Nov 9, 2012

A Separation: Potret Realistik Drama Kehidupan

Sekian lama saya menantikan momen untuk menonton film A Separation, sebuah film asal Iran karya sutradara dan penulis Asghar Farhadi. Tidak lain dan tidak bukan, ketertarikan saya terhadap film ini meledak ketika melihat kesuksesan film ini sebagai film asal Iran pertama yang mampu menembus nominasi dan memenanginya di ajang Academy Awards, Golden Globe, bahkan menjadi film pertama yang mendapatkan tiga penghargaan sekaligus pada ajang Berlin International Film Festival. Film ini banyak menuai kritikan positif dari pada kritikus film, ramai pula dibicarakan oleh para pecinta film-film arthouse dan movie blogger. Keajaiban datang ketika 21 Cineplex memutuskan untuk mendistribusikan film ini di beberapa bioskop di ibukota. Sebuah kejutan yang tidak terkira bagi penonton reguler 21 Cineplex melihat ada film kelas arthouse bertengger di deretan pilihan film bioskop.

Film dibuka dengan adegan pasangan suami istri Nader dan Simin yang sedang mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Dengan penonton yang mengambil sudut pandang hakim, kesaksian dari Nader dan Simin seakan sebuah prolog cantik nan elegan akan kisah yang hendak diceritakan oleh Asghar Farhadi dalam film ini. Ayah dari Nader mengidap Alzheimer dan tidak mengenali lagi putranya, sementara Simin yang mendapatkan kesempatan untuk keluar dari negeri Iran memaksa Nader dan anaknya untuk pergi dari rumah demi kehidupan yang lebih baik. Nader pun dengan tegas menolak rencana itu demi merawat ayahnya yang sakit. Pertentangan tersebut yang kemudian membawa Nader dan Simin menghadapi serentetan kejadian yang menambah rumit situasi.

Film ini menjustifikasi kecintaan saya terhadap film-film Iran yang sukses di dunia internasional. Walaupun track record tontonan film-film Iran saya hanya bisa dihitung dengan jari, namun saya menemukan suatu hal yang khas dari sinema Iran; ide dasar sederhana dan memotret interaksi antar-manusia yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lihat saja kisah Nader dan Simin ini, mungkin kisah pertengkaran suami-istri yang berujung pada perceraian telah kita saksikan ratusan kali di layar kaca maupun layar lebar, maupun sangat familiar kita temui di dunia nyata. Namun dengan naskah nyaris sempurna dari Asghar Farhadi, dengan berbagai konflik dan kejutan di sepanjang film - ditambah dengan twist yang efektif di penghujung film, membuat film ini seakan tontonan menegangkan dan sangat powerful.

gambar diambil dari sini
Kekuatan akting yang nyata menjadi senjata utama dalam film ini. Ensemble cast dalam film ini luar biasa, setiap pemerannya mampu tampil sangat natural dan tidak ada yang menonjol antara satu karakter dengan yang lain. Saking kuatnya akting dari setiap pemerannya, kharisma dari setiap karakter bisa sampai merembes keluar dari layar. Nader dan Simin yang sama-sama good looking dan memiliki kepribadian yang kuat dan tegas, seakan membawa atmosfer film ini sesuai dengan mood dan perasaan karakter mereka masing-masing. Akting yang sangat natural dan meyakinkan inilah yang membuat penonton jauh lebih mudah untuk masuk ke dalam cerita dan ikut meresapi, menginvestigasi, dan memberikan penilaian tersendiri terhadap apa yang sedang terjadi di layar.

Prolog film yang menempatkan penonton di sudut pandang sebagai hakim, adalah sebuah simbol cerdas bagaimana Asghar Farhadi yang memang ingin agar masing-masing penonton menentukan penilaiannya sendiri terhadap apa yang terjadi terhadap Nader dan Simin. Penonton yang akan menjadi hakim, yang berusaha keras menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Belum lagi bagaimana naskah yang disusun secara cerdas ini sukses membuat penonton tergoda untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas rentetan kejadian malang yang menimpa Nader, Simin, dan orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya itu, Asghar Farhadi juga sangat sabar dalam membuka tirai fakta, lapis demi lapis, demi para penonton dapat menikmati dinamika dari interaksi para karakter akibat aksi-reaksi yang terjadi sepanjang jalan cerita. Kejutan-kejutan plot yang ada nyaris di setiap kuartal dalam film ini mampu membuat saya terpekik dalam diam. Good job, Mr. Asghar!
gambar diambil dari sini
Namun sialnya, Asghar Farhadi tidak menghendaki penontonnya untuk mengetuk palu siapa yang benar dan siapa yang salah. Memang dunia tidak semudah hitam dan putih. Sepanjang film, penonton disuguhkan dengan betapa keras usaha para karakter untuk menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang bertanggung jawab dari kacamata hukum yang berlaku di Iran. Namun ada hal-hal yang terkadang lewat dan tidak bisa dinilai dari sisi hukum yang tegas dan kaku. Film ini pun mencoba memasukkan unsur agama sebagai sumber penilaian, namun "hukum" agama itu pun sekali lagi kurang mampu menafsirkan perbuatan mana yang pantas dan tidak pantas. Asghar Farhadi seakan ingin menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dengan mudah dinilai dengan aturan tertulis yang berlaku di masyarakat. Bahwa terkadang ada hal-hal yang dapat dikembalikan lagi kepada sisi moralitas yang dimiliki oleh manusia.

