwa kami tidak sejalan.

Saya juga pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang memiliki agama yang sama dengan saya. Namun agama yang sama pun tidak berarti memiliki jalan yang sama untuk mencapai Tuhan. Saya berjalan di koridor yang santai, perlahan, dan cenderung konservatif. Sedangkan ia berjalan di koridor yang lebih menggebu, lebih berenergi, lebih modern. Tidak, saya bukan mengatakan salah satu dari koridor itu lebih baik dari koridor yang satu. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Namun tetap saja, kami berjalan di koridor yang berbeda, dan tidak ada yang mau mengikuti yang lain, untuk berjalan bersama.

Kemudian saya teringat perkataan seorang teman. Kami pernah membahas penting tidaknya mencari pasangan hidup yang seagama. Argumen saya, pasangan hidup haruslah seagama, karena jika tidak, banyak hal yang akan menjadi hambatan. Salah satu contohnya adalah pernikahan, apalagi di negara ini.

Namun argumen teman tersebut juga membuat saya kembali berpikir. Pertanyaan dan perkataannya menyentil saya. Lalu kenapa kalau tidak seagama? Memangnya dalam mencari pasangan hidup, kamu mencari cinta atau agama? Kamu mencari pasangan yang dapat mengerti kamu dan mau berkembang bersama kamu, atau mencari orang yang berjalan bersama di koridor untuk mencapai Tuhan? Karena agama adalah masalah personal. Antara diri kita pribadi dengan Tuhan.

Lalu saya hanya diam, tidak bisa menjawab. Saya tersenyum kecil, dan tetap tidak bisa menjawab. Hingga saat ini. Atau mungkinkah memang pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijawab? Kembali, saya tersenyum.

Feb 5, 2012

Kultur Bicara dan Para Pendiam

Saya sadar saya bukan orang yang paling outgoing. Justru sebaliknya, saya hampir-hampir hermitic, kerap menolak dengan sopan ajakan teman untuk keluar rumah, untuk entah kumpul-kumpul, pesta dan lainnya. Saya juga bukan orang yang paling banyak bicara, sebaliknya saya bisa jadi orang yang paling diam di ruangan penuh manusia. Mungkin banyak yang akan bertanya: lho, kalau keluar rumah saja jarang, bicara saja jarang, lalu bagaimana dengan kesempatan saya melihat dunia luar, networking dengan teman baru, mencari pengalaman lain? Eits, tentu saya melakukan itu semua, hanya saja bukan dengan cara yang konvensional ("Halo! Saya Gilang, senang bertemu dengan anda!")

Tertutup? Pemalu? Menarik diri? (atau yang lebih parah) Egois? Sombong? Wah, tidak terhitung banyaknya label yang diberikan social circle kepada saya, tapi satu label yang paling bisa saya terima adalah introvert. Percayalah, saya bukan alien dari planet lain, hanya introvert (walau memang ekstrem, Introversion saya selalu di batas tertinggi kalau dites berbagai self-report, dari Big Five, 16PF, MBTI ataupun Keirsey Temperament Sorter. Selalu mentok. Pas. Maksimal.)

Seperti yang diutarakan di atas, sejak kecil introversi saya dianggap agak 'aneh', saya pun diberi label macam-macam. Padahal, saya sendiri melihat wajar-wajar saja: social skills saya tidak rusak, interaksi saya normal, tidak agoraphobia, bukan juga antisosial yang diam-diam menyimpan dendam pada masyarakat (lalu membunuhi mereka, seperti kasus penembakan di Columbine atau kampus Virginia Tech, eh kok jadi serem), dan yang terpenting: PASTI bukan saya sendiri yang memiliki preferensi untuk menyenangi kesunyian dan waktu untuk berdiam diri. Bias kepada kami para introvert, mungkin sedikit banyak terjadi karena masalah kultur. Kultur kita adalah kultur bicara, kultur 'makan-tidak-makan-asal-kumpul', kultur nongkrong, kultur arisan. Masyarakat kita menjunjung tinggi kolektivitas, bukan individualitas. Dari sini kemudian muncul bias terhadap mereka yang punya preferensi lain. Nah, kalau judulnya saja sudah kultur, berarti tidak bisa dilawan dan sedikit banyak harus dihormati. Saya sendiri sesekali mengalah dan meninggalkan preferensi pribadi demi terjaganya hubungan interpersonal atas nama tradisi dan kultur: menghadiri pesta, nongkrong bareng, ikut arisan, reunian dan segala macam social events lain. Walau kalau disuruh memilih, saya lebih senang keep-in-touch dengan teman/keluarga lewat cara yang lebih personal, lebih tenang dan tidak kolosal nan epik seperti kumpul-kumpul itu.

