Nov 26, 2011

Go, (Try to) Fake A Smile!


Fake smile. Senyum palsu.

Katanya senyumku palsu. Benarkah?

Ah, sok tahu dia. Mana mungkin senyumku palsu. Aku tidak pernah tersenyum pura-pura.

Tahu apa dia? Katanya aku sebenarnya menutupi kesedihanku dengan senyum. Lihat, sok tahu sekali, bukan?

Memang apa yang harus aku sedihkan? Aku baik-baik saja. Memang ada beberapa masalah, tapi kan bukan berarti bahwa aku harus sedih. Betul kan?

Ah, baiklah. Aku akui memang hatiku sedang sedih, tapi kan bukan berarti aku harus terus memasang wajah sedih.

Hmm... baiklah. Aku mengaku lagi. Mungkin aku memang tidak sebahagia yang aku tampilkan. Eh, tapi siapa sih yang benar-benar bahagia dan tersenyum senantiasa? Pasti tidak ada.

Ya habis bagaimana, hatiku terluka. Tentu saja aku sedih. Apakah hatimu pernah terluka? Sakit, bukan?

Apa? Kenapa terluka? Kau ingin tahu? Tidak, aku tidak ingin menceritakannya. Itu juga bukan masalahmu kan?

Aku tersenyum, justru karena aku sakit, teman. Tidak tahukah kamu bahwa senyumku ini untuk menutupi sakitku? Aku tersenyum, agar air mata ini tidak menetes...

Apa? Menyedihkan? Memang, menyedihkan. Oleh karena itulah aku tersenyum. Agar sedih ini dapat sedikit lebih baik. Agar sakit ini sedikit bisa kulupakan. Agar dunia tidak tahu betapa sedihnya aku sebenarnya.

Ah, akui saja. Kamu juga merasakan hal yang sama kan? Kamu juga punya rasa sakit yang kau coba untuk dihindari, atau mungkin kau lupakan. Mari, kita tersenyum bersama. Nah, sekarang, bukankah dunia terlihat sedikit lebih menyenangkan?

Lihat, kau pun tersenyum sekarang. Coba rasakan, apakah sakit itu masih sama?



-inspired by facial feedback-

Nov 25, 2011

Yang Dipaksa Diam

Siang dan malam diciptakan bergantian
Sedang senja begitu pendiam
Saksi kekal kala siang kelelahan
Kemudian mengalah,
Mempersilakan malam unjuk kebolehan

Sama seperti lelaki dan perempuan
Katanya diciptakan berpasangan.
Senja masih saja diam,
Kali ini tidak menunggu salah satu pihak mengalah
Hanya merindukan kejujuran:
Bahwa jantung Rian berdebar kencang kala melihat Rahman,
Bukan Dian.
Dan senja masih saja dipaksa diam
Kali ini, bahkan dipaksa tiada.

Nov 23, 2011

Empat



Empat raga, satu tempat.

Duduk bersama, mencoba berbagi rasa.

Masing-masing membawa luka dan cerita dibaliknya.


Empat raga, empat topeng berbeda.

Mencoba menutupi luka dengan senyum, berusaha tertawa.

Satu berkata, tak bisakah kita bersikap apa adanya?


Empat raga, satu tujuan.

Menghilangkan sesak yang terasa di dada.

Dua berkata, bolehkah saya bercerita?


Empat raga, empat cerita berbeda.

Mencari jawaban atas segala rasa sakit yang ada.

Tiga berkata, kenapa rasa sakit ini ada?


Empat raga, satu usaha yang sama.

Memaksa diri kebal akan luka yang menganga.

Empat berkata, tak adakah cara untuk menutupnya?


Tak adakah yang bisa melenyapkan luka?

Tak bisakah kita berkumpul bersama dan membakarnya?

Tak mungkinkah luka itu dibuang dan dilenyapkan begitu saja?



Nov 22, 2011

Aku Ingin... Bolehkah?


Siapa aku? Tak usah menanyakan namaku. Aku hanya sebuah benda, yang mungkin tak berdampak besar bagi dunia. Tapi aku punya cerita.


