Dec 31, 2010

Gadis Bali Asyik Sendiri

Gadis Bali asyik sendiri
Meniti tiang tinggi berdua-dua
Mengaitkan kain batik disekeliling pingggang lentiknya
Siap menari
Memanggil dewa turun untuk diberi makan

* oleh-oleh painting exhibition: Central Park.

Dec 30, 2010

Dear Indonesia

Desember, 2010

Dear Indonesia,

Apa kabarmu?

Senang rasanya pulang. Rasanya udah lama sekali aku pergi. Aku benar-benar rindu melihat wajahmu yang indah. Aku dengar, tim sepakbola nasional-mu meraih prestasi yang menakjubkan ya? Semua orang jadi terbawa suasana ya, bahkan yang biasanya tidak menonton sepakbola pun, jadi ikut menonton. Lucunya. Aku turut senang.

As usual, aku hanya akan berkunjung selama beberapa bulan. Rencananya, aku mau menemanimu bepergian, sambil melihat dan menikmati keadaan pasca-laga tim nasional-mu. Pasti menyenangkan. Imagine apa saja yang bisa kita lakukan!

Wait for me, okay?

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Desember, 2010

Dear Indonesia,

If you’re reading this, artinya aku sudah pergi. Entah kenapa, I knew that I would leave again. Sebenarnya, I really want to stay, but it’s getting hard for me to find a reason to love you. Indonesia, ingat saat kita pertama bertemu? You were strong, passionate, and full of hope. You had a lot of different qualities, tapi semua itu begitu melengkapi kepribadianmu. Together, we accomplished many things. Ingatkah kamu?

Prestasi tim nasional-mu memberi nafas baru bagi hubungan kita. It pains me to see that, dibalik itu, you’ve changed. I miss the old you. I know, ini tidak adil, but I’m going to leave again. I need time to think. Aku butuh waktu untuk mengingat kenapa aku jatuh cinta kepadamu. Suatu waktu, aku pasti akan kembali. Until then, aku harap kamu baik-baik saja, but for now, dear Indonesia.. I’m sorry.

Goodbye,

Nasionalisme

DIAM..

Kebimbangan hanyalah secercah emosi yang tak tampak dengan mata telanjang,,
sisanya tergantung hati yang menyatakan.

Ada kalanya logika harus berdiam sejenak,
biarkan mata terpejam dan gugusan hati akan meyatakan ilham yang tak pernah dirasa sebelumnya.

Ahh,,andai malam tak kelam.
Mungkin tak ada istilah kelabu dalam kosakata bahasa.
dan indahnya pelangi akan terus bersinar
menemani dudukku di atas sebuah ilusi yang terdiam

Aku hanyalah korban.
korban dari sebuah waktu yang tak bertuan
korban dari semua alasan yang ditujukan
korban dari diri sendiri yang tersingkirkan

aku hanya ingin diam...

Desember, kutitipkan secarik kenangan ini kepadamu..

Ada rasa yang berbeda ketika Desember tiba.
Kumulasi kisah sejak Januari hinggap dan membentuk sebuah cerita yang tak pernah kita sadari sebelumnya.
Sejuta pengalaman tampil seperti pahatan karakter yang menyatu dalam pribadi kita.
Pribadi yang tampil berbeda.

Dalam angan, tersimpan senyuman yang tak terbiaskan
senyuman akan tawa, tangis, marah, bahkan cinta.
Kita tak pernah tahu apa maknanya.

Kerinduan semakin mengendap layaknya gugusan.
Menengok kebelakang membuat kita sadar,
bahwa waktu memang tak bertuan.
Takkan peduli ia akan semua kisah kita yang sempurna.

Ada rasa yang berbeda ketika Desember tiba.
Tak ingin rasanya meninggalkan tahun yang menyimpan begitu banyak kisah.
Aku. Kamu. Kita.
Mungkin Desember ini menjadi Desember terakhir sebuah pertemuan.
Akan tiba waktunya untuk menjalin jejak langkah baru dalam sebuah fase kehidupan.

Hai Desember,
ijinkan aku titipkan secarik kenangan ini kepadamu.
Dan indahnya kebersamaan tak akan pernah hilang,
karena tak ada lagi aku maupun kamu.
Ini tentang kita, sahabat...

Dec 22, 2010

sounds of the broken mind

My life seems like a crap
what I've done, it doesn't mean anything to everyone
they'll banish me - oh how dreary!

in fact, I'm too little to do the big things
I'm too less experiences
I'm too less knowledges
I'm too less everything
could u wait for me?
or maybe the proper question is:
could u wait and help me?

please don't be cruel
me, the glass with one-touched-broken

when I looked through the sky
I realized
how tiny I am.. how dreary life is
how cruel everyone is
how I meant to say those words
but I can do nothing.. I'm a trash
I was used, I was dumped, will be recycled.. ready to use again
maybe you
maybe him
maybe her

I just can't say any single word again
I can't paint or even singing my feeling
I used to painting
I used to make a melody
now.. it is black & white
it is inharmonic

would u bring me to the past I used to be?
no, no..
it was past.. can never be fixed..

would u accompany me to get through the sky?

(a great note by Pingkan Sekar Ayu; saya hanya bantu ngepost disini.. :))

Dec 16, 2010

PLEGDE.

meet me and my plastic thought.
about gravity and the inner cloud.
who ever really want it?

hide me behind your perfect symphony.
write me the sound of another tragedy.
would you ever find me?

kill me for our known enemy.
childhood and the verse of remedy.
how can we forget it?

save me and my burden bees.
fantasies, memories, light and speed.
save me.
love me.

Dec 4, 2010

Tidurlah, semoga semua baik-baik saja besok


Semester ini, boleh dibilang adalah semester paling padat, mengerikan, melelahkan, ribet, bikin berantem sana sini, menyebalkan, menguras air mata, keringat, tenaga,dan  uang (nongkrong mulu di Kopi Kepo).
Semester ini boleh dibilang semester dengan perjuangan, yang membuat saya tenggelam dalam dunia tugas, dan sulit mempertahankan hubungan sosial dengan orang-orang di sekitar saya.

Semester ini, di luar dugaan, adalah semester penuh rasa syukur. Semester penuh kejutan, semester yang membuat mata terbuka, ternyata mereka bisa seperti itu.

Semester ini, adalah semester yang tidak akan saya lupakan.
Karena,  banyak pelajaran tentang mereka di semester ini.

Siapa mereka?
Sahabat.

