Rengkuhmu hangat sang surya
Membawaku dalam nyaman persinggahan
Termangu dalam hening perahu nelayan
Sendiri menyeruput harum dan lembut lautan
Tatap matamu garis batas cakrawala
Kedalamannya takkan pernah sanggup kugapai
Perhentian sang langit bertemu daratan
Yang kerap hanya sanggup kupandang kenikmatan
Walau mendung
Walau beku
Walau sayu
Walau deru dan debu mengganggu
dan bilakah nanti kulitku membiru?
Rengkuhmu hangat sang surya,
Tatap matamu garis batas cakrawala
Dalam diam aku mengutara
dalam biru aku kan menjingga
Jan 19, 2012
Jan 18, 2012
Ohana
“Ohana means family. Family means nobody gets left
behind..... or forgotten.”
Pernah dengar kalimat di atas? Kalimat tersebut diucapkan
oleh Lilo dalam film Disney berjudul Lilo & Stitch. Sebuah kalimat yang
mendefinisikan keluarga. Dalam bahasa Indonesia, Lilo mengatakan bahwa "Ohana
berarti keluarga, dan keluarga berarti tidak ada seorang pun yang ditinggalkan,
atau terlupakan."
Jika mendengar kata ‘keluarga’, bayangan apakah yang pertama
kali muncul di pikiran kita? Bagi saya, kata tersebut memunculkan bayangan
seorang ayah, seorang ibu, dan dua orang anak kecil yang bergandengan tangan.
Lebih spesifik lagi, anak pertama berjenis kelamin laki-laki dan anak kedua
berjenis kelamin perempuan. Bayangan keluarga yang sederhana, dan menurut saya,
sempurna.
Pada kenyataan yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari,
seringkali keluarga tidak sesempurna bayangan yang ada di pikiran tersebut.
Banyak kasus keluarga yang memiliki masalah. Atau mungkin keluarga kita pun
tidak sempurna bayangan dan harapan?
Orang-orang yang disebut sebagai keluarga biasanya adalah
orang yang memiliki hubungan darah dengan kita. Entah itu adalah orangtua,
kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan sebagainya. Namun menurut saya
pribadi, keluarga juga termasuk orang-orang yang peduli dan sayang dengan saya.
Kerabat dengan hubungan darah belum tentu peduli kondisi
saya. Bahkan dalam beberapa kasus yang saya jumpai, orang yang tidak
memiliki hubungan darah sama sekali, merupakan orang yang lebih peduli dengan
keadaan saya. Darah lebih kental daripada air? Tidak juga, ternyata.
Oleh karena itu, menurut saya ohana tidak hanya dalam bentuk
seorang ayah, ibu, kakak, atau adik. Tidak juga dalam bentuk seorang nenek,
kakek, paman, bibi, om, tante, sepupu, keponakan, dan sebagainya. Bagi saya,
ohana juga berupa sahabat dan teman-teman. Dimana tidak ada seorang pun yang
ditinggalkan, atau terlupakan. Dimana tidak ada seorang pun yang meninggalkan, ataupun melupakan.
Jan 11, 2012
Semoga
Lampu yang bersinar redup. Tembok berwarna kuning
kecoklatan. Kursi sederhana berwarna coklat tua. Kafe sederhana. Aku dan kamu
duduk berhadapan.
Mencoba mencairkan suasana dengan segelas minuman di tangan
masing-masing. Berusaha mencari hal sederhana yang bisa diperbincangkan. Aku
mulai menyalakan rokokku. Berharap bahwa rokok ini dapat menunda waktu
perbincangan kita.
Menatap kedua bola matamu. Gestur santai dari tubuhmu.
Melihatmu mengaduk minumanmu. Memperhatikan responmu atas pertanyaan dan
kisahku. Senyum itu, senyum khas milikmu. Senyum yang terbawa hingga mimpiku.
Minuman di hadapanku sudah habis. Aku sengaja memesan lagi,
berharap kebersamaan yang menyenangkan ini tidak akan pernah usai. Sambil aku
terus mencari cara untuk memperpanjang waktuku bersamamu.
Terus mencari hal yang dapat diperbincangkan. Kamu nampak
begitu menikmati kisahku. Tatapanmu menunjukkan bahwa kamu lebih dari sekedar
mendengarkan. Kamu peduli.
Rokokku sudah habis dua batang. Nah, sekarang kamu mulai
menceritakan kisahmu. Kisah masa lalumu ternyata juga penuh kepahitan, walaupun
tak sepahit masa laluku. Melihatmu menyisir rambutmu dengan jari. Cantik.
Aku menenggak minumanku lagi. Sudah hampir habis. Ah,
biarlah. Berapa gelas pun akan kupesan lagi, selama aku masih tetap bisa
berbincang dengan wanita menakjubkan ini. Berapa bungkus rokok pun rela aku
habiskan.