Pemilikku, ia adalah seorang gadis. Aku dipeluk olehnya sejak ia berusia lima tahun. Ya, lima tahun. Gadis kecil yang memelukku itu telah beranjak dewasa. Setiap malam, ia selalu memelukku.

Aku dapat merasakan perasaannya ketika ia memelukku. Pelukannya saat panik, pelukannya saat sedih, pelukannya saat takut. Ya, aku sangat mengenalnya.

Hingga suatu saat, ia memelukku sambil memegang ponselnya. Beberapa kali kurasakan pelukannya menguat, dan ia tersenyum. Ah, senyum itu, senyum yang sudah lama tidak kulihat. Senyum yang hilang sejak pemilikku kehilangan kekasihnya, beberapa tahun lalu. Jangan tanyakan apa penyebab ia kehilangan kekasihnya. Jangan membuatnya membasahi aku dengan air matanya lagi.

Sekarang, tiap malam, ia punya rutinitas baru. Ia akan berbaring di ranjangnya sambil memelukku dan melihat ponselnya. Ia akan tersenyum lebar, lalu memelukku makin erat. Mengetik di ponselnya, menunggu, lalu tersenyum kembali ketika ponselnya bergetar.

Kata temannya, ia jatuh cinta. Ah, jatuh cinta. Apa itu? Begitu menyenangkan kah rasa itu?

Harapanku cuma satu.

Aku hanya ingin berjumpa dengan lelaki itu. Lelaki yang membuatnya tersenyum setiap malam. Aku hanya ingin berpesan kepadanya untuk menjaga gadisku itu. Menjaganya untuk tetap tersenyum dan memelukku erat seperti malam kemarin. Menjaganya agar tidak kembali membasahi aku dengan air matanya. Menjaganya dengan sepenuh hatinya.

Aku mungkin bukan siapa-siapa. Aku tak berjasa besar. Aku bukan pahlawan. Tapi aku tak mau lagi dibasahi air mata. Aku suka senyumnya dan pelukannya yang seperti ini. Aku hanya mau merasakannya setiap hari. Bolehkah?




Nov 20, 2011

Lima Rasa


Pahit, asam, manis, asin, umami
Mereka tak berdiri sendiri
Yang satu menopang yang lain
Mereka berbagi lahan di lidah
Memberi ruang satu sama lain untuk menguasai
dan menonjol di satu area
tapi tetap bekerja bersama-sama

Kemudian datang pedas,
Yang membakar dan mengambil semua lahan
Yang membuat semua papila berdenyut dan bekerja
Tak ada pergantian, tak ada istirahat
Terbakar... padahal tak ada api
Meledak...tapi tak ada petasan apalagi bom
Lalu di mana?

Bahkan tak seorang pun bisa memberikan bukti
Bahwa keserakahan, penindasan dan ketidakadilan pernah ada di sana.
Entah takut, bungkam atau kebal.

Yang masih tidak suka pedas hingga hari ini
Penghargaan terhadap pelajaran Psikologi Umum tentang “Senses”
Metafora atas ketidakadilan di tanah Indonesia

Nov 18, 2011

Kawan Lama

Senyap itu kembali datang, ketika hujan urung bertandang dan jangkrik tertidur sebelum mengerik. Bukan, bukan sepi yang berisik. Bukan pula sepi yang memekakkan telinga. Tapi sepi yang kosong seakan ruang hampa udara ada di sekitarmu. Ia hanya tak berwujud dan enggan mewujud karena kosong telah lama menjadi wujudnya yang enggan kau kenali.

Pernah aku berteman dengan senyap, berkawan bahkan bergandeng tangan, tapi kemudian ia menghilang digantikan suara-suara yang enggan padam. Pernah aku berteriak, mencari dirinya di segala penjuru ruang, tak kudapat juga. Entahlah ia bosan atau bertemu teman barunya, yang jelas aku mulai tertawa di tengah riuh tawa dunia dan berteriak serta bersorak di dalam suasana gempita.

Tapi kali ini, di ruang yang hingar bingar oleh desis kipas angin dan kecakan cicak yang tak henti lewat, sang senyap memasuki ruangan membawa tatapan rindunya yang dalam.