Sahabat, adalah ketika saya menelepon dan meminta hal yang berat darinya, saya memintanya untuk mengcover saya atas tugas yang seharusnya menjadi bagian saya. Ketika saya terlalu frustasi untuk berkata-kata, untuk menyampaikan beban yang ada di hati. Sahabat adalah, ketika ia berkata, "Hei, sudah, tenanglah. Akan kupikirkan caranya." 
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika saya tidak membalas satu pun SMS nya, ia setia mengirim pesan:
           "ayolah. Bagaimana kalau kita tonton Rapunzel?"
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika saya tahu saya harus mengorbankan hal yang penting dan saya putus asa, tahu tidak ada jalan untuk mendapatkan keduanya tanpa mengorbankan salah satu, dan hampir yakin tidak ada yang dapat saya ataupun mereka lakukan untuk memperbaikinya. Tapi sahabat adalah, ketika saya duduk dan berpikir, lalu mereka mengirim pesan:

         "Tenang. Kami berhasil menyelamatkanmu."

Dan ketika saya akhirnya bertanya bagaimana mereka melakukannya, ternyata dengan penuh keberanian dan mempertaruhkan diri mereka sendiri, mereka berbohong. Saya tahu mereka melanggar hati mereka sendiri, saya tahu mereka mempertaruhkan diri mereka sendiri. Tapi itu mereka. Mereka sahabat. 
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika dia memeluk saya ketika saya tidak memintanya. 
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika saya jenuh dan ingin lari. Sahabat adalah, ketika saya kembali, ia berkata, "Kau sudah mengerjakan bagianmu, kalau sudah siap, ayo kita kerjakan bersama lagi. Kalau belum, kami akan menjaga punggungmu."
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika hari akan hujan dan ia tidak akan bisa pulang, namun saya begitu lelah hingga butuh seseorang yang menemani, dan kemudian ia berkata, "Baik. Apa yang mau kau makan hari ini? Ayo cepatlah datang."
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika ia menemani saya menertawakan hal-hal yang tidak perlu ditertawakan. Dan ketika saya bertanya, "apa yang sedang kita tertawakan?" ia menjawab, "entahlah. tertawa saja."
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika saya terdiam, ia datang dan menepuk pundak saya. "Jadi? Ceritakan." Ketika saya bertanya, "Apanya?" Ia mengangkat bahu. "Tidak tahu apanya. Ceritakan saja."
Terimakasih.

Sahabat, adalah ketika semester ini saya menangis keras untuk semua hal yang terjadi begitu beruntun, melelahkan dan membuat saya ingin menyerah, ia mendengarkan saya di telepon bahkan ketika dirinya punya beban yang sama dengan saya, ketika dirinya lelah dan tempat tidur sudah siap dititduri. Sahabat adalah, ketia ia setia  mendengar, dan berkata, "Tidurlah. Semoga semua akan baik-baik saja besok." 
Terimakasih.

Sahabat, adalah mereka.



p.s.
untuk semua yang sedang merasa khawatir, lelah, ingin menyerah di luar sana,
tidurlah teman, semoga semua baik-baik saja besok.
:)

Nov 22, 2010

Lima Detik

LIMA DETIK.

Andai saat itu aku diberi sedikit waktu.
Cukup sedikit, barang sepuluh detik.
Tidak, bahkan cukup lima detik!
Untuk menjaga kewarasanku, untuk mencegah si sehat pergi dari akalku.
Sayang, lima detik nyatanya terlalu berharga untuk kumiliki saat itu.

Andai aku diberi lima detik, mungkin aku tak perlu mendekam dalam sel terkutuk ini selama lima tahun.
Sel yang busuk luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan.
Dengan kecoa busuk, para tahanan bejat, juga para penjaga lapas bangsat!

Lima tahun sudah aku mengutuki lima detik yang tak pernah kumiliki itu.
Lima detik yang seharusnya kupakai untuk menahan semua hasrat dengki dan letusan kemarahan.
Bukan justru menghabisi Yati dan Dhani, istri beserta sahabatku sendiri, yang tertangkap basah sedang tidur di kamar rumahku.

Pukul 1 siang.
Tak lama setelah jam makan siang, aku melangkahkan kaki keluar dari tempat terkutuk ini.
Udara bebas, katanya. Yang bagiku nyatanya tak sebegitu bebasnya.
Siapa aku, yang telah kehilangan lima tahun terakhir dari dunia ini?
Lembaga pemasyarakatan katanya? Rasanya aku semakin dijauhkan dari masyarakat.
Harta? Habis untuk mengurus pengadilan sialan itu.
Keluarga? Tak ada lagi yang menganggap aku keluarga setelah aib yang menggegerkan kampung itu.

Tak apalah, usiaku masih belum terlalu tua untuk memulai kehidupan baru, di tempat baru.
Setidaknya kali ini aku memiliki ribuan bahkan jutaan detik, yang bisa kugunakan sebaik mungkin.
Karena aku selalu percaya, lima detik saja sebenarnya cukup untuk membuat orang menggunakan akal sehatnya.

Namun rupanya itu tak berlaku bagi semua orang.
Herman, kakak Yati, sudah menungguku tak jauh dari gerbang lapas.
Tanpa basa-basi ia menghujamkan pisau tajamnya ke tubuhku belasan kali.
Bajuku bak kanvas merah dibuatnya.
Melihatku terkapar meregang nyawa, ia lari.

Lima detik ternyata tak cukup untuk Herman menggunakan akal sehatnya.
Bahkan lima tahun! Masih tak cukup.

Di penghujung nafas, aku bersyukur siang itu tidak hujan.
Terkapar meregang nyawa, aku masih bisa melihat biru langit untuk terakhir kalinya.
Tak lama, hanya lima detik.
Sebelum mataku tertutup selamanya.

Hanya lima detik.
Yang akhirnya kumiliki.


Jakarta, 22 November 2010
Okki Sutanto.

