Nov 18, 2011

Sang Penari: Pagelaran Tari Budaya dan Politik

Adat istiadat memang tidak pandang bulu. Apalagi jika adat istiadat yang sedianya berlangsung secara turun-temurun tersebut ada di sebuah desa pedalaman di Indonesia tahun 1960-an. Kemiskinan dan gagal panen yang melanda desa kecil tersebut pun semakin menjustifikasi warga desa untuk bersandar pada hal-hal supranatural. Dengan kepercayaan animisme dan nilai tradisional yang kuat, warga pun rela meninggalkan logika demi memuja sang adat dan tradisi. Situasi menjadi semakin kompleks ketika modernitas yang datang dengan deras menyerbu nilai tradisional. Para pelaku adat pun segera membangun tembok setinggi mungkin, dengan dalih pribadinya telah menyatu dengan adat. Lalu bagaimana dinamikanya? Kira-kira ini yang ingin diangkat oleh sutradara Ifa Isfansyah dalam film terbarunya, Sang Penari.

Di dukuh (desa) Paruk tahun 1960-an, hiduplah sepasang sahabat yang tumbuh bersama; Rasus (Nyoman Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution). Dalam perkembangannya, ternyata mereka saling menyimpan perasaan terhadap satu sama lain. Tetapi percintaan mereka terhalang oleh kemampuan Srintil menari. Warga desa pun percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng (penari desa), dimana tidak semua orang bisa menjadi ronggeng. Dukuh Paruk yang terus menerus gagal panen memang sedang membutuhkan seorang ronggeng untuk memberi warna dan semangat bagi warga desa yang mulai putus asa. Namun untuk menjadi seorang ronggeng dukuh, Srintil - dan tubuhnya - akan menjadi milik warga desa. Rasus yang mengetahui tradisi tersebut tidak terima jika Srintil bagaikan "pohon kelapa yang seenaknya dipanjat berbagai orang". Dalam keputusasaan, Rasus pun meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi seorang tentara. Jaman bergerak, politik tahun 1965 pun bergejolak. Saat-saat dimana Rasus dan Srintil harus memilih untuk loyal pada aset sosial atau mengikuti perasaan masing-masing pun tiba. Sadar tidak ada jalan tengah dari dilema tersebut, mereka pun harus memilih salah satunya.

Menurut istilah yang digunakan oleh pembuat film, cerita dalam film ini "terinspirasi" dari novel trilogi karya Ahmad Tohari; Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus di Dini Hari (1984), dan Jentera Bianglala (1985). Sekarang, trilogi novel tersebut telah digabungkan menjadi satu buku dengan judul "Ronggeng Dukuh Paruk" dengan menyertakan detil-detil cerita yang telah disensor selama lebih dari 20 tahun. Ya, di masanya novel ini dikategorikan sebagai karya sastra yang kontroversial. Selain karena dibilang terlalu vulgar dan seronok, Ahmad Tohari juga berani menyinggung gejolak politik Indonesia tahun 1965. Meskipun dengan dibuatnya film ini merupakan sebuah resiko tersendiri bagi produser Shanty Harmayn, yang juga ikut menulis naskah dari film ini. Kembali ke inspirasi, trio penulis naskah yang juga menggodok Garuda di Dadaku (2009), Ifa-Shanty-Salman Aristo tidak terlalu setia pada novelnya. Garis besar cerita memang mengikuti cerita arahan Ahmad Tohari, namun trio penulis ini mengubah beberapa detil cerita. Toh perubahan ini tidak sedemikian signifikannya, selama makna dan maksud dari penulis novel masih pararel dengan pembuat film.