Binar dari mata itu. Bagaimana bisa aku tak kagum padanya?
Semua cerita dan candaannya terasa begitu menyejukkan hati. Kisah apapun
rasanya menjadi sangat menarik ketika diceritakan olehnya. Dia luar biasa!
Kutengok jam di tangan kiriku. Sudah malam. Sebaiknya aku
mengantarkannya pulang. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya hingga sampai ke
rumah. Anggukan dan senyumannya, serasa aku telah diijinkan melangkahkan kaki
semakin masuk dalam kehidupannya.
Aku menyetir sambil memikirkan buket bunga di kursi
belakang. Haruskah kuberikan kepadanya sekarang? Atau nanti? Apakah berlebihan
jika kuberikan kepadanya di pertemuan kali ini? Kendaraanku terus melaju.
Rumahnya semakin dekat. Aku tak punya akal lagi bagaimana
memperpanjang pertemuan ini. Haruskah aku mengajaknya pergi lagi? Tidak. Malam
sudah terlalu larut. Ia harus pulang. Bagaimana dengan buket bunga itu?
Ia membuka pintu mobilku dan mengucapkan terima kasih. Rasanya
belum ingin menyudahi pertemuan ini. Aku memintanya menunggu sebentar. Aku
membuka pintu belakang mobilku dan mengambil buket bunga itu. Ah, kuletakkan
lagi buket bunga itu. Tidak. Jangan malam ini.
Aku menutup pintu mobilku lagi. Aku menghampirinya dan
mengucapkan terima kasih atas pertemuan hari ini. Menunggunya masuk dalam
rumah. Lalu aku kembali masuk ke mobilku. Menyetir pulang, dengan pikiran penuh
olehnya.
Kuperiksa ponselku, ada satu pesan masuk. Dari dirinya.
Ucapan terima kasih dan pesan untuk berhati-hati saat menyetir. Aku tersenyum
sekali sambil menatap layar ponselku. Aku melihat buket bunga itu dari kaca
spionku. Aku tersenyum lagi.
Mendadak aku memutar balik mobilku. Aku kembali ke rumahnya.
Kutelepon dia untuk keluar dan menemuiku lagi. Aku sendiri tak mengerti perubahan
pikiran yang mendadak ini.
Kulihat ia keluar dari pintu ruang tamu rumahnya. Kali ini,
aku berikan buket itu ke tangannya. Ia tersenyum lebar dan memelukku. Aku tidak
bisa menggerakkan badanku. Tertegun. Diam. Lama.
Ia melepaskan pelukannya. Aku meraih tangannya dan meraihnya
dalam pelukku. Kali ini, ia yang tertegun. Aku tidak tahu apa yang ada di
pikiranku saat itu. Aku menyatakan cintaku kepadanya. Ia kembali tersenyum.
Aku juga, katanya. Tapi tidak bisa, kita tidak bisa bersama.
Kamu dan aku ada di dunia yang tak akan mengijinkan kita bersama. Lebih baik
tidak memulai. Sehingga tidak akan ada akhir yang menyakitkan.
Aku menatapnya. Ia benar. Terlalu tinggi dan tebal tembok
penghalang di antara kami. Aku menatap matanya sekali lagi. Berjalan kembali ke
mobilku dengan langkah berat.
Aku beranjak pergi dari rumahnya. Mungkin pergi juga dari
hidupnya. Kuharap ia tahu, ruang di hatiku hanya terisi olehnya. Untuk saat
ini. Mudah-mudahan untuk selamanya. Agar jika mungkin, kami bisa bersama.
Mungkin. Suatu saat nanti. Jika keajaiban terjadi.
Aku menantikan waktu itu akan tiba. Semoga segera. Dimana
warna kulit, latar belakang, dan kepercayaan tidak lagi menjadi penghalang antara cinta kita.
Saat dimana kita bisa saja bergandengan dan berangkulan di tempat umum. Tanpa
ada mata dan mulut usil yang mengomentari. Sama sekali.
Semoga ketika waktu itu tiba, aku dan kamu masih ada. Masih juga ada cinta itu di antara kita. Dan
kita akan mencinta, hingga maut yang menjadi penghalangnya.
Inspired by a little chat with some inspiring
friends
Jan 6, 2012
Jika Nilai adalah Sebuah Masakan
Seumpama nilai adalah hidangan masakan yang sudah jadi dan terhidang di atas meja, menurut Anda ia bisa dilambangkan dengan masakan apa? Lalu terhidang di piring dan meja seperti apa? Bagaimana diaturnya? Apakah rapi teratur atau acak-acakan?
Zaman sekarang ini food photography semakin marak. Untuk semakin menggugah selera manusia, tampilan foto makanan dibuat semenarik dan seindah mungkin menyaingi foto pre-wedding yang latah dibuat oleh para pasangan.