Nov 16, 2010

Kalau kamu meninggal 6 bulan kemudian

Kalau kamu meninggal 6 bulan kemudian
oleh Gagah Wiarso pada 08 Februari 2010 jam 22:43

apa yang kamu lakukan kalau kamu mati enam bulan kedepan?
entah tidak percaya..
melangkah gontai..
menyumpahi dengan sumah serapah membawa semua binatang di kebun binatang dan selokan
terduduk menyender di dinding
bertanya siapa kamu berkata demikian?
apakah saya sudah layak mati?
dimana Tuhan?
kenapa saya?
apa salah saya?
bagaimana saya terpilih?
tidak orang lain saja?
yang katanya penjahat, koruptor, maling ayam atau mantan pacarku yang tukang selingkuh itu?
apa dengan demikian saya telah menyelamatkan sahabat saya yang sering bersungut sungut mau mati tiap kali selesai ujian, diputusin pacar, gak punya uang, kena macet dijalan, dimarahi ibunya tiap kali salah memilih pacar?

saya harus apa?
menunggu sampai saat itu tiba..
berusaha untuk tidak mati?
bagaimana kalo saya pasti mati?
iya semua orang pasti mati
pada akhirnya tapi tidak dalam 6 bulan ini

coba diulang kenapa saya pasti mati?
iya kamu tidak akan bertahan lama. kamu mengidap penyakit yang telah mencapai stadium akut.
stadium akut? saya gak pernah ke sana.. sumpah. kalo tempat lain sejenis mungkin :P
ah kamu bisa saja bercanda. kamu mengerti kan maksud saya.
iya
...
...
...

kamu di mana?
iya kamu..
list nomor satu di phonebook ku
no 1 di speed dial ku...

tut.. tut... tut..
No yang anda tuju sedang sibuk cobalah beberapa menit lagi...
The number you dialing is out of our coverage are. Please try again later...

SH**T ...

F**CK...

Miss you...

Love you...

Prak....
Dan cellphone itu pun dilempar..
Pecah berantakan dilantai rumah sakit...
Tertunduk lesu pemiliknya...
Tak satupun orang di sekeliling memperhatikan..

Semuanya diam
Sunyi
Sepi
Mencekap

Dan bulir-bulir air mata bercucuran keluar dari mata yang tertutup pelan..
Sebuah tangisan dari dalam hati

"Kamu gak apa apa kan?"
seorang pria datang menghampiri
dia yang ditunggu-tunggu selama ini..

Nov 11, 2010

Have you meet MEGAMIND yet?

Bad. Blue. Brilliant.

Pada awalnya, gw dengan happy nya menunjuk2 poster dan stand (apaan sih itu namanya? yang gede banget di Semanggi itu loh, di deket Centro) yang nmenampilkan film terbarunya Dreamworks, Megamind.

Sekarang setelah gw pikir2 lagi, macam norak bgt waktu itu gw yah.. zzz....
Tapi sebenernya gw senorak itu karena ada alasannya saudara-saudari (alibi mode: ON). Temen gw, yang kebetulan mengagumi seseorang, menjuluki si manis (hoek) itu sebagai "biru". Maka waktu gw melihat tag line nya film animasi garapan Tom McGrath itu nongkrong dengan manisnya di Semanggi, gw langsung nabok2 temen gw (untung nggak ditabok balik) dan bilang, "ITU LOH DIA." karena entah kenapa BAD, BLUE and BRILLIANT itu cocok amat sangat sekali ke si "biru".

Singkat cerita, tanpa perlu perjuangan panjang akirnya gw bisa menarik seseorang untuk menonton film itu di (lagi-lagi) Semanggi. Mau gimana lagi, ini semua demi asas efisiensi dan dalam nama penghematan.. ahahahahhaa...

Film ini bercerita tentang si polos Megamind (Will Ferrel) yang berusaha memperoleh suatu eksistensi diantara teman-temannya. Tapi ternyata keberadaannya selalu tersaingi oleh The Super Power Metroman (Brad Pitt), yang ujung2nya membuat little Megamind menjadi terkucil, the freak and the nerd, yang nggak pernah punya temen meskipun yang diinginkannya hanyalah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.

Film ini mempesona gw dari AWAL hingga AKHIR nya. Kalo bisa rate, gw akan kasih 5/5 untuk film ini, yang seinget gw, terakhir kali gw kasih buat Lord of The Rings: The Two Towers. Film ini membuat gw tertawa terus-terusan, berkata "awww..." "cieee..." dan "eaaaa..." sepanjang film. Didukung dengan crowd yang menyenangkan hari itu di 21 Plaza Semanggi (iya, gw bangga nyebut2 terus.. nggak apa2 khaan... ahahahaha...), jadilah hari itu gw menikmati Megamind dengan amat sangat luar biasa.

Film ini banyak membawa quote2 sederhana yang pada akhirnya membuat gw mikir juga sih setelah menontonnya. Tapi sepanjang film, harus gw akuin gw nggak menguap sekalipun! Konsep yang ditawarkan film ini sebenarnya sederhana, tetapi kuat dalam penyajiannya dan fun dalam penyampaiannya. (Sumpah, ini kalo yang namanya Sugiya Aming (asisten dosen mata kuliah Penulisan Ilmiah) baca tulisan gw, gw bakal dibabat abis untuk semua kalimat kurang cerdas dan pengulangan2 nya.. :P :P

film yang membuat gw tertawa terbahak-bahak, dengan lelucon-lelucon konyol yang nggak maksa dan garing, lucu apa adanya saja dan membuat kita mau nggak mau pasti tertawa. Film yang dalam 3 menit berhasil membuat gw jatuh cinta dan sayang sama Megamind, dan pada akhirnya gw meninggalkan studio 1 dengan keyakinan bahwa hal-hal serupa mungkin saja terjadi di sekeliling kita. Film ini juga berhasil, istilahnya nih, menyatukan orang selama kurang lebih 90 menit. Karena selama 90 menit itu, kita yang tidak kenal satu sama lain bisa saling tertawa, menoleh ke arah masing-masing dan tertawa lagi, melihat ke arah layar, tertawa, melihat ke satu sama lain, lalu tertawa lagi (sampe bego deh begitu terus.. ahahaha.. :P ). Film yang punya kekuatan untuk bisa mendekatkan orang seperti itu, menurut gw adalah film yang punya nilai tambah besar.

Kesimpulannya, cepat-cepatlah kalian wahai teman-temanku di luar sana, bergegas dan rasakan sendiri bagaimana Megamind akan menyihir kalian dalam tawa yang renyah dan menarik kalian pada dunianya yang penuh dengan kekonyolan, rasa cinta, pemikiran dan kerendahan hati.
Go watch it and enjoy!