Bagian yang paling membebani dari menjadi seorang introvert mungkin ini: diam dan tenang kami kemudian diasumsi bermacam-macam oleh orang lain yang tidak mengerti. Diam kami lalu diisi dengan judgment beragam, “dia marah ya? Dia bete ya?“ Tidak. Hanya diam mencari sedikit kesunyian. Masa iya tidak boleh? Dunia itu berisik. Saya percaya kata-kata ini, kalau menurut buku Quiet karya Susan Cain, ekstrovert mendominasi 2/3 penduduk dunia (ataupun kalau bukan individunya, ya pembicaraan mereka), jadilah kebanyakan dari perspektif dan cara pandang yang berseliweran di dunia itu dari para ekstrovert. Standar sosial di kultur kita juga biasanya adalah standar ekstrovert. Standar seperti, kesopanan, misalnya: saya ingat selalu disuruh keluar kamar untuk menyapa dan berbasa-basi ke setiap tamu yang datang ke rumah oleh orangtua saya. Atas nama kesopanan. Sekalipun si tamu tidak ada kepentingan, bahkan kenal juga mungkin tidak dengan saya. Nah, ini bagian sulitnya, ketika preferensi pribadi mesti dibenturkan dengan norma yang lebih tinggi dan mengatur. Dan kultur kita (serta kultur timur pada umumnya) punya luar biasa banyak detail soal interaksi sosial. Segalanya diatur, dan kita diekspektasi untuk mengikuti standar tersebut (apalagi saya tumbuh di kultur Jawa yang kental, yang segalanya mesti 'orang lain dulu, diri sendiri belakangan'). Padahal tidak bisa disamaratakan semua orang punya ruang gerak pribadi yang terbuka: yang setiap saat, setiap waktu harus mau dimasuki orang lain. Beberapa ada yang personal space-nya lebih terjaga, yang mesti dengan persiapan jika bertemu orang: tidak bisa spontan, tapi apa boleh buat.


Jadilah para introvert memang mesti dengan lapang dada mengikuti aturan-aturan sosial itu, terlebih di kultur yang tukang ngumpul ini, yang segalanya gotong royong, bahu-membahu, dan atas nama solidaritas ini. Sedikit annoying memang, tapi mau apalagi, toh by default, manusia itu makhluk sosial. Maaf kalau sedikit naif dan simplistik, tapi lagi-lagi penyesuaian diri memang penting. Banyak orang menganggap remeh yang namanya personal space dan energi interaksi, padahal ini penting. Kalau memang bisa, beri sedikit aturan pada hidup pribadi, ini lebih baik daripada mesti tiap hari berpura-pura, pasang senyum palsu, bicara basa-basi, padahal dalam hati dan kepala, "capek banget nih." Saya sering membuat kesepakatan dengan teman-teman mengenai 'jadwal-tidak-mau-diganggu' saya. Di waktu-waktu tersebut, saya tidak mau menerima telepon, email, atau bentuk komunikasi apapun. Saya rasa pembatasan saya itu masih cukup wajar (untuk konteks Indonesia, yang terlalu individual sedikit saja biasanya dibilang egois.) Tapi kalau sampai berlebihan, ekstrem menutup diri juga agak mengganggu sih, terlalu reclusive. Rasanya kok seperti berteman dengan Batman, misterius banget.

Tulisan ini bukan justifikasi perilaku saya (lagian juga apa yang mau dijustifikasi, jadi introvert kan bukan kriminal). Introvert-ekstrovert ini sebenarnya teori super jadul, tapi agak lucu hingga sekarang beberapa orang masih belum mengerti kontinuum sederhana ini (iya, bahkan mereka yang kuliah psikologi), entah memang tidak tahu, memilih untuk taken-for-granted, atau apalah yang jelas saya tergelitik, karena jarang yang membicarakan ini dalam konteks budaya Indonesia. Yang lebih mengagung-agungkan mereka yang ceplas-ceplos, serba terbuka dan banyak bicara, mereka ini lalu diasosiasikan dengan hal-hal positif: menyenangkan, ramah, ceria. Sedangkan kita yang lebih tenang diasosiasikan lebih 'buruk': terlalu serius, cemberut, bahkan ya itu tadi, egois atau sombong. Kalau kami para introvert bisa mengerti aturan dan kultur yang serba ekstrovert ini, inginnya sih kami dimengerti balik.