gambar diambil dari sini
Lalu sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Ahmad Tohari yang kemudian divisualisasikan dengan sangat baik oleh Ifa dan kawan-kawan? Disaat banyak resensi film ini yang fokus pada "berani dan lancangnya" Ifa mengangkat sisi lain dari tragedi berdarah 1965, gue malah menangkap hal lain yang lebih mendasar dan sederhana. Tidak sedikit orang yang sudah tahu mengenai kejanggalan G30S/PKI, misteriusnya Supersemar, sampai wacana bahwa PKI adalah korban manuver politik. Masih sedikit karya sastra yang berani mengangkat "versi asli" dari sejarah kelam tersebut. Ifa pun tidak sebegitu beraninya mengibarkan bendera PKI dalam filmnya, nama partai pun disamarkan menjadi "Partai Rakyat" dengan atribut berwarna merah saja. Mungkin karena film ini adalah film kedua yang berani menempatkan kader PKI sebagai korban (setelah Lentera Merah karya Hanung Bramantyo), banyak orang yang hanya fokus pada sub-plot dalam film ini. Padahal sub-plot "Partai Merah" ini hanya digunakan oleh Ifa sebagai hal pemicu konflik pada kisah cinta Rasus-Srintil. Terlalu fokusnya penonton pada sub-plot ini malah mengaburkan nilai utama yang ingin diangkat oleh Ifa; adat istiadat yang mengesampingkan nilai gender dan moral.

Judul dari film ini pun sudah jelas dalam menegaskan dimana titik gravitasi cerita akan diletakkan. Adegan awal dan akhir dalam film ini pun menjadi justifikasi tersendiri dari fokus cerita tersebut. Ya, budaya ronggeng yang kental dengan adat Jawa ini memang terbilang unik. Tarian rakyat yang telah hidup di kalangan masyarakat agraris Jawa sejak abad ke-15 ini awalnya adalah ritual pemujaan terhadap Dewi Kesuburan atau Dewi Sri. Konon, dengan diadakan pagelaran ronggeng, maka dipercaya akan melancarkan panen di musim tersebut. Ternyata ada lagi kepercayaan barangsiapa yang meniduri ronggeng, akan melancarkan pula kesuburan sang pria. Tidak heran jika para istri malah bangga jika suaminya bisa meniduri ronggeng, dengan harapan selanjutnya sang istri akan hamil jika bersetubuh dengan sang suami yang telah "menaklukkan" titisan Dewi Kesuburan. Kepercayaan ini pun tergambar jelas lewat salah satu dialog dan adegan dalam film karya Ifa.
gambar diambil dari sini
Dalam cerita karya Ahmad Tohari, warga Dukuh Paruk yang menderita gagal panen pun sangat menanti-nantikan ronggeng baru setelah ronggeng terakhir tewas karena keracunan tempe bongkrek. Disaat ronggeng baru muncul, Srintil pun diperlakukan bak putri kerajaan. Segala macam perlakuan khusus dilakukan oleh warga dukuh untuk "melestarikan" kesenian ronggeng. Ronggeng diperlakukan bak putri kerajaan. Perawatan tubuh, kamar terbaik, kostum terbagus, semua itu dilakukan (dengan dalih) demi terwujudnya masyarakat Dukuh Paruk yang aman dan sejahtera. Dengan satu syarat, ronggeng Dukuh Paruk adalah milik semua warga, dimana keperawanannya dijual kepada penawar tertinggi dalam tradisi "bukak klambu". Ya, ronggeng Dukuh Paruk tidak hanya diminta memiliki kemampuan menari di panggung, tetapi juga mampu "menari" di atas kasur. Tradisi ini pun dipercaya dapat memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada warga desa - terutama pada laki-laki. Sang ronggeng memang menebar pesona, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Lantas, apa konsekuensinya terhadap citra diri ronggeng oleh masyarakat modern? Lapis berikutnya adalah, bagaimana sang ronggeng menyikapi keharusan bahwa sang ronggeng itu bukan hanya urusan nari tetapi juga "urusan kasur"?