Rated 5/5


Nov 3, 2010

The Social Network: and 22,138,690 Others Like This

sobekan tiket bioskop tertanggal 13 Oktober 2010 adalah The Social Network. seingat gue, pertama kali trailer film ini muncul sekitar dua bulan lalu, didengung-dengungkan sebagai film tentang proses pembuatan Facebook dan berpusat pada karakter Mark Zuckerberg yang diperankan oleh Jesse Eisenberg. film ini diadaptasi dari buku non-fiksi, The Accidental Billionaries karya Ben Mezric oleh penulis naskah Aaron Sorkin. sementara kursi sutradara diduduki oleh David Fincher, yang sudah kita kenal lewat Se7en, Fight Club, Panic Room, Zodiac, dan yang terbaru, The Curious Case of Benjamin Button.

pada musim gugur 2003, mahasiswa Harvard yang berusia 19 tahun Mark Zuckerberg yang dalam keadaan mabuk dan marah karena berselisih dengan pacarnya, membuat suatu situs jejaring sosial baru. apa yang ia mulai di kamar asramanya, dalam waktu sekejap telah menjadi revolusi baru di dunia komunikasi dan jejaring sosial. ketika situs barunya dipakai oleh sekitar satu juta pengguna hanya dalam waktu beberapa bulan, Mark harus menghadapi harga yang mahal yang harus dibayar oleh kesuksesannya.

kenapa mesti Facebook? mungkin pertanyaan ini pernah muncul di pikiran sebagian orang. menurut gue, mungkin karena akhir-akhir ini pengaruh situs jejaring sosial terbesar ini yang paling kuat pengaruhnya sampai ke dunia nyata. coba ingat-ingat, berapa banyak berita yang anda dengar, lihat, atau baca tentang pasangan yang bertengkar gara-gara salah satu pasangan mengganti status Facebooknya menjadi single, atau tiba-tiba me-remove friend, atau ada yang berurusan dengan pihak institusi tertentu dan bahkan kepolisian gara-gara menulis status Facebook yang nyeleneh. itu adalah kisah-kisah yang dialami oleh para pengguna Facebook. nah bagaimana dengan kisah yang dialami oleh si penemu Facebook itu sendiri? seberapa jauh efeknya pada kehidupan nyata seorang Mark Zuckerberg, dan bagaimana dinamika kehidupannya dari titik pertama kali ia mem-publish www.thefacebook.com sampai namanya menjadi hanya www.facebook.com akibat pengaruh dari Sean Parker, seorang penemu Napster (yang, amazingly, diperankan dengan baik oleh Justin Timberlake).

Oct 31, 2010

Untitled

Aku benci ibuku!"

Kata-kata itu terngiang di benakku sepanjang perjalanan ini. Mataku terpana pada pemandangan yang seolah terus berlari dan berlalu dari jendela tempat dudukku di kereta. Ya, sama seperti aku. Aku seolah sedang berlari dari masa lalu.

Aku menghela nafas dan menyenderkan sisi kepalaku pada kaca jendela. Aku merasa sedikit mual dan lelah dengan keadaan ini. Dengan mata yang refleks menutup kelopaknya, aku mulai melukis ulang semua hal-hal yang memaksaku melewati hari ini.

Aku bukan anak yang sempurna, tetapi dituntut untuk sempurna menurut versi ibuku. Betul, ibuku seringkali berkata bahwa tidak apa kurang di beberapa hal. Tetapi, "kurang" menurut versi ibuku. Kekurangan lain yang tidak ibuku miliki tidak boleh terjadi pada diriku, karena itu membuatku tidak sempurna menurut versi ibuku. Dengan kata lain, ibuku menganggap dirinya yang paling benar (benar tentang kebenaran dan benar tentang kekurangan). Dan karena ibuku menganggap dirinya paling benar, aku terkadang merasa ia menjadi takut dengan kata "salah". Aku menangkap beberapa momen di mana aku menunjukkan bahwa ia salah dan ia marah kepadaku dengan menunjukkan kepadaku bahwa itu adalah salahku atau menunjukkan bahwa ia tidak sengaja sehingga itu bukan salahnya. Ia ingin dirinya bersih dari kesalahan.

Bersih. Ya, bersih itu juga menular ke tingkah lakunya. Ia mengharuskan aku seperti dirinya, bersih. Ia selalu mengganti baju atau mandi setelah duduk di ruang keluarga karena ayah sering duduk di sana dengan menggunakan pakaian kantor. Pakaian yang ayah gunakan untuk duduk entah di tempat orang lain yang mungkin berpenyakit, begitu kata ibuku. Ibuku juga selalu mencuci piring dua kali dengan urutan yang sama; dimulai dari piring yang besar, piring kecil, mangkuk, gelas atau cangkir, dan sendok-garpu. Tidak lupa ia membilas keran dengan air setelah proses mencuci selesai. Kebiasaan yang lainnya yang sering dilakukannya adalah membersihkan apapun sebelum disentuhnya, seperti gagang pintu, telepon, dan lain-lain. Dan hal ini tentu juga berlaku padaku. Ibu mengharuskan aku untuk bisa berlaku sepertinya. Baginya, menjaga kebersihan menjadi hal mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Berbeda dengan ibuku, aku merasa terganggu. Bukannya aku tidak menyukai kebersihan. Tetapi, aku merasa ada yang salah. Sejak awal, bagaimanapun ibu menanamkan versi sempurna dirinya dalam diriku, aku tetap diriku. Aku tidak bisa menjadi ibuku. Dan inilah mengapa aku berlari darinya saat ini. Berlari agar aku bisa memulai keadaan yang aku anggap normal. Aku sudah muak dengan keadaan yang ada.

Angin bertiup dari jendela yang dibuka perlahan secara tiba-tiba. Aku membuka mata dan tampak suamiku tersenyum.

"Sayang, aku mau ke WC dulu ya," ia berkata padaku sambil mendudukkan buah hati kami yang baru berumur 3 tahun di pangkuanku dan berlalu. Aku tersenyum dan memperhatikan peri kecilku dengan tangan kecilnya yang samar-samar berlumur cokelat. Aku tersenyum padanya sambil mengambil Mitu* dari tasku dan membersihkan tangannya. Kemudian aku mengambil Antis** dari tasku juga dan menuangkan beberapa tetes di tangannya dan membantunya mengoleskan di seluruh permukaan tangannya. Dan terakhir, aku menuangkan beberapa tetes di tanganku sambil merasakan sesak di dada.

"Aku benci ibuku!"

Kata-kata itu kembali terngiang di benakku. Mataku kembali tertuju pada pemandangan yang masih terus berlari dan berlalu dari jendela tempat dudukku di kereta. Ya, sama seperti aku. Aku hanya seolah sedang berlari dari masa lalu.


-----------------------------------

*Merk tissue basah.
**Merk cairan pembersih tangan



-Jessica Farolan-

Oct 24, 2010

Silent Reflection

A note of silent reflection in the rain.. :P

Sometimes things are easy for us, but hard for others...

Sometimes loneliness teach you many precious things...