Anggap saja tulisan ini menyuarakan suara para introvert lain yang mungkin enggan angkat bicara. Jangan khawatir, kami tidak selamanya diam: teman-teman introvert saya banyak yang luar biasa dalam public speaking dan performance kok, bahkan yang cerewet di keseharian pun ada. Dan kalaupun kami tidak bicara secara kasat mata di depan orang banyak: banyak introvert yang memilih mengkompensasi itu lewat cara lain. Menulis, komposisi lagu, melukis, atau menikmati hal individual lain-lain, yang jelas ujungnya kan bicara, dan itu tidak mesti lewat mulut.




*Introversi itu beragam bentuknya, bahkan masih jadi perdebatan sampai sekarang. Kalau diatas saya bicara soal personal space dan energi dalam berinteraksi, itu cuma salah dua model introversi yang paling dikenal. Banyak buku dan artikel berseliweran mengenai kontinuum ekstrovert-introvert. Walau saya sih belum menemukan yang menyangkutkan ini dengan konteks budaya kita.

Jan 26, 2012

Indonesia Tionghoa dan Identitas


Sampai hari ini, masih banyak pihak yang mempertanyakan loyalitas kelompok Indonesia Tionghoa pada negara ini. Pada banyak kesempatan, mereka disamakan dengan orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negara. Diumpamakan sebagai tikus di lumbung padi yang akan menjadi orang pertama yang melarikan diri jika terjadi kebakaran di lumbung padi. Pada perumpaan yang sama pula, mereka dianggap sebagai orang yang hanya mengeruk keuntungan dan kekayaan dari negara yang mereka tinggali tanpa merasa perlu berkontribusi bagi pembangunan negara ini.

Entah anggapan ini benar atau tidak, namun banyak orang sampai hari ini masih salah kaprah. Etnis Tionghoa di Indonesia dianggap sebagai satu entitas yang homogen (Tan, 2008). Padahal etnis Tionghoa di Indonesia sangat heterogen dalam hal sosiokultural dan geografisnya, termasuk keberagaman dalam menghayati ke-Indonesiaan. Di satu kontinuum terdapat orang-orang keturunan Tionghoa yang sudah sangat melebur ke dalam budaya Indonesia. Mereka bahkan menjadi pakar dari kebudayaan Indonesia, seperti Melani Budianta, guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Prof. Tjan Tjoe Siem ahli Javanologi yang menikah dengan perempuan Jawa, Junus Jahja ekonom dari Rotterdam yang menikah dengan perempuan Sunda, Go Tik Swan yang ahli batik, Masagung pemilik Toko Buku Gunung Agung, (Alm). Prof. Hembing yang ahli obat-obatan herbal dan masih banyak lagi.

Sementara di kontinuum lain, ada orang-orang keturunan Tionghoa yang masih teguh memegang kulturnya. Mereka dulu mengenyam pendidikan Cina dan masih fasih menggunakan bahasa Mandarin. Saat ini banyak di antara mereka yang menjadi pengusaha besar, seperti Sudono Salim pemilik Salim Group dan Mochtar Riyadi. Generasi penerus mereka kebanyakan bersekolah di luar negeri untuk kemudian kembali ke nagara ini meneruskan bisnis keluarga mereka.

Menurut Mely G. Tan (2008) sebagian besar orang berada di tengah-tengah antara dua kontinum ini. Kondisi ini mungkin yang menyebabkan munculnya kebingungan pada generasi muda Tionghoa Indonesia. Mereka menyadari diri mereka tidak sama dengan kaum Cina daratan yang tinggal di negara Cina. Tapi mereka juga menyadari bahwa diri mereka sampai saat ini belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia.

Kebingungan para generasi muda mungkin juga diperparah dengan ajaran di dalam keluarga yang menanamkan bahwa mereka (Tionghoa Indonesia) berbeda dari orang Indonesia lainnya, terutama pribumi (Komunikasi pribadi, 20 November 2011). Ajaran di dalam keluarga yang seperti ini tak terlepas dari pengalaman para orang tua menghadapi kehidupan yang diskriminasif akibat kebijakan pemerintah Orde Baru.  Walaupun kemudian sejak tahun 2002 Gusdur mencabut SK pelarangan perayaan kebudayaan Cina suasana hidup bermasyarakat jauh lebih demokratis dan terbuka. Tapi tetap saja friksi dan kesensitifan mengenai hal ini masih terasa. Mungkin ini adalah sisa peninggalan “kebudayaan” Orde Baru yang secara sublimatif terpatri di alam bawah sadar masyarakat. Pada kondisi authomatic response atau dalam kondisi tertekan, isu ini masih muncul kuat di masyarakat.