Sepanjang film, penonton disuguhkan oleh hal-hal dualisme yang disajikan di layar. Bagaimana Nader dan Simin yang memiliki keinginan yang saling bertentangan. Bagaimana Nader yang berselisih dengan Razieh si pengasuh ayahnya, hingga bagaimana Nader-Simin berselisih dengan Razieh-Hodjat. Tidak hanya secara fisik namun juga secara tingkah laku; apakah Nader/Simin/Razieh berbohong atau tidak, atau lebih jauh lagi - apakah berbohong itu murni sebuah kesalahan? Betapa penonton seakan diarahkan untuk memilih salah satu diantaranya lalu menjalani hidup dengan satu pilihan tersebut. Ditambah dengan bagaimana kebiasaan masyarakat modern yang ada di saat ini untuk memilih salah satu dari hal dualisme tersebut, yang terlegitimasi pula oleh aturan hukum dan agama yang berlaku. Kesan ini pun memuncak di ending film yang terbilang cukup adil dan menyerahkan kembali interpretasi film ini kepada penonton sebagai "hakim".
Ajakan untuk berpihak ini akan terasa jika anda menonton bersama teman-teman, dan tanyakan kepada mereka siapa yang bertanggung jawab sehingga semua kejadian beruntun ini terjadi. Mungkin ada sebagian penonton yang berpihak kepada Nader, ada pula sebagian penonton yang berpihak kepada Simin, dan mungkin ada sebagian kecil yang lebih empatik terhadap Termeh sang anak gadis berusia 11 tahun. Keberpihakan otomatis ini memang secara signifikan dipengaruhi oleh pola pikir, persepsi, dan pengalaman dari masing-masing penonton. Dari keberpihakan tersebut pun akan terlihat mana kelompok orang yang lebih mengutamakan keluarga, atau masa depan anak-anak, atau kepentingan orang lain.

gambar diambil dari sini
Namun tidak ada yang salah dengan keberpihakan tersebut. Pun tidak ada yang salah dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku dari para karakter yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam film ini. Karena jika direnungi lebih dalam lagi, film ini bukan ingin bercerita tentang hitam-putih benar-salah baik-buruk, namun lebih ke sebab-akibat. Setiap tindakan, sekecil apapun, adalah sebuah intervensi sosial yang pasti akan membawa dampak terhadap orang lain di sekitar kita. Terlepas apakah dampat tersebut berupa positif atau negatif, namun film ini memotret bagaimana jika ada individu yang memilik berbagai pilihan tindakan namun memilih untuk melakukan satu tindakan spesifik tersebut dan menimbulkan efek tertentu kepada orang lain di sekitarnya. Reaksi berantai pun akan terjadi, permasalahan semakin rumit, dan akar permasalahan pun menjadi semakin kabur. Ketika emosi telah mencapai batasnya, insting manusia yang membawa setiap individu yang sudah jatuh terpuruk untuk saling menyalahkan mereka yang dirasa bertanggung jawab memulai semua hal ini.

Pada akhirnya, saya merasa sangat beruntung dapat menyaksikan film ini di layar lebar, dan dengan mudah untuk larut secara empati dan emosi terhadap setiap hal kecil yang terjadi di layar. Saya merasa sangat terlibat terhadap permasalahan yang terjadi pada Nader dan Simin, dan berusaha keras untuk membantu mereka berdua dengan menjadi "hakim" untuk menentukan dengan siapa Termeh layak untuk tinggal. Namun niat baik tidaklah cukup, dan permasalahan mereka berdua benar-benar sulit untuk ditimbang adil di mata hukum. Maka saya hanya bisa merenung, untuk kemudian menonton film ini kedua kalinya, kemudian merenung kembali, dan seterusnya.



Iran | 2011 | Drama | 123 mins | Aspect Ratio 1.85 : 1
  • Won for Best Foreign Language of the Year, Nominated for Best Writing Original Screenplay (Asghar Farhadi), Academy Awards, 2011.
  • Won for Best Foreign Language Film, Golden Globes, 2011.
  • Nominated for Best Film Not in the English Language, BAFTA Awards, 2011.
  • Won for Golden Berlin Bear (Asghar Farhadi), Prize of the Ecumenical Jury (Asghar Farhadi), Reader Jury of the "Berliner Morgenpost" (Asghar Farhadi), Silver Berlin Bear Best Actor (Babak Karimi, Ali-Asghar Shahbazi, Shahab Hosseini, Peyman Moadi), Silver Berlin Bear Best Actress (Leila Hatami, Sareh Bayat), Berlin International Film Festival, 2011.

Tulisan ini diterbitkan ulang dari:

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...