Jujur saja, apa yang muncul di kepala anda ketika melihat seorang wanita cantik menari di tengah-tengah para lelaki yang ikut menari bersamanya, menggunakan kebaya yang memperlihatkan "terlalu banyak", melakukan gerakan tarian yang terbilang erotis, sambil sesekali menggunakan selendang untuk menarik seorang lelaki untuk menari berpasangan? Dengan melihat salah satu adegan di pinggir pantai Pangandaran dalam film 3 Hari untuk Selamanya (2007) saja memberikan pikiran dalam kepala gue bahwa; wah si penari ini adalah topeng lain dari prostitusi. Prostitusi yang disamarkan dalam adat istiadat dan harus dilestarikan demi keberlangsungan kehidupan warga yang damai dan sejahtera. Segala macam pikiran dan perasaan moral yang muncul dari hati nurani sang ronggeng pun digilas dan dileburkan dengan loyalitas untuk kepentingan umum; warga Dukuh Paruk.
Berpakaian sensual, menari erotis, menggoda para lelaki, kemudian berakhir di kasur, demi "kepentingan bersama". Sounds like Moulin Rouge to me. Sebuah tradisi yang "manusia sekali" yang bisa ditemukan dimana saja? Hm.

Kembali ke film, Ifa tampak sukses memotret berbagai lapisan dilema ini akan kesenian ronggeng yang ada di Indonesia. Tidak hanya dilema terhadap perilaku moral vs kepentingan bersama, tetapi juga citra diri kesenian ronggeng yang sempat diasosiasikan dengan ekspresi gerakan "kiri". Salah satu cara "Partai Rakyat" untuk mendapatkan pendukung adalah dengan mendekati masyarakat agraris yang buta huruf dan tidak berpendidikan. Dengan segudang alasan kepentingan rakyat dan memanfaatkan kemiskinan warga, "Partai Rakyat" ini pun dengan mudah memerahkan suatu daerah - bahkan menyusupkan indoktrinasi ideologi lewat orasi dalam pertunjukkan ronggeng. Saking mulusnya pendekatan ini, penonton pun dibuat tidak menduga bahwa kehadiran seorang karakter di awal film ternyata adalah salah satu kader dari partai tersebut. Sayangnya, gejolak politik 1965 di Indonesia yang berimbas pada keberadaan "Partai Rakyat", berimbas pula pada masyarakat desa yang tidak bisa baca-tulis dan hanya dijanjikan kesejahteraan. Korban tidak bersalah pun berjatuhan, kesenian ronggeng pun dicap "kiri".

Potret itu berhasil divisualisasikan dengan baik lewat arahan Ifa. Tangan ajaib Yadi Sugandi sebagai sinematografer memang magis, gambar-gambar yang ada di layar serasa membuat penonton berada di dukuh Paruk, tentunya dengan gaya artistik. Arahan kamera Yadi Sugandi benar-benar menghidupkan atmosfer desa miskin Dukuh Paruk yang kering, namun hangat secara kultural. Setiap set yang ada pun serasa mengingatkan penonton bahwa dulu inilah wajah Indonesia yang terpinggirkan. Kegiatan keseharian masyarakat desa, seperti pembuatan tempe bongkrek, yang diselipkan dalam film ini sukses mengingatkan penonton lokal akan keragaman bangsa yang dimilikinya. Scoring yang mengangkat irama tradisional Jawa pun menambah unsur mistis dan tradisional, sayang penggunaan scoring tersebut tidak konsisten sampai akhir film. Pengangkatan cerita dari novel ke dalam adegan pun cukup mudah untuk diikuti, walaupun setiap adegan tampak berdiri sendiri. Para penulis naskah begitu ingin memasukkan setiap detil penting yang ada, tapi konsekuensinya adalah tontonan film 110 menit ini seperti layaknya rangkaian film pendek yang disambungkan satu sama lain. Penonton memang harus memiliki tingkat konsentrasi yang cukup untuk melihat konektivitas antar-adegan agar dapat memahami jalan cerita. Namun sayang seribu sayang, keputusan Ifa dkk untuk memasukkan adegan ending tersebut sangat dipertanyakan, dimana adegan tersebut malah membuat jalan cerita dan konektivitas dengan adegan sebelumnya menjadi absurd. Tetapi shot terakhir dalam film ini mengobati kekecewaan tersebut, dengan aura magisnya yang membuat penonton secara tak sadar merenungi makna dari film ini.
gambar diambil dari sini
Roh dari film ini tentu saja ada pada pemerannya. Nyoman Oka Antara memang dapat menampilkan seorang pemuda desa yang lugu dan "manut saja". Konflik batin Rasus yang tidak ingin Srintil menjadi ronggeng pun jelas terlihat. Namun entah kenapa ekspresi "ndeso" di beberapa adegan terlihat dipaksakan. Sementara Prisia Nasution cukup melebur dalam perannya sebagai Srintil. Pembuat film benar-benar memanfaatkan dengan baik kecantikan dan kulit sawo matang dari Prisia untuk menjadi seorang ronggeng cantik yang bisa menghipnotis penonton, baik penonton tari di dukuh maupun di bioskop. Rumit dan campur-aduknya perasaan Srintil mengenai ronggeng yang juga harus menari di kasur pun tergambar dengan baik lewat berbagai ekspresi yang mengundang rasa simpatik. Namun entah mengapa, Prisia terlihat berusaha keras untuk mengucapkan aksen Jawa, yang menjadikan beberapa dialog terkesan sebagai tempelan.