Maka, muncul generasi muda Tionghoa Indonesia  yang gamang  di mana mereka seharusnya meletakkan kaki untuk berpijak. Beranikah mereka berpijak apa adanya pada tanah Indonesia ini atau merasa perlu memiliki kapital sebanyak mungkin agar menjadi orang yang diperhitungkan di negara ini? Jawabannya tentu bergantung pada pemaknaan diri mereka masing-masing sesuai dengan pengalaman hidup dan internalisasi yang mereka lakukan.

Selain dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pemaknaan diri juga dipengaruhi oleh ingatan kolektif dan informasi yang tersedia mengenai sejarah kehadiran Tionghoa Indonesia. Sayangnya, penulisan sejarah mengenai kontribusi Tionghoa Indonesia seringkali diabaikan (“Call to”, 24 Januari 2011). Padahal mereka sudah ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda.

Kapitan Sepanjang atau Khe Panjang (Oey Phan Ciang) memimpin pasukan koalisi antara penduduk Jawa dan Tionghoa menentang VOC. Perang ini dinamakan Perang Sepanjang. Kapiten Nie Hoe Kong merupakan salah satu orang yang mempelopori pemberontakan rakyat Tionghoa terhadap VOC di Batavia. Rumah tempat Sumpah Pemuda dilaksanakan pun milik orang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Pada Kongres Sumpah Pemuda ini ada 700 orang hadir. Namun, hanya 85 yang berani tanda tangan, lima di antaranya adalah pemuda Tionghoa. Saat mempertahankan kemerdekaan ada satu nama yaitu Laksamana Muda John Lie yang belum lama diangkat sebagai pahlawan nasional 

Kontribusi Indonesia Tionghoa pun terus berlanjut pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD'45 terdapat 4 orang Tionghoa yaitu Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat 1 orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian yang meninggal dalam status sebagai warganegara asing, sesungguhnya ikut merancang UUD 1945. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman, pun pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po (Intisari Online, 21 Januari 2012).

Identitas Terbentuk Melalui Interaksi

Di masa reformasi ini,pertanyaan mengenai identitas menjadi relevan kembali. Bukan hanya bagi Indonesia Tionghoa saja tapi bagi seluruh putra dan putri Bangsa Indonesia. Pada generasi muda Indonesia yang hidup di zaman kebebasan informasi dan globalisasi, rasa ke-Indonesiaan bukanlah suatu hal yang dapat diperoleh secara otomatis. Diperlukan usaha terus menerus untuk merefleksikan dan memaknai apa arti menjadi Indonesia bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Diperlukan kesadaran bahwa identitas juga terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, dengan kelompok lain, dengan masyarakat kolektif dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun kehidupan. Maka jika tokoh Psikologi Erik Erikson mengatakan bahwa pencarian identitas hanya terjadi di masa remaja (Identity VS Identity Confusion), sesungguhnya pertanyaan mengenai identitas pada orang-orang Tionghoa di Indonesia terjadi setiap hari di seluruh rentang hidupnya.

Cara mereka mengisi hidup dan mengkontribusikan diri di dalam kehidupan Indonesia mungkin salah satu cara menjawab sekaligus mencari identitas ke-Indonesiaan mereka. Sekalipun mereka belum sampai pada kesadaran ini, mungkin hidup di Indonesia hanyalah sekedar fase hidup yang harus dilalui saja. Seperti orang yang meminum air agar tak mengalami kehausan, namun tak sempat memaknai rasa dan hakikat air itu sendiri.  

Teach Us, Love..


"Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres." [1]

Cinta.
Dulu saya pernah bilang kalau cinta itu ibarat kotoran kerbau yang diberi selai cokelat.
Saya juga pernah bilang kalau cinta bukan sekedar pengalaman pahit.
Tapi karena terlalu nikmat menjilati kotoran kerbau berselai cokelat, saya jadi lupa diri.

Iya. Saya lupa kalau yang saya cintai adalah manusia.
Manusia yang sama berdosanya dengan saya, manusia yang sering lupa diri juga kayak saya.
Saya bahkan lupa kalau dalam doa yang saya panjatkan setiap hari, saya harus mengampuni sesama saya seperti saya diampuni oleh mereka.
Saya lupa kalau mereka ada untuk mengisi hari-hari saya dengan pahit dan manis, supaya tidak terlalu bosan untuk dijalani.