Sometimes someone hides his / her feeling so good untill you can't see what it is behind their smile, what it is behind their warm laugh, what it is behind their painful tears, what it is behind their soft expression, what it is behind their harsh words, what it is behind their nonsense attitude...

What you called justice perhaps was an injustice for someone else...

What you called sin perhaps was a blessing for someone else...

What you called death perhaps was actually a life...

What you called patience perhaps means waiting in eternity for others...

What you do see perhaps was unseen for others...

What you do understand perhaps was a big burden of nonsense for someone else...

What you cannot reach might belong to someone else...

What you can dream might be something so luxurious for people who are dreamless...

What you hope for perhaps was an impossibility for someone else...

What you fear of perhaps was a torch of bravery for someone else...

What you don't realize perhaps was understood by others...

Stars maybe countless for you, maybe someone could count them...

Sun may bring new start for you, but rain may clean everything for the others...

Your choice perhaps kill someone out there...
....but could save someone else too in the same time.....

Life could bring you to thousand crossroads,
but you could lead life to one destination...

Understanding is to forgiving,
Forgiving is to loving,
Loving is to living,
and living your life is for everyone else in the world,
whether you realize it or not, whether you know them or not.
You have no idea of whose life you touch tonight,
of whose life yours are intertwined with...

Of thousand possibilities,
either to save...
...to let go...
...to kill...
...to start...
...to end...

or simply to stay stil...
it's yours and your hearts to make...

be wise, people. 
life well, die freely.

Oct 23, 2010

Belajar Dari Hewan



Mengapa Tidak Secerdas Siput ? Menggali Hikmah dari Kehidupan Binatang”,
Betty Y. Sundari & Yuri Ramdho Ganendra           (ZIP Books, Bandung, 2009)



Masyarakat Lebah yang Terpuji
Lebah (Bee)  adalah sejenis serangga yang hidup berkelompok dalam sebuah tempat atau koloni. Biasanya, kita dapat menjumpainya di daerah yang cenderung jauh dari pemukiman penduduk dan berada di tempat-tempat yang tinggi.

Dalam kelompoknya, lebah terbagi menjadi :
v Lebah Ratu yang berperan sebagai penghasil keturunan,
v Lebah Pekerja yang tugasnya mencari makanan, dan
v Lebah Tentara atau Penjaga yang bertugas untuk menjaga keamanan sekitar sarang tempat tinggal koloninya.
Setiap peran dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Sang Ratu merelakan dirinya bertambah gemuk dan gemuk, serta setia untuk menghasilkan telur-telur bakal generasi lebah yang baru. Sementara Lebah Pekerja sibuk berkeliaran mencari nektar bunga untuk dibawa pulang ke sarang sebagai suplay persediaan makanan koloninya. Tidak hanya sekadar banyaknya makanan yang ia kumpulkan, tapi ia pun sangat selektif dalam memilih makanannya. Yang ia hisap hanyalah nektar bunga tertentu saja.
Sementara itu, lebah penjaga yang sekaligus juga sebagai pengasuh, dengan setia menjaga sekitar sarangnya. Apabila ada pengganggu mendekat, dengan sigap dia akan mempertahankan daerah teritorialnya. Jika perlu, lebah penjaga siap mengorbankan dirinya. Seekor lebah apabila menyengat musuhnya, kait penyengatnya akan tertinggal di dalam tubuh musuhnya. Dan biasanya lebah tersebut akan mati. Sebagian lagi dari lebah penjaga sibuk mengasuh bayi-bayi lebah mungil serta membangun sarangnya agar kokoh.
Al Qur’an  mengabadikan kehidupan lebah yang unik ini : ”Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ’buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian, makanlah dari segala (macam) buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). ’Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir. ”(QS An-Nahl ayat 68-69)

Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari mengamati kehidupan masyarakat lebah. Pembagian peran dalam masyarakat lebah tak jauh beda dengan pembagian peran dalam sebuah keluarga. Ada yang berperan sebagai ayah, ibu, anak, dan peran keluarga lainnya sebagai tambahan.
Ibu yang berperan melahirkan generasi baru, ia akan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Tidak hanya sekadar melahirkan, seorang ibu juga bertanggung jawab merawat, mengasuh, dan mendidik anak. Selain itu, iapun memiliki kemampuan untuk mengantarkan putra putrinya menjadi generasi yang unggul, sehat akal, fisik, dan rohaninya sehingga anaknya mewujud sebagai generasi yang religius.
Bagaimana dengan sang ayah? Tentu saja seorang ayah yang baik akan bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan keluarganya. Ia dituntut untuk bekerja keras, cerdas, dan iklas ketika menafkahi keluarga. Tujuannya tidak hanya sekadar mendapatkan materi, tetapi dia akan memilih dan memilah mana yang baik dan halal untuk keluarganya. Ia akan sangat berhati-hati agar apa yang dia berikan kepada keluarganya benar-benar halal karena kelak ia akan mempertanggung jawabkannya dihadapan sang penguasa. Disamping itu, seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab akan berupaya keras untuk mempersembahkan tempat tinggal yang memadai keluarganya.

Ada sebuah pelajaran berharga dari kebiasaan lebah saat ia menghisap nektar dari bunga. Ternyata, setiap kali ia mendatangi bunga untuk menghisap nektarnya, kaki-kaki mungilnya ikut menyebarkan serbuk sari. Saat hal ini terjadi, sesungguhnya ia sedang membantu proses penyerbukan bunga menjadi buah. Jadi, selain mendapatkan nektar dari bunga, iapun memberikan keuntungan terhadap tumbuh kembang bunga tersebut menjadi buah. Dengan demikian, dalam proses tersebut telah terjadi sebuah peristiwa yang saling membutuhkan keuntungan dan kepuasan bagi kedua pihak {win-win}.
Apabila yang dilakukan oleh lebah kita tiru, sesuatu yang hebat akan terjadi. Kondisi alam yang saat ini dinilai telah mengalami banyak kerusakan, sedikit demi sedikit akan berangsur membaik. Kebiasaan mengeksploitasi kekayaan alam dan  sesama manusia tidak lagi terjadi. Kita tidak lagi menjadi otak dibalik gundulnya pegunungan, terbakarnya hutan, dan mengeringnya bumi karena kita sebagai manusia yang berakal mampu menebarkan manfaat seluas-luasnya seperti lebah. Kehadiran kita didunia ini benar-benar menghadirkan karunia bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).
Semestinya kita semakin merunduk karena rasa malu yang semakin berat setelah tahu bahwa lebah yang kecil mungil itu ternyata jauh lebih cerdas kehidupannya. Maha- Karya yang dihasilkannya berupa madu tidak hanya berguna untuk kaumnya, saja tapi juga untuk seluruh mahluk hidup, termasuk manusia. Kitab suci telah menjelaskan tentang madu yang keluar dari perut lebah bahwa sesungguhnya didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Ini adalah sebuah jaminan langsung dari Pencipta.

