Mar 6, 2012

A Trip to Sawarna: Exploring The Hidden Paradise

Paradise, kata panitianya. Awalnya saya percaya bahwa kami, para peserta acara ini, akan dibawa menuju pantai yang begitu indahnya. Dalam bayangan saya, acara yang diadakan oleh KMPA Pelangi ke desa Sawarna ini akan penuh dengan kesenangan, serupa dengan tur wisata. 

Pada saat saya mendaftarkan diri untuk menjadi peserta, saya mengira perjalanan hanya akan ditempuh selama empat hingga lima jam. Ternyata saya salah besar. Perjalanan untuk mencapai desa Sawarna diperkirakan menghabiskan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam. Tidak secepat yang saya perkirakan. Meskipun demikian, menjelang hari keberangkatan, saya masih optimis bahwa desa Sawarna dan pantainya akan seindah paradise. Begitu juga dengan perjalanan menuju ke sana.

Para peserta diminta untuk mengikuti briefing sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Kami diberikan informasi mengenai tugas dan keperluan apa saya yang wajib dibawa. Eh, sebentar. Tugas? Kami akan diajak untuk mengeksplor paradise dengan tugas? Kedengarannya tidak seperti paradise lagi bagi saya. Malah lebih terasa seperti perjalanan karyawisata di sekolah dulu. Tugas yang diberikan pun tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Profiling desa? Apa itu? Seminggu menuju keberangkatan saya habiskan dengan mencari beberapa keperluan yang belum saya miliki untuk saya bawa, dan saya mencoba melupakan tugas yang harus saya lakukan di sana nantinya.

Akhirnya hari yang saya tunggu itu tiba juga. Kamis, 1 Maret 2012. Seluruh peserta diminta untuk berkumpul di hall B UNIKA Atma Jaya pada pukul 20.00 WIB. Peserta dan panitia berkumpul sejenak untuk mendengar ceramah pelepasan perjalanan singkat dari Mbak Maria Theresia Asti Wulandari, Psi. selaku Wakil Dekan Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya, menaikkan doa, dan melakukan tos untuk memulai perjalanan kami.

Bus yang kami tumpangi tidak terlalu besar. Uniknya, di kaca bagian depan dan samping bus ada stiker bertuliskan ‘Wi-Fi Hotspot’. Wah, sungguh di luar dugaan! Saat masuk dan duduk dalam bus, saya juga menyadari bahwa bus tersebut menyediakan televisi dengan berbagai saluran yang serupa televisi kabel. Hal ini jelas membuat seluruh peserta semakin bersemangat dalam perjalanan. Kami berangkat dari kampus UNIKA Atma Jaya menuju desa Sawarna sekitar pukul 22.00 WIB.

Pada awal perjalanan, para peserta masih menonton televisi dan tertawa bersama. Namun setelah bus berada di luar Jakarta, sinyal televisi mulai terganggu. Karena sudah cukup malam, peserta satu persatu mulai tertidur. Peserta mulai terbangun kembali ketika bus yang kami tumpangi melewati lubang yang cukup besar. Supir bus juga mulai menaikkan kecepatan dan berusaha menyalip beberapa truk untuk mempercepat perjalanan. Beberapa dari peserta sempat menghentikan obrolan karena tegang melihat usaha Pak Supir tersebut. Saya sendiri berusaha untuk memejamkan mata kembali, agar tidak terlalu khawatir.

Sekitar pukul 02.30 dini hari, kami berhenti di Karang Hawu untuk ke toilet. Beberapa peserta juga beranjak ke warung terdekat untuk membeli jajanan ataupun memesan mie instan untuk menahan rasa lapar. Sekitar pukul 03.00, kami kembali masuk dalam bus dan melanjutkan perjalanan. Ternyata, jalan yang kami lewati selanjutnya berliku-liku, menanjak, dan juga banyak jalan menurun. Pemandangan di kiri-kanan bus hanya pepohonan dan terkadang jurang. Beberapa peserta terkadang menahan napas tegang ketika supir mempercepat laju bus ketika jalan menurun dan berliku. Dalam hati saya berkata, perjalanan menuju paradise yang dijanjikan ini salah-salah malah dapat mengantarkan kami semua ke surga yang sebenarnya.