Cinta.
Ketika kamu mencintai seseorang dan ia sedang memenuhi tugasnya untuk mengeksplorasi diri, tak jarang muncul rasa takut bahwa ia akan pergi darimu selamanya.
Rasa takut yang justru mengekangmu dan mengikatmu. Menjerumuskanmu lebih dalam.

"Heaven and hell are right here on earth. Hell is living your fears, heaven is living your dreams. Hell may live within us but so does heaven."  [2]

Untuk apa merasakan neraka yang justru akan lebih dalam menjerumuskanmu?
Biarkan setiap manusia memenuhi tugasnya, dan jangan pernah biarkan dirimu terlelap.
Mencintai bukan tentang memiliki seseorang.
Mencintai adalah tentang berdampingan mencapai setiap mimpi.
Jangan saling menjatuhkan, justru saling membantu.
Berpelukan dan berjalan mengarungi badai.
Bergandengan dan tertawa ketika matahari tersenyum padamu.

"Let love be genuine; hate what is evil, hold fast to what is good; love one another with mutual affection; outdo one another in showing honour. Do not lag in zeal, be ardent in spirit, serve the Lord. Rejoice in hope, be patient in suffering, persevere in prayer. Contribute to the needs of the saints; extend hospitality to strangers. Bless those who persecute you; bless and do not curse them. Rejoice with those who rejoice, weep with those who weep. Live in harmony with one another; do not be haughty, but associate with the lowly; do not claim to be wiser than you are. Do not repay anyone evil for evil, but take thought for what is noble in the sight of all. If it is possible, so far as it depends on you, live peaceably with all." [3]

Mari berdamai dengan cinta.
Mari berdamai dengan amarah.
Mari berdamai dengan diri sendiri.
Love lies within us.

Cinta bukan hanya eros. Cinta adalah untuk alam semesta.

[1] 1 Corinthians 13:4-7
[2] Awakening Heroes Within, Carol S. Pearson
[3] Romans 12:1-2, 9-18

Jan 18, 2012

Ohana


“Ohana means family. Family means nobody gets left behind..... or forgotten.”

Pernah dengar kalimat di atas? Kalimat tersebut diucapkan oleh Lilo dalam film Disney berjudul Lilo & Stitch. Sebuah kalimat yang mendefinisikan keluarga. Dalam bahasa Indonesia, Lilo mengatakan bahwa "Ohana berarti keluarga, dan keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan, atau terlupakan."

Jika mendengar kata ‘keluarga’, bayangan apakah yang pertama kali muncul di pikiran kita? Bagi saya, kata tersebut memunculkan bayangan seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak kecil yang bergandengan tangan. Lebih spesifik lagi, anak pertama berjenis kelamin laki-laki dan anak kedua berjenis kelamin perempuan. Bayangan keluarga yang sederhana, dan menurut saya, sempurna.

Pada kenyataan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seringkali keluarga tidak sesempurna bayangan yang ada di pikiran tersebut. Banyak kasus keluarga yang memiliki masalah. Atau mungkin keluarga kita pun tidak sempurna bayangan dan harapan?

Orang-orang yang disebut sebagai keluarga biasanya adalah orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Entah itu adalah orangtua, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan sebagainya. Namun menurut saya pribadi, keluarga juga termasuk orang-orang yang peduli dan sayang dengan saya.

Kerabat dengan hubungan darah belum tentu peduli kondisi saya. Bahkan dalam beberapa kasus yang saya jumpai, orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, merupakan orang yang lebih peduli dengan keadaan saya. Darah lebih kental daripada air? Tidak juga, ternyata.

Oleh karena itu, menurut saya ohana tidak hanya dalam bentuk seorang ayah, ibu, kakak, atau adik. Tidak juga dalam bentuk seorang nenek, kakek, paman, bibi, om, tante, sepupu, keponakan, dan sebagainya. Bagi saya, ohana juga berupa sahabat dan teman-teman. Dimana tidak ada seorang pun yang ditinggalkan, atau terlupakan. Dimana tidak ada seorang pun yang meninggalkan, ataupun melupakan.