Secara keseluruhan, film ini jelas menjadi tontonan yang sangat berbeda, unik, dan berkualitas tinggi sebagai film lokal. Ada banyak sekali buah pikiran yang bisa direnungkan, dan didiskusikan, setelah keluar dari studio usai menonton film ini. Sayangnya, lagi-lagi pemutaran film ini dianak-tirikan dengan hanya diputar di bioskop-bioskop "kelas B". Yang membuat sakit hati, kualitas film ini disejajarkan dengan film karya mafia India dengan diputarnya trailer film Arwah Kuntilanak Duyung Hamil di Luar Nikah di Kuburan Sebelah sebelum film dimulai. Tapi semoga kepercayaan penonton terhadap kualitas film lokal belum hilang dengan masih adanya film-film lokal yang berkualitas dan layak tonton.




Indonesia | 2011 | Drama | 111 min. | Aspect Ratio 1.85 : 1

Pemenang Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Ifa Isfansyah), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Prisia Nasution), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Dewi Irawan), Festival Film Indonesia, 2011.


Dinominasikan untuk Penulis Skenario Terbaik (Salman Aristo, Ifa Isfansyah, dan Shanty Harmayn), Pengarah Sinematografi Terbaik (Yadi Sugandi), Pengarah Artistik Terbaik (Eros Eflin), Penyunting Gambar Terbaik (Cesa David Luckmansyah), Pemeran Pendukung Pria Terbaik (Hendro Djarot), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Dewi Irawan), Pemeran Utama Pria Terbaik (Oka Antara), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Prisia Nasution), Festival Film Indonesia, 2011.



Interpretasi terhadap kesenian ronggeng dalam resensi ini ditulis berdasarkan sumber-sumber terkait:
http://en.wikipedia.org/wiki/Ronggeng
http://liamustafa.multiply.com/journal/item/58
http://nurrahmanarif.wordpress.com/2011/04/11/trilogi-ronggeng-dukuh-paruk/
http://margeraye.blogdetik.com/2011/10/10/book-review-ronggeng-dukuh-paruk/ http://berita.liputan6.com/read/291975/Ronggeng.sebuah.Tari.Pergaulan

2 comments:

Kookyland said...

Saya agak ngeri mau nonton filmnya, takut semua imajinasi saya tentang tiga novel yang pernah saya baca (dan sangat berkesan) rusak karena menonton filmnya.

Okki Sutanto said...

Sial banget ya film ini hanya masuk bioskop kelas dua, yang kebetulan cukup sulit dijangkau semua.
-_-"

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...