Feb 15, 2012

Tuhan Memang Satu, (lagi-lagi) Kita yang...

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama...”

Sekali lagi lagu ini terngiang di kepala saya. Kali ini saya tidak sedang berdiskusi atau mengobrol dengan klien. Tidak juga sedang sekedar berbincang dengan teman. Sebaliknya, saya sedang duduk di kamar saya, sendiri.

Sekali lagi pula lagu ini mengingatkan saya akan isu kepercayaan kepada Tuhan, seperti tulisan saya sebelumnya. Dengan Tuhan yang dipercayai ada, masih banyak masalah yang membuat manusia tidak bisa bersama. Hanya karena cara mencapai Tuhan yang berbeda.

Bukan, bukan agama yang saya maksudkan. Cara mencapai Tuhan tidak harus dengan agama. Bahkan agama yang sama saja seringkali menempatkan dua orang manusia di jalan yang berbeda. Oleh karena itu, di sini saya melihat cara orang mencapai Tuhannya, bukan agamanya.

Saya pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang berbeda agama. Kami sama-sama percaya Tuhan itu ada, namun dengan cara mencapai Tuhan yang berbeda. Dengan pegangan dan jalan yang berbeda menuju Tuhan, banyak hal yang terpengaruh dan semakin menunjukkan bahwa kami tidak sejalan.

Saya juga pernah mengalami sendiri berhubungan dengan orang yang memiliki agama yang sama dengan saya. Namun agama yang sama pun tidak berarti memiliki jalan yang sama untuk mencapai Tuhan. Saya berjalan di koridor yang santai, perlahan, dan cenderung konservatif. Sedangkan ia berjalan di koridor yang lebih menggebu, lebih berenergi, lebih modern. Tidak, saya bukan mengatakan salah satu dari koridor itu lebih baik dari koridor yang satu. Banyak jalan menuju Roma, bukan? Namun tetap saja, kami berjalan di koridor yang berbeda, dan tidak ada yang mau mengikuti yang lain, untuk berjalan bersama.

Kemudian saya teringat perkataan seorang teman. Kami pernah membahas penting tidaknya mencari pasangan hidup yang seagama. Argumen saya, pasangan hidup haruslah seagama, karena jika tidak, banyak hal yang akan menjadi hambatan. Salah satu contohnya adalah pernikahan, apalagi di negara ini.

Namun argumen teman tersebut juga membuat saya kembali berpikir. Pertanyaan dan perkataannya menyentil saya. Lalu kenapa kalau tidak seagama? Memangnya dalam mencari pasangan hidup, kamu mencari cinta atau agama? Kamu mencari pasangan yang dapat mengerti kamu dan mau berkembang bersama kamu, atau mencari orang yang berjalan bersama di koridor untuk mencapai Tuhan? Karena agama adalah masalah personal. Antara diri kita pribadi dengan Tuhan.

Lalu saya hanya diam, tidak bisa menjawab. Saya tersenyum kecil, dan tetap tidak bisa menjawab. Hingga saat ini. Atau mungkinkah memang pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk dijawab? Kembali, saya tersenyum.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...