Akhirnya, kami tiba di tempat tujuan. Saya menengok ke arah kanan bus, dan terlihat tulisan ‘Welcome to Sawarna Area’. Karena waktu baru menunjukkan pukul 04.30, maka hari masih gelap dan saya belum dapat melihat pemandangan lain di sekitar bus. Seluruh peserta turun dari bus dan mengambil barang bawaan yang diletakkan di bagasi. Kami diminta untuk menggunakan senter yang memang wajib dibawa oleh seluruh peserta untuk berjalan menuju homestay.

Sekali lagi, saya mengira bahwa perjalanan menuju homestay cukup dekat. Ternyata para peserta diminta untuk melewati jembatan gantung dengan penerangan hanya dari senter di tangan masing-masing. Ditambah lagi, jembatan gantung tersebut hanya boleh dilewati maksimal lima orang sekaligus, untuk mengurangi getaran yang membuat jembatan terayun-ayun. Setelah jembatan gantung, perjalanan yang harus ditempuh masih cukup jauh. Saya sempat berpikir, mengapa rasanya kami tidak sampai-sampai di homestay. Inikah yang dijanjikan sebagai paradise?

Setelah berjalan melalui jalan kecil yang sebagian besar tergenang air, kami akhirnya tiba di homestay Millang. Para peserta masuk ke kamar masing-masing sesuai dengan nama yang tertera pada pintu kamar. Kami diijinkan untuk beristirahat sejenak dan bersiap-siap untuk berkumpul pada pukul 06.00. Kembali sekali lagi saya berpikir, bagian mana dari perjalanan ini yang dimaksud dengan paradise? Kami tidak diberikan waktu untuk tidur setelah perjalanan melelahkan sekaligus menegangkan tadi?

Sekitar pukul enam kami berkumpul dan berjalan bersama ke arah pantai. Pantai Pasir Putih, begitu namanya. Di sana, kami diberikan petunjuk mengenai hal apa saja yang akan dilakukan di desa Sawarna. Kami akan masuk dalam kelompok dan akan melakukan permainan serupa Amazing Race untuk dua hari ke depan. Saya merasa kembali bersemangat.

Kami kembali ke homestay untuk bersiap-siap memulai permainan dan menyantap sarapan. Setelah selesai, kami kembali ke Pantai Pasir Putih dan dibagi ke dalam lima kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima hingga enam orang. Untuk mengundi kelompok mana yang akan memulai perjalanan terlebih dahulu, kami diundi dan melakukan lomba voli pantai antar kelompok. Kelompok yang menang dan mencapai 10 poin diperbolehkan untuk berjalan ke pos berikutnya. Sedangkan, kelompok yang kalah akan kembali bertanding dengan kelompok urutan berikutnya, dan begitu seterusnya.

Pada pos berikutnya, kami diajak untuk bermain tebak kata, serupa dengan permainan Hangman. Kami diberikan beberapa clue untuk mengetahui petunjuk tempat yang harus kami capai berikutnya. Ternyata, tempat berikutnya adalah Tanjung Layar, tempat di mana turis asing biasanya melihat matahari terbenam. Kami berjalan menyusuri pantai dengan jarak yang cukup jauh untuk melihat dua tebing tinggi di pantai yang luar biasa. Para peserta juga berkumpul di Tanjung Layar untuk berkeliling dan berfoto. Setelah makan siang di sana, perjalanan dilanjutkan ke Goa Lalay.

Perjalanan menuju Goa Lalay cukup jauh. Kami harus kembali menyusuri pantai menuju Pantai Pasir Putih dan kembali ke arah homestay. Setelah itu, kami harus berjalan kembali ke arah jembatan gantung dan berjalan di jalan raya, menuju menara Indosat sebagai petunjuk. Dari menara Indosat, kami harus kembali berjalan menyusuri sawah dan rumah penduduk. Kami juga kembali melewati jembatan gantung lain dan berjalan terus menyusuri sawah, hingga tiba di Goa Lalay. Di sana kami diajak untuk melakukan caving atau penyusuran goa, secara horizontal. Peserta dipandu oleh Mira Margaretha dan diajak untuk masuk ke dalam goa cukup jauh. Selain menyusuri goa, peserta juga diberikan berbagai informasi menarik mengenai goa dan segala ornamen yang ada di dalam goa. Setelah keluar dari Goa Lalay, peserta diajak untuk kembali ke homestay untuk makan malam dan beristirahat.