Jan 4, 2012

Jembatan yang Koyak: Ketidaksinambungan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja



Sejak September 2010, Kemendiknas melakukan suatu penelitian untuk melihat keterpaduan pendidikan tinggi dan dunia usaha. Terungkap adanya ketidakpaduan antara dunia usaha dan pendidikan (“Pendidikan Tak”, 2011).  Melihat hal ini sebenarnya bukanlah hal yang mengagetkan. Kita banyak mendengar sulitnya lulusan perguruan tinggi mencari kerja. "Setiap tahun ribuan lulusan perguruan tinggi hanya menambah panjang barisan penganggur intelektual”, demikian pendapat rektor Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, NTT, Pater Yulius Yasinto SVD (“Perguruan Tinggi”, 2009). Menurut versi pemerintah pada artikel “Pendidikan Tak Padu dengan Dunia Kerja” (2011), ada sembilan juta penganggur terbuka,  empat belas persen di antaranya adalah alumni pendidikan setara diploma dan tujuh belas persen setara sarjana.

Sudah saatnya dunia pendidikan berkaca dan berefleksi apa yang sudah dibekalkan bagi para peserta didik.  Apakah kurikulum dan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia-selain mampu membuat siswa-siswinya jago hafalan- mampu memiliki kompetensi yang berguna di dunia kerja.  Sebenarnya, antara dunia pendidikan dan dunia kerja  terdapat hubungan berkesinambungan suatu proses. Dunia pendidikan sebagai hulu dan dunia kerja sebagai hilir. Proses ini seharusnya berjalan seiring sehingga apa yang diajarkan di dunia pendidikan berguna di dunia kerja.  Sebaliknya dunia kerja pun bisa memberikan kontribusi dan umpan balik pada dunia pendidikan. Sekarang ini situasinya para peserta didik di dunia pendidikan mengeluhkan kurikulum dan tuntutan ketuntasan belajar yang berat. Guru dan tenaga pengajar  juga merasa kesulitan memenuhi tuntutan kurikulum yang harus diselesaikan dalam kurun waktu terbatas disertai tugas administratif dari suku dinas pendidikan yang harus mereka selesaikan pada saat bersamaan pula. Informasi ini saya peroleh dari interaksi dengan para guru dalam Pelatihan Yayasan Putera Bahagia (YPB) pada kurun waktu September-November 2011.

Sementara dari sisi dunia kerja mereka juga menyatakan protes dan keheranan serta rasa penasaran dan bertanya-tanya mengenai apa yang sudah dibekalkan dunia pendidikan pada para lulusannya. Sebab mereka menjumpai orang-orang lulusan dunia pendidikan bukanlah orang yang siap bekerja melainkan siap dilatih (“Dunia Pendidikan”, 2011). Akhirnya banyak hal yang sudah dipelajari di dunia pendidikan menjadi mubazir karena tidak terpakai di dunia kerja. Sementara pihak dunia kerja masih harus mengeluarkan waktu, biaya dan tenaga untuk melatih lulusan dunia pendidikan agar mampu bekerja sesuai dengan tuntutan. Belum lagi ketika berbicara tentang ketertinggalan dunia pendidikan dalam mengejar perkembangan dunia kerja yang sangat pesat dalam dekade terakhir ini. Bisa jadi materi pendidikan yang diajarkan sudah tidak lagi relevan dan kontekstual.

                Maka hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja di Indonesia tak ubahnya jembatan yang koyak. Dibilang benar-benar putus juga tidak, tapi tersambung dengan baik pun juga tidak. Berbagai pihak pembuat kebijakan dan pelaksana sampai saat ini lebih sering saling tuding untuk mencari siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap realita ini. Kondisi ini mungkin sama seperti tak ada satu pun pihak yang merasa bertanggung jawab bahkan saling menyalahkan ketika jembatan Kutai Kartanegara runtuh. Para eksekutor di dunia pendidikan dan dunia kerja seumpama kerbau yang dicucuk hidung karena harus tetap menjalankan sistem yang tidak jelas. Korban paling “tersiksa” dan dirugikan adalah para peserta didik yang menjadi objek penderita. Harus menerima nasib ketika kurikulum bergonta-ganti tergantung siapa yang memegang jabatan Menteri Pendidikan. Sekaligus dituntut untuk mampu mentuntaskan kompetensi kurikulum yang berat ini. Tapi pada akhirnya, segala perjuangan untuk memenuhi tuntutan dunia pendidikan pun tidak bisa menjamin para peserta didik dapat menjadi penyintas di dunia kerja. Seperti meniti jembatan yang koyak, orang-orang ini tetap berusaha untuk berjalan, bertahan, bahkan bergelantung di jembatan ini demi mampu menyebrangkan diri dari dunia pendidikan ke dunia kerja. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...