Bukan aku tak siap dengan kedatangannya, bukan pula enggan menyambutnya. Hanya saja sudah lama tak kulihat perawakan menarik yang selalu kupandang asing ini. Lembut aroma rambutnya ketika tertiup angin menggetarkan jiwaku, hangat sentuhan tangannya yang seakan penuh kasih menghangatkan ariku. Setiap inci sentuhnya pernah tertinggal di masa lalu. Ya, dulu. Aku pernah begitu lama mengenalnya, bahkan pernah menjadi bagian dirinya. Aku mengenali setiap gerak-gerik tubuhnya, kerling matanya, senyum nakalnya, serta ide-ide yang ia bawa bersama otak cerdasnya. Aku mengenalnya lebih dari mengenal diriku sendiri. Aku bahkan pernah berpikir, mungkinkah senyap adalah diriku sendiri?

Senyap melangkah dengan penuh percaya dirinya, senyumnya terjepit di antara pipi, ia melangkah ke dekatku, menarik kursi dan.. Sst… senyap sekarang duduk di sebelahku, tepat sebelah kiri. Ia menatapku lamat-lamat, tatapan lekat yang seakan tak akan pernah beranjak. Tak hanya itu, ia menyondongkan tubuhnya ke arahku, harum wewangian kosongnya bisa kurasakan menjalar masuk ke dalam rongga hidungku. Hembusan nafasnya terasa hangat, di sini, di pipi kiriku ini.

Aku merasakannya. Ia Mendekat. Mendekat. Erat, melekat. Menyentuhkan bibirnya rapat ke bibirku, bibirnya terasa hangat dan empuk. Kami berciuman, ia meninggalkan kursinya dan bergerak ke arahku. Tangan kirinya merangkul pundakku, dan tangan kanannya menyentuhkan diri ke dadaku, menekan terus ke dalam dada. Aku tersentak, mataku terbuka lebar; jari-jari tangan kanan senyap menembus kulit dan tulangku. Ia mengambil sesuatu dari rongga dadaku. Entah apa. Aku bisa merasakan jarinya mengorek sesuatu, sesuatu yang keras. Sesuatu yang tersangkut tepat di dadaku. Sesuatu yang besar yang membuat nafasku tahun-tahun lalu kian memendek.

Jemari itu sekarang terasa menggenggam sesuatu, di kepalan tangan kanannya itu. sementara mataku… aku terbelalak begitu lebar, warna merah,jingga, kuning, dan hitam semua berputar dalam ruang pandang. Telah kulepaskan ciumanku. Kini mulutku ternganga sempurna. Aku gamang. Kehilangan makna, tak bisa menjelaskan rasa lewat kata. Tak terbayang di bumi ada aksara. Tak lama ditariknya tangan tersebut keluar dari dadaku, sebuah batu berwarna merah marun. Ya, sebuah batu Kristal berwarna merah marun. Aku terpana. Tapi hatiku dipenuhi perasaan lega. Nafasku panjang. Begitu lapang. Begitu tenang.

Aku masih bersender di bangkuku. Tidak berdaya, memandang ke arah sang senyap yang senyum nakalnya masih terlihat, di ujung sadarku yang mengelam, tak begitu lama kudengar tawanya membahana “Halo teman lama, sudah lama kita tak berjumpa”

Masih di dalam warna jingga yang menghitam. entah terdengar atau tidak tapi hatiku berbisik lega: “senyap, kini aku mengerti apa yang kurasa; engkau rinduku yang sempurna”. Dan bahana tawa senyap menyisakkan pusing di kepala sebelum akhirnya aku terjatuh ke tanah.

Senyap, terima kasih untuk kebebasan dari sesak.

Sang Penari: Pagelaran Tari Budaya dan Politik

Adat istiadat memang tidak pandang bulu. Apalagi jika adat istiadat yang sedianya berlangsung secara turun-temurun tersebut ada di sebuah desa pedalaman di Indonesia tahun 1960-an. Kemiskinan dan gagal panen yang melanda desa kecil tersebut pun semakin menjustifikasi warga desa untuk bersandar pada hal-hal supranatural. Dengan kepercayaan animisme dan nilai tradisional yang kuat, warga pun rela meninggalkan logika demi memuja sang adat dan tradisi. Situasi menjadi semakin kompleks ketika modernitas yang datang dengan deras menyerbu nilai tradisional. Para pelaku adat pun segera membangun tembok setinggi mungkin, dengan dalih pribadinya telah menyatu dengan adat. Lalu bagaimana dinamikanya? Kira-kira ini yang ingin diangkat oleh sutradara Ifa Isfansyah dalam film terbarunya, Sang Penari.