Keesokan harinya, peserta dibangunkan pada pukul 05.00. Setelah mandi dan sarapan, peserta diminta untuk berangkat satu persatu, sesuai dengan urutan perjalanan hari sebelumnya. Kali ini, peserta diminta untuk berangkat ke Karang Beureum. Perjalanan menuju Karang Beureum cukup berat, dibandingkan dengan perjalanan sebelumnya. Peserta kembali menuju menara Indosat, berbelok dan melewati rumah penduduk. Kami juga kembali dihadapkan dengan jembatan gantung lain. Setelah jembatan gantung, kami harus melintasi jalan berbatu yang banyak tanjakan dan turunan. Jalan berbatu ini cukup panjang dan sulit, ditambah lagi dengan bebatuan yang cukup licin karena lumpur akibat hujan pada malam sebelumnya.

Namun perjuangan melewati jalan bebatuan tersebut terbayar ketika kami tiba di Karang Beureum. Pemandangan yang terlihat sangat indah dan menyenangkan. Matahari bersinar cukup terik, menambah indahnya air laut di karang dan menjadikannya berkilauan. Di sana, kami diajak untuk menggunakan kompas bidik dan melihat clue kami ke pos berikutnya. Kami pun kembali berjalan menyusuri pantai, Lagoon Pari namanya.

Selain melihat pemandangan yang indah dan bermain games, kami juga diajak untuk berinteraksi langsung dengan penduduk desa Sawarna. Para peserta diperlihatkan mengenai cara membuat gula kelapa dari penduduk asli. Kami juga dipersilahkan untuk mencicipi gula kelapa tersebut. Peserta juga diberikan kesempatan untuk mewawancarai beberapa tokoh desa, seperti kepala desa (yang diwakilkan dengan wakilnya karena beliau sedang sakit), pengusaha pembuat dan penjual pisang sale, pemilik usaha homestay, dan guru. Setelah itu, peserta juga diberikan kesempatan untuk mencoba langsung melakukan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh warga desa, seperti membuat mebel dengan mengamplas hingga memvernis kursi kayu dan membersihkan hama di sawah.

Jika mengingat jauh dan sulitnya perjalanan yang kami tempuh, saya tidak akan bisa berkata bahwa desa Sawarna merupakan paradise. Sama sekali tidak. Bahkan dapat saya katakan bahwa perjalanan dengan medan seperti itu merupakan siksaan. Apalagi ditambah dengan kulit perih karena terbakar matahari. Belum lagi dengan tugas untuk membuat profiling desa.

Namun ketika saya mengingat indahnya pantai, deburan ombak, pasir yang halus, canda tawa peserta, pemandangan dalam goa, pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh, keakraban dengan sesama mahasiswa FPUAJ dari berbagai angkatan, dan senyum ramah dari warga desa Sawarna, saya berani berkata bahwa KMPA Pelangi sungguh membawa kami mengeksplorasi paradise. Segala luka, kulit yang terbakar, pegal, dan rasa lelah terbayar sudah. Betapapun menegangkannya perjalanan ketika Pak Supir membawa kami kembali ke Jakarta setelahnya.



Pantai Pasir Putih (pagi hari)*

Sawah di belakang homestay Millang *

Pantai Pasir Putih (menjelang matahari terbenam)*


* gambar merupakan dokumentasi pribadi


2 comments:

Okki Sutanto said...

Terima kasih Nina atas catatan perjalanannya!!

Entah harus bersyukur atau menyesal saya berhalangan mengikuti perjalanan penuh kesan ini. (Atau memang tujuan penulisnya menghadirkan dua rasa itu bersamaan ya?) hehehehe..

Ditunggu catatan perjalanan berikutnya.. =)

Dargombes said...

nice story..jadi ingin ke pantaai pasir putih

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...