Foto-foto makanan itu ditampilkan di menu makanan sebuah restoran, website, iklan atau media apapun yang tertangkap mata. Seketika itu juga tampilan yang ditangkap oleh indera penglihat membangkitkan keinginan untuk mencicipi rasa dari makanan itu. Kita tergugah untuk mencobanya secara langsung.
Tapi apakah ketika dicoba langsung, rasanya akan sama “indahnya” dengan tampilannya?
Kita semua akan punya pendapat subyektif masing-masing. Sebab ini menyangkut rasa.
Apa yang manis menurut saya, belum tentu manis menurut Anda.
Apa yang pedas menurut anda, belum tentu pedas menurut saya.
Jika nilai adalah masakan, ia adalah hasil akhir makanan yang terhidang di meja. Kemudian para juri (baca: dosen) menilai dengan kriteria pembuatan masakan dan makanan yang “baik”.
Terkadang penilaian tergantung selera juri. Terkadang penilaian tergantung urutan dan ketepatan hal-hal teknis yang sudah kita lakukan sebagai pemasak. Terkadang sedikit kekurangan namun krusial bisa mematikan, namun kekurangan untuk konteks lainnya masih termaafkan sebab kita adalah pemasak yang sedang belajar.
Memasak tentunya butuh latihan, butuh persiapan, butuh proses, butuh umpan balik dari yang sudah mahir. Butuh mempelajari secara teori apa itu yang disebut “pastry”, apa kriterianya sehingga disebut pastry. Dari teori kemudian mempraktekkan. Dari praktek melakukan evaluasi dan umpan balik. Lalu mempelajari lagi, begitu seterusnya dengan alur yang berulang.
Bosan? Sangat mungkin. Tapi konon menurut Malcolm Gladwell dalam Tipping Point (2007) kemahiran membutuhkan waktu 10.000 jam berlatih. Sudah dibuktikan oleh The Beatles, Bill Gates dan pemain orkestra handal.
Kembali lagi ke masakan. Ketika penilaian juri belum atau tidak memuaskan kita sebagai pemasak,saatnya kita mengevaluasi diri. *meski evaluasi diri tak hanya bergantung dari penilaian luar. Menilik kembali perjalanan persiapan dan pembuatan masakan selama ini.
Jika masih belum menemukan korelasi antar usaha dan apresiasi, mungkin saatnya menerima dan memiliki kerendahan hati tentang perbedaan.
Tapi apakah lalu berhenti sampai di situ saja?
Kalau saya sih masih ingin terus memasak. Supaya suatu hari saya bisa menjadi JURU MASAK.
Gambar dipinjam dari sini
Gambar dipinjam dari sini
Jan 5, 2012
Terbuang dan Tertawa
Halo, namaku waktu. Terkesan familiar? Mungkin bagi sebagian
dari kalian, aku merupakan hal yang cukup sering dikeluhkan. Aku juga
seringkali jadi bahan pembicaraan. Jadi kambing hitam!
Sebagian manusia mengeluhkan ketika aku terasa berjalan
lambat. Banyak hal yang mereka tunggu di masa depan, katanya. Huh, gaya! Tahu
apa mereka sebenarnya tentang masa depan? Esok akan terjadi apa pun, mereka
tidak tahu. Bagaimana bisa mereka bilang menunggu sesuatu dalam hitungan
minggu, bulan, bahkan tahun ke depan?
Sebagian manusia lainnya mengeluhkan ketika aku terasa
berjalan sangat cepat. Waktu dua puluh empat jam dalam satu hari tidak dirasa
cukup untuk mereka. Tidak cukup banyak waktu untuk mengerjakan ini dan itu,
katanya.
Padahal, aku stabil-stabil saja. Konsisten. Satu menit diisi
oleh enam puluh detik. Satu jam diisi oleh enam puluh menit. Satu hari diisi
dua puluh empat jam. Konstan. Pasti. Tidak berubah.
Lalu, kenapa seringkali aku disalahkan? Seakan aku ini yang
mengatur kalian, manusia. Seakan segala kebodohan kalian dalam melakukan
kegiatan kalian menjadi salahku. Seakan segala ketidakmampuan kalian dalam
mengaturku, juga adalah kesalahanku. Haruskah aku marah karena disalahkan? Atau
aku harus tertawa atas kebodohan kalian?
Banyak yang membuangku sia-sia. Banyak yang berkata bahwa
aku tidak ada, untuk lari dari tanggungjawab mereka. Aku terima. Terima dengan
lapang dada. Lalu aku tertawa, keras sekali.
Jan 4, 2012
Jembatan yang Koyak: Ketidaksinambungan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja
Sejak September 2010, Kemendiknas melakukan suatu penelitian untuk melihat keterpaduan pendidikan tinggi dan dunia usaha. Terungkap adanya ketidakpaduan antara dunia usaha dan pendidikan (“Pendidikan Tak