Bukan hanya madu yang banyak manfaat dan lezat rasanya, ternyata racun lebah-pun memiliki kasiat istimewa yang dapat dimanfaatkan untuk beberapa proses pengobatan. Gourt, seseorang peneliti Prancis menyampaikan hasil penelitiannya yang dilakukan pada tahun 1958. Diketahui bahwa racun lebah memiliki pengaruh sebagai antibiotik atas racun pada seribu simpul saraf dan racun tetanus. Disamping itu, racun tersebut berguna untuk menghalau berbagai macam infeksi penyakit.
Setelah mengetahui hal ini, kita sebagai manusia hanya bisa berucap ”Maha suci Allah yang telah menciptakan lebah. Sungguh tidak ada yang sia-sia dari penciptaanya.”


Semut Yang Kooperatif
Semut (Ant)  tergolong binatang yang hidup berkoloni. Ciri khas dari perilakunya adalah selalu menyempatkan untuk saling bersentuhan saat bertemu dengan sesamanya. Sebagian orang mengatakan bahwa semut tersebut sedang bersalaman. Sesungguhnya mereka bukanlah bersalaman, melainkan saling menyentuh antena sebagai cara mereka berkomunikasi. Semut akan memberitahu semut lainnya apabila disuatu tempat terdapat makanan.

Apabila kita melihat sarang semut yang  biasa berada didalam tanah atau tembok-tembok yang lapuk, kita akan bedecak kagum dan memuji Sang Pencipta karena begitu tertata dengan baiknya sarang itu. Sarang semut mempunyai banyak ruang dan terowongan serta memiliki berbagai fungsi. Ada sarang yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan telur, kepompong atau larva, juga tempat tinggal Sang Ratu Semut, gudang makanan, bahkan ada ruangan khusus untuk menyimpan sampah! Setiap ruangan dijaga oleh semut-senut pekerja. Mereka bertugas merawat semua ruangan yang ada agar berfungsi dengan baik. Selain itu, ada juga semut yang bertugas mencari dan mengumpulkan makanan serta membuat ruangan baru.

Satu hal yang menarik perhatian kita adalah cara semut saat mencari dan mengumpulkan makanan. Selain kita mengenal semut sebagai pekerja yang ulet, ia juga merupakan hewan yang memiliki antena sehingga mampu membaui sesuatu dari jarak jauh. Dengan begitu, ia dapat mengetahui lokasi tempat makananya berada. Kemudian ia akan menginformasikan temuannya kepada teman-temannya. Apabila makannan tersebut terlalu besar atau berat, mereka siap untuk mengangkutnya secara gotong royong.
Semut memang memiliki ukuran fisik yang sangat kecil. Namun, Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa kepadanya terbukti bahwa mulut semut yang kecil itu mampu mengangkat benda 50 kali lebih berat dari tubuhnya!

Masyarakat semut belum berhenti bekerja selama persediaan makanan disarangnya belum penuh. Kalaupun sudah penuh, semut pekerja yang lainnya siap membuatkan ruangan baru untuk menyimpan makanan.
Keistimewaan semut diabadikan dalam Kitab suci. Dengan demikian, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil. Tentu saja yang tampak dari keistimewaanya adalah kebiasaan gotong royong dalam kehidupannya. Kepeduliannya terhadap sesama semut untuk saling membantu menjadi ciri khas yang bisa kita tiru. Sebesar dan seberat apapun pekerjaan yang dihadapi, semut-semut itu dapat menuntaskannya dengan kebersamaan dan kerja sama {team-work) yang baik.

Kebersamaan dan solidaritas yang tinggi terlihat saat semut saling menukar informasi perihal lokasi makanan yang merupakan rezeki bagi mereka. Sifat kedermawanan tingkat tinggi kaum semut ini sepertinya harus kita tiru untuk program hidup kita, yaitu meningkatkan kesejahteraan hidup secara merata.
Kaum semut ini juga memberikan gambaran penting kepada kita bagaimana mereka dapat hidup sehat. Mereka melakukan pemetaan ruang dengan baik dan tepat. Layaknya ahli perencanaan tata ruang yang andal, semut menyiapkan dan membagi ruang sesuai dengan fungsinya. Keteraturan dan kebersihanyapun dijaga sedemikian rupa sesuai dengan standar ideal bagi mereka.

Satu hal lagi yang bisa kita contoh dari perilaku kehidupan semut, yaitu bagaimana mereka rajin menabung. Dalam hal ini adalah mengumpulkan cadangan makanan untuk komunitasnya. Keberadaan mereka di dunia ini tidak menjadi beban bagi mahluk lainnya. Bahkan, kebiasaan para semut ini menabung makanan justru memberi efek manfaat bagi alam. Ternyata, kumpulan makanan yang mereka timbun dapat menyuburkan dan menggemburkan tanah disekitarnya. Apakah tabungan kitapun bermanfaat untuk saudara-saudara kita?



Tikus Sang Koruptor
Di dalam setiap berita televisi ataupun koran tentang para koruptor yang tertangkap dan diadili dipengadilan digambarkan dengan sosok seekor binatang berkerah putih, yaitu Tikus (rat/mouse). Seperti lambang ini diamani oleh semua orang karena memiliki pandangan yang sama.

Tikus yang dinilai rakus sangat pas mempresentasikan seorang koruptor. Hal ini sangat beralasan karena perilaku tikus sering kali merugikan kita dengan cara merusak barang-barang, menggerogoti segala hal yang ditemukan, dan tak jarang merusakan tanaman padi yang siap dipanen. Hal tersebut sungguh merugikan banyak pihak.




Kura-kura si Pencari Aman
Kura-kura  (Turtoise)  selain terkenal sebagai binatang yang paling lamban geraknya, ternyata dia juga binatang yang super hati-hati dan cenderung senang menyendiri (soliter). Tubuhnya yang lunak terlindungi oleh baju cangkang yang keras.
Kura-kura sangat berhati-hati saat akan menjulurkan anggota badanya, sekalipun untuk melangkahkan kakinya. Dia akan sabar menunggu lama mengintai dibalik tempurungnya memantau situasi disekitarnya. Ketika situasi dianggapnya aman, barulah dia menjulukan anggota badanya sedikit demi sedikit. Apabila tiba-tiba situasi menjadi tidak aman atau terdapat gerakan asing sedikit saja, secepat kilat dia akan menarik anggota badannya, terutama kepalanya untuk bersembunyi dibalik terpurungnya yang keras .