Di dukuh (desa) Paruk tahun 1960-an, hiduplah sepasang sahabat yang tumbuh bersama; Rasus (Nyoman Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution). Dalam perkembangannya, ternyata mereka saling menyimpan perasaan terhadap satu sama lain. Tetapi percintaan mereka terhalang oleh kemampuan Srintil menari. Warga desa pun percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng (penari desa), dimana tidak semua orang bisa menjadi ronggeng. Dukuh Paruk yang terus menerus gagal panen memang sedang membutuhkan seorang ronggeng untuk memberi warna dan semangat bagi warga desa yang mulai putus asa. Namun untuk menjadi seorang ronggeng dukuh, Srintil - dan tubuhnya - akan menjadi milik warga desa. Rasus yang mengetahui tradisi tersebut tidak terima jika Srintil bagaikan "pohon kelapa yang seenaknya dipanjat berbagai orang". Dalam keputusasaan, Rasus pun meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi seorang tentara. Jaman bergerak, politik tahun 1965 pun bergejolak. Saat-saat dimana Rasus dan Srintil harus memilih untuk loyal pada aset sosial atau mengikuti perasaan masing-masing pun tiba. Sadar tidak ada jalan tengah dari dilema tersebut, mereka pun harus memilih salah satunya.

Menurut istilah yang digunakan oleh pembuat film, cerita dalam film ini "terinspirasi" dari novel trilogi karya Ahmad Tohari; Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus di Dini Hari (1984), dan Jentera Bianglala (1985). Sekarang, trilogi novel tersebut telah digabungkan menjadi satu buku dengan judul "Ronggeng Dukuh Paruk" dengan menyertakan detil-detil cerita yang telah disensor selama lebih dari 20 tahun. Ya, di masanya novel ini dikategorikan sebagai karya sastra yang kontroversial. Selain karena dibilang terlalu vulgar dan seronok, Ahmad Tohari juga berani menyinggung gejolak politik Indonesia tahun 1965. Meskipun dengan dibuatnya film ini merupakan sebuah resiko tersendiri bagi produser Shanty Harmayn, yang juga ikut menulis naskah dari film ini. Kembali ke inspirasi, trio penulis naskah yang juga menggodok Garuda di Dadaku (2009), Ifa-Shanty-Salman Aristo tidak terlalu setia pada novelnya. Garis besar cerita memang mengikuti cerita arahan Ahmad Tohari, namun trio penulis ini mengubah beberapa detil cerita. Toh perubahan ini tidak sedemikian signifikannya, selama makna dan maksud dari penulis novel masih pararel dengan pembuat film.

illecebrosus retinentia



illecebrosus retinentia adalah spesies serangga dari ordo odonata (capung) yang terbang rendah di sore berangin itu. Yang menghampiri cangkir kopi saya, lalu hinggap di sebelahnya. Saya menunggu di teras depan kedai kopi, persis seperti pesan anda kemarin malam.

Di telepon kemarin, kami berbicara berjam-jam, berusaha memadatkan tahun-tahun yang hilang dalam satu percakapan panjang. Nyatanya, kami memang melulu dikejar waktu, kalau tidak untuk kemarin itu, kami tidak akan punya kesempatan 'tuk bertemu. Di akhir percakapan, anda berjanji untuk menemui saya esok sore.

Jadi disinilah saya duduk menunggu, membunuh waktu di kedai kopi sudut jalan itu: tempat favorit anda yang pernah saya tahu. Serangga itu juga di sini -- duduk diam seakan menikmati angin sore itu yang memang menenangkan -- sebelum akhirnya mulai mengepakkan sayapnya, terbang ke telinga kiri saya, pelan berkata,

"Yang ditunggu tidak 'kan datang. Tidak hari ini, besok, ataupun lusa. Tidak pula untuk jutaan tahun mendatang. Mari, bergegaslah pulang."

Saya beranjak berdiri seraya menyaksikan serangga itu menjauh pergi dan lenyap di balik matahari. Sejak itu tidak pernah ada lagi catatan tentang spesies illecebrosus retinentia.

Atau sekedar kabar dari anda.




(disusun tergesa dari fragmen memori)

Nov 16, 2011

Omah SiMbok: a place where urban people take some rest while they're longing for their own paradise

Jl. Kemang Raya 72E


Visualisasi sungai dalam kehidupan urban people dan sawah surganya SiMbok

'Kaga Ada Matinye' dan ruang pamer produk Omah SiMbok, Onion, d

Sekitar empat hari yang lalu, saya menghadiri acara soft opening Kemang Raya 72E, tempat yang biasa saya sebut Omah SiMbok kini resmi diperkenalkan kepada masyarakat. Berdasarkan undangan yang saya terima lewat email, acara akan diisi dengan pembukaan fashion store yang memamerkan karya Onion dan gantibaju.com, workshop "Archetypal Brand Identity Workshop For Starting Up Business", dan perayaan kecil bersama Mie Ayam Bang Joni, dan tongseng kambing setelah itu.

Walau kemacetan bagai banjir yang menghadang dan langit mendung menggelayut di atas kota Jakarta, saya tetap datang karena penasaran dengan konsep "Longing For Paradise" yang menjadi tema soft opening Omah SiMbok malam itu. Setibanya saya di depan ruko bertuliskan "Jl. Kemang Raya 72E", saya tertegun sejenak. Kenapa tiba-tiba ada sawah di tengah kehidupan sosialita Kemang? Dan kenapa pula TV di bagian depan ruangan malah menghadap ke luar jendela dan memutar video air terjun?

Ternyata semua kebingungan saya adalah bagian dari konsep 'Urban and Longing for Paradise' yang diusung oleh Omah SiMbok. "Setelah hutan ditebang, muncullah dunia industrial, kicau burung dan airpun hanya dalam ilusi video saja.. tetapi masih ada sedikit sawah dan Omah SiMbok untuk menjaga keharmonisan.. keseimbangan.." Begitu kata Mbak Nani Yugo, salah seorang lay designer Omah SiMbok. Bagi saya, tempat ini merupakan oase di tengah gurun kemacetan Jakarta.

Ruko tiga lantai yang sejak berbulan-bulan yang lalu dicurigai sebagai 'markas gerilya', hari itu disulap menjadi sebuah fashion store yang dipadukan dengan karya seni Awan Simatupang, seorang pematung yang sejak lama melahirkan patung-patung bernilai seni from his loving hands. Salah satu karya seni yang ditampilkan berjudul 'Kaga Ada Matinye' turut menjadi andalan di dalam ruangan pamer toko (dapat dilihat di sini). Kenapa namanya 'Kaga Ada Matinye'? Karena mau dipukul berapa kali pun patung ini tetap dapat berdiri tegak dan tidak jatuh. Terbukti dari semua sisi patung yang sudah ada bekas tonjok dan tendangan, namun ia masih tetap kokoh berdiri. Dan bagi saya pribadi, patung ini menggambarkan mimpi umat manusia sebagai pemicu semangat kehidupan, yang sehar
usnya 'Kaga Ada Matinye'.

'Slentong' atau slendang kantong hasil karya Mbak Nani Yugo, kaos-kaos hasil karya desainer muda Indonesia yang memenangkan kompetisi gantibaju.com, dan kain-kain tenun serta batik turut dipamerkan dan mengundang mata untuk melirik sejenak. Fashion store ini sungguh menggambarkan 'Indonesia' dengan segala idealisme meluap-luap dari anak muda, berpadu dengan ketenangan si Mbok dalam menggoreskan karya dan memadukan warna pada proses membatik, serta kehangatan tangan si Mbok ketika menenun.