Jika anda  memaksa kura-kura untuk mengeluarkan kepala dari tempurungnya, anda perlu berjuang keras karena saat itu mungkin saja kura-kura merasa dirinya terancam sehingga tetap menyembunyikan kepalanya. Orang yang sangat mengenal kura-kura akan berusaha memberikan kehangatan kepadanya. Dengan begitu, sedikit demi sedikit ia akan mengeluarkan kepalanya.
Kondisi kura-kura yang seperti itu melambangkan seseorang yang senang mengucilkan dirinya, introvert, dan selalu menolak untuk menyampaikan pendapat. Orang seperti ini senantiasa menyembunyikan dirinya ditempat yang dipikirnya ”aman” dari bahaya sekitarnya. Dia akan sangat berhati-hati dalam melangkahkan kakinya keluar dari ”zona aman.” Dan dia akan secepat kilat berbalik ke dalam istananya jika dirasakan diluar ada bahaya yang siap menerkamnya. Dengan demikian, orang seperti ini akan sangat sulit untuk bergaul dan berbaur dengan sekitarnya.

Perilaku kura-kura ini menggambarkan bagaimana seseorang yang terlalu hati-hati dalam hidupnya. Saking hati-hatinya, dia cenderung lebih banyak menarik diri dari lingkungan, cari aman (safe player) dan banyak bersembunyi di balik perisai keamanannya {comfort zone}. Perisainya itu bisa berupa rumah kebanggaannya, jabatan , keturunan, atau kekayaan.

Seseorang karekter seperti kura-kura biasanya tidak memiliki keberanian menghadapi masalah secara langsung. Bahkan, sebelum masalah itu ada, dia lebih dahulu bersembunyi atau lari dari masalah, atau mencari perlindungan dibalik perisainya. Tentu saja hal ini tidak kita lakukan terus-menerus. Mengapa? Selama kita hidup, selama itu pula kita senantiasa akan berhadapan dengan masalah dan resiko. Justru dengan berani mengambil resiko terukur dan menuntaskan masalah, hidup itu akan semakin maju.



Harimau yang maunya Menang Sendiri
Pernahkah Anda  melihat  Harimau / Macan (Tiger)  saat berburu dan menikmati mangsanya? Saat berburu, harimau akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan mangsanya dan mempertahankan miliknya. Dia enggan untuk berbagi dengan yang lainya. Sangat beda dengan kawanan singa betina (lioness)  yang selalu berburu bersama dan berbagi makanan hasil buruannya itu. Harimau adalah tipikal single-fighter yang mengandalkan ”one man show”, sedangkan singa-singa betina mencerminkan semangat gotong royong yang menghasilkan teamwork yang efektif

Melihat perilaku harimau seperti demikian melukiskan tokoh yang sangat kuat dan serakah. Dia maunya menang sendiri dan jauh dari sifat bijaksana. Jika para pemimpin kita memiliki sifat buruk seperti harimau, akan seperti apakah jadinya negara ini. Sungguh sangat mengerikan. Tirulah keberanian Harimau, tapi jangan tiru keegoisan Harimau. Ingat, tahun ini adalah ”Tahun Macan”... jadi waspadalah...


Kepiting Pendengki
Masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Demikian pula para penduduk di pesisir pantai. Di sela-sela menangkap ikan, merekapun menangkap  kepiting (crab), selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk dijual.
Ukuran kepiting memang kecil, namun rasanya sangat lezat. Siapapun pasti tahu tentang kelezatan kepiting saus mentega, apalagi jika kepitingnya bertelor, dan juga renyahnya kepiting soka yang sedang ganti kulit.

Kepiting-kepiting itu dengan mudah dapat ditangkap pada malam hari, lalu dimasukkan kedalam wadah, tanpa harus diikat. Kepiting yang ditangkap bisa hidup beberapa hari. Keesokan harinya, kepiting-kepiting itu yang telah ditangkap, akan direbus dan diolah menjadi lauk yang siap disantap sebagai menu utama makan pagi, siang, dan malam.

Ada hal menarik dari kepiting-kepiting yang berhasil ditangkap. Sekelompok kepiting yang sudah ada di dalam wadah berusaha keras untuk keluar dari wadah dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun anehnya, para penangkap kepiting yang handal tidak merasa khawatir akan tangkapan mereka dapat kabur, sehingga merasa tidak perlu mengikatnya. Apa yang menyebabkan mereka demikian?
Para penangkap kepiting tahu persis bahwa kepiting  akan selalu berusaha untuk meloloskan diri dari wadah. Namun, mereka tahu betul sifat dasar kepiting. Apabila salah seekor kepiting  hampir dapat meloloskan diri keluar dari wadah, kepiting lainnya berusaha pula dengan keras menariknya lagi untuk kembali kedasar wadah. Begitu seterusnya sehingga tidak ada seekorpun yang berhasil keluar dari tempatnya !

Tanpa kita sadari, kadang-kadang kitapun suka bertindak layaknya seperti kepiting yang pendengki (iri) itu. Seharusnya kita bergembira merespons teman kerja atau tetangga kita yang mengalami kesuksesan. Namun sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Tidak jarang kita malah berprasangka buruk penuh kecurigaan bahwa kesuksesan teman kita itu diraih dengan cara yang tidak benar. Istilahnya ”senang melihat orang lain susah” dan ”Susah melihat  orang lain senang”.

Untuk itu, kita dituntut berhati-hati menjalani hidup ini apalagi jika didalamnya sarat dengan atmosfer kompetisi yang ketat. Biasanya, sifat iri, dengki, ataupun kemunafikan muncul seiring terjalinnya interaksi tanpa kita sadari sebelumnya. Dan tidak jarang, sifat-sifat buruk dapat berhasil ”membunuh” karier dan rezeki kita sendiri.  Dalam hal ini, tidak berarti kita dilarang berkopetisi dalam bisnis maupun bentuk lainnya.
Tentu saja yang menjadi tuntutan adalah bagaimana kita menjalankanya. Sesungguhnya yang utama bukanlah kemenangan. Adapun yang terpenting dari itu semua adalah seberapa jauh kita mengembangkan diri seutuhnya. Jika kita berkembang, bisa jadi kita adalah bagian dari sebuah kemenangan, dan bisa juga bagian dari sebuah kekalahan dalam suatu persaingan. Namun, yang pasti kita adalah ”pemenang” dalam kehidupan ini karena mampu berkembang dan bertumbuh dengan benar.

Jika anda ingin mengenali diri apakah pada saat ini anda termasuk ”tipe kepiting” atau bukan, Anda dapat mengetahuinya dari ciri-ciri berikut ini. Jika anda mengangguk dan mengiyakan bahwa salah satu ciri ada pada anda, berarti jelaslah sudah bahwa anda adlah kepiting itu. Namun tentunya, anda pun bisa berharap semoga tidak ada satu ciri pun ada pada diri anda.

1.     Selalu mengingat kesalahan orang lain (pendendam), bahkan senang menyalahkan orang lain ataupun situasi yang sudah lampau. Lebih lagi, menjadikannya sebagai pedoman dalam menentukan tindakan atau langkah selanjutnya.
2.     Banyak mengkritik orang lain, tapi tidak terima dikritik dan jarang sekali introspeksi (mawas diri).
3.     Hobi menceritakan kelemahan & kekurangan orang lain (bergossip), tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik ”kepiting-kepiting yang akan keluar dari wadah” (tidak rela, bahkan berusaha menggagalkan sukses orang lain) dan melupakan usaha penyelamatan dirinya sendiri.

Alangkah berbahayanya sifat dengki ini sehingga kita diwajibkan untuk melakukan introspeksi diri, jangan-jangan kita sudah terjangkiti ’Virus’ mematikan ini. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan. Asalkan kita berniat kuat untuk melakukannya, bukan tidak mungkin pertolongan Tuhan pun turun untuk kita.
Rasulullah SAW menasehati kita melalui hadits berikut ini, ”Jauhilah sifat dengki, karena dengki memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR Abu Dawud)

Jika kita kembali pada cerita kepiting-kepiting yang tertangkap itu, sebenarnya mereka bisa keluar dari wadah itu semua dan selamat dari panasnya air rebusan. Andai saja mereka berjiwa besar untuk melakukan proses pelarian, tentu saja satu persatu dapat keluar dari wadah. Jiwa besar yang mereka miliki akan melahirkan keinginan besar untuk saling tolong-menolong dan mendahulukan orang lain.
Coba renungkan, berapa waktu yang anda pakai untuk menggosipkan teman kerka, atasan dan bawahan? Gantilah waktu yang anda habiskan itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri anda untuk menjadi pribadi yang sukses dan bahagia.



Kutu Kucing yang patah semangat
Kutu Kucing  (Cat’s flea)  adalah hewan kecil yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi jika dia dimasukkan kedalam sebuah kotak korek api kosong dan kemudian dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinngi tubuhnya tiba-tiba hilang. Mengapa?

Inilah yang terjadi. Ketika kutu itu berada didalam kotak korek api, dia mencoba melompat tinggi. Akan tetapi, dia terbentur kotak korek api. Dia mencoba lagi, dan terbentur lagi. Begitulah seterusnya sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Diapun mulai berfikir dan berbicara sendiri, ”sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya setinggi ini.”
Kemudian kutu itu menyesuaikan lompatannya dengan ruang tempat tinggalnya. Dengan begitu, dia makin yakin saja bahwa kemampuannya melompat hanya sebatas tinggi ruang tinggalnya.
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih saja merasa bahwa batas kemampuan lompatannya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutupun hanya seperti itu hingga akhir hayat. Dan pada akhirnya, kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak sama sekali. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.
Sesungguhnya di dalam hidup kita banyak terdapat ”kotak korek api”. Misalnya, kita harus berhadapan dengan atasan yang tidak suka melihat bawhannya maju. Dia akan berusaha keras menghambat karir kita sebagai bawahannya. Ketika kita mencoba melompat tinggi dan berhasil, dia sama sekali tidak memberikan pujian, malah sebaliknya, dia merasa tersaingi. Dia bagi diri kita bagaikan ”kotak korek api”, dia membatasi ruang gerak keberhasilan dan dapat mengerdilkan kita.
Bagi pasangan suami istri, pujilah pasangan anda karena keberhasilannya dalam menjalankan kewajiban. Dan bagi para orang tua, jangan lupa untuk selalu memuji buah hati yang berprestasi. Walaupun dalam sebuah hubungan terdapat kekurangan, fokuskan kelebihannya karena kekurangan-kekurangan itu bisa jadi seperti ”kotak korek api” yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk berkembang.

Contoh ”kotak korek api” lainnya adalah teman kerja. Ketika teman kita melihat diri kita yang begitu giat bekerja, dia bisa saja melontarkan pendapatnya bahwa segiat apapun kerja kita, sesungguhnya hal itu tidak akan menyebabkan gaji kita meningkat dan karier kita menanjak. Kehadiran teman kerja bagi kita bisa jadi bagaikan ”kotak korek api” yang akan menghambat perkembangan potensi prestasi kita.

”Kotak korek api” yang sering ditemui dibumi Indonesia tercinta ini adalah ketika seorang wanita bergerak untuk maju dan menemui hambatan. Seorang wanita dianggap memiliki langkah yang pendek dan tidak layak melangkah lebih jauh lagi. Urusan wanita hanyalah seperti ”dapur, kasur, dan sumur”, seperti itu pula anggapan yang dapat mengerdilkan keberadaan wanita.

”Kotak korek api” juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, keturunan, kemiskinan, usia, dan lain sebagainya. Apabila semua itu menjadi kotak korek api, dia akan menghambat prestasi sehingga kemampuan kita yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.

Apabila potensi kita yang sesungguhnya ingin muncul, kita harus take action untuk menembus kotak korek api itu. Kita pasti mengenal Helen Keller. Walaupun dia seorang yang buta, tuli, dan gagu, ternyata dia mampu menyelesaikan pendidikannya di Harvard University. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi ”raja” komputer. Andrie Wongso tidak menamatkan sekolah dasarnya namun dia mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia.  Contoh lain adalah mantan Menteri Negeri BUMN, Sugiharto, yang pernah menjadi pedagang asongan, tukang parkir, dan kuli dipelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus maju. Bahkan, sebelum menjadi Menteri beliau pernah menjadi seorang eksekutif disalah satu perusahaan ternama. Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi Presiden Afrika Selatan pada usia 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran Fast Food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.

Nah, apabila kita masih terkungkung oleh kotak korek api, pada hakikatnya kita masih terjajah, belum merdeka sepenuhnya. Orang-orang seperti Helen Killer, Andrie Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan ”kotak korek api”. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan. Break your border, touch the sky!

See You Around

LYSA (Let Your Spirit Arise)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...