Salah seorang idola saya sejak kelas 6 SD ikut mampir ke acara ini dan membeli sebuah kaos Bung Karno hasil produksi gantibaju.com. Jantung saya berdebar-debar dan mulut saya menganga lebar ketika seorang Dennis Adhiswara bergabung dengan kami dalam acara tersebut. Jujur saja, saya mengidolakan dia sejak ia muncul sebagai Mamet dalam kisah Ada Apa Dengan Cinta, sembilan tahun silam. :)

Dennis Adhiswara di fashion store gantibaju.com di FX

Malam semakin larut, ketika saya menutup hari dengan sepiring tongseng kambing dan semangkuk mie ayam sambil duduk di beranda toko. Idealisme dari toko ini sungguh membuat saya tidak ingin pulang, karena suasana yang begitu nyaman seperti rumah sendiri. Saya yang tadinya harus pulang pukul 8 malam, akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah teman saya dan menghabiskan waktu hingga larut malam disana.

Terima kasih Mas Eric yang telah memperkenalkan tempat ini kepada saya. :)


Penasaran dengan 'Kaga Ada Matinye', 'Slentong', dan kaos Bung Karno yang dibeli Dennis Adhiswara? Mari mampir! :)

Nov 14, 2011

Sedap Rasa


Rasa yang sedap dan nikmat telah menjadi incaran manusia sejak dulu kala
Berbagai cara telah dilakukan
Berbagai inovasi terwujud
Sebagai usaha untuk terus menerus menghasilkan rasa yang sedap
Kalau perlu bisa abadi.
Demi mencari apa yang disebut... NIKMAT
Entah darimana asal mula kata ini,
Tapi tubuh manusia telah terlebih dahulu mengenalinya
Sebelum kata menjadi perantara manusia.

Tapi kini keadaan terbalik.
Demi yang nikmat, tubuh dimanipulasi
Titik-titik sintetis...
Bulir-bulir besar semu...
Warna-warna wantex...
Dan bentuk-bentuk lainnya,
Besar-kecil, lonjong-bulat-segitiga.

Tak mau jika tak sedap
....
Memang kata siapa harus selalu sedap?


Muncul permakluman sekaligus maklumat
Yang sedap adalah yang terutama
Lalu lupa.
Sejarah peradaban pertama-tama mencatat nikmat,
Bukan sedap.
Lalu sedap menjadi metafora
Hingga manusia lupa kembali.
Bahwa nikmat tak selalu sedap
Bahwa nikmat butuh proses
Bahwa nikmat adalah setia
Melewati titik kulminasi kesakitan,
Hingga tak ada lagi sakit
Yang ada cinta
Dan cinta itu yang nikmat.
Bukan begitu?
Gambar diambil dari sini

Nov 11, 2011

Menunggu

Benar kata orang kalau menunggu merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan. Bukan hanya itu saja, bagi saya menunggu juga menguras banyak energi, pengeluaran, dan waktu. Ditambah bila yang saya tunggu sebenarnya tidak terlalu penting dan mendesak. Mengatasnamakan kebersamaan. saya meninggalkan suatu yang lebih urgen dan produktif, tapi pada akhirnya menelan kekecewaan.

Untuk saya pribadi pembunuh paling kejam bukanlah pembunuh berdarah dingin, tapi mereka yang sudah memberikan janji namun tidak menepati janji dan atau kesepakatan yang sudah dibangun bersama atas dasar saling melengkapi satu sama lain.

Sebagai teman, seharusnya sudah bisa saling mengenal, percaya, dan dilandasi saling menghargai satu sama lain. sama-sama menghargai kesepakatan yang sudah dibangun bersama. Namun, sering kali suatu hubungan tidak berjalan harmonis justru karena pertemanan yang tidak bisa memegang kesepakatan.

Bukan sebuah alasan di zaman modern ini di mana arus informasi dan komunikasi sudah kian membanjir seorang atau beberapa orang yang kita harapkan hadir justru dengan sadar dan sengaja tidak datang tanpa pemberitahuan. Ironisnya, ke-absen-an disebabkan karena orang cenderung mengikuti naluri kesenangan egosentris. Ia tidak sadar kalau pihak lain punya kesibukan dan keinginan yang sama dengannya namun terpaksa dikikis hanya karena mengutamakan kebersamaan.

Saya percaya umur tidak mutlak menentukan kedewasaan seseorang. Kedewasaan hadir dalam suatu proses ketika orang berhadapan dengan berbagai situasi di mana ia mengambil sikap dan keputusan secara bijaksana dan tidak merugikan orang lain.

Berhadapan dengan orang seperti itu (yang mau selalu ditunggu) saya bertanya dalam hati, apakah naluri kemanusiaannya memudar? Ah, jangan kita memikirkan suatu langkah perubahan besar, jika kita tidak mampu berbuat hal kecil seperti menepati janji saja tidak mampu kita lakukan.

Generasi muda zaman sekarang merupakan generasi nge-bos-i yang bertindak seolah-seolah seperti bos, namun sejatinya bermental hamba. Karena ia selalu diperbudak dengan kesenangannya yang semu.

Kesempatan Kedua


Tak pernah datang maupun pergi.
Sebenarnya kita selalu ada di tempat yang sama, tidak berubah ordinat.
Namun angin-angin di sekitar kita kadang menggoyahkan pijakan kaki.
Memutarkan orientasi.
Hingga limbung dibuatnya.

Mudah sekali melihat titik kesalahan di luar, di sekitar kita.
Padahal bolong, luka menganga terbesar ada di aku.
Entah bagaimana kamu...

Ketika angin pergi dan tak ada lagi yang bisa dipersalahkan di luar sana,
Aku lihat dalam keberjarakkan kita,

Ada jeda.

Spasi yang menghubungkan kalimat

Sehingga menjadi utuh.
Bukan dalam kesempurnaan dan kepenuhan
Tapi dalam penerimaan realita apa adanya.

Jeda sekaligus spasi.

Ditekan kemudian membal...

...Sebuah kesempatan kedua. 

Gambar dipinjam dari sini

Nov 10, 2011

Sadar Dunia

Menikmati kesenangan yang kamu temukan bersama adalah sesuatu yang indah, tapi apakah dalam kesenangan tersebut kamu menyadari sesuatu?


Pilihannya berlarut-larut tenggelam dalam kesenangan itu sampai kamu jatuh

atau

kamu menyadari bahwa dunia tak sebatas itu saja... :)



Terbanglah terus bersama hayalanmu..

Sampai kau lupa daratan..

Lalu terjatuh dan tak bisa bangun lagi...


Teruslah terbuai bersama pikiranmu...

Lalu kau tak dapat mengenal siapa dirimu sebenarnya..


Lupakan segalanya,

Siapkan dirimu untuk pendakian yang lain...

Atau pada akhirnya kau yang akan dilupakan...


Dunia yang pelupa..

Setiap detik dilupakan dan terganti dengan detik yang lain..

Dan kamu terlupa ..


Kau dapat menghentikan dunia...

Buang sejenak pikiran yang tersisa...

Sadari bahwa hadir lain dunia di luar sana...

Yang pasti sama indahnya..

Selamat berjuang temanku...

Nov 9, 2011

Penakut Bukan Pengecut

Aku memang penakut.
Tapi bukan pengecut.

Bagimu mungkin sama.
Bagiku beda.

Aku memang penakut.
Tapi bukan pengecut.

Kejujuran berdiri di tengah mereka.
Jadi pembeda.

Aku penakut, kalau-kalau kamu menghilang.
Tapi bukan pengecut yang sungkan bilang.

Aku penakut, yang takut kamu tak mencari aku.
Tapi bukan pengecut yang malu mengaku.

Terburu-buru

Bunga-bunga mekar, layu seturut waktu
Pengagum diam sesaat, kemudian berlalu
Mengejar apa yang ia kira perlu
Lupa pada waktu
Pada kuntum yang senyumnya membeku


Bunga perlahan layu
Kelopak lemas terjatuh
Takluk pada musim yang menunggu
Pada suramnya gugur yang menuntut


Pengagum kembali, pegang apa yang ia mau
Kemudian diam kesal dan termangu
Bunga tiada, hatinya membiru
Mengumpat si tukang kebun yang sungguh siaga selalu
Kerjanya dinilai tak bermutu
Padahal ia terlalu terburu-buru
Tak sempat congaknya menunduk,
Memandang lurus
pada kelopak kecoklatan yang terinjak sol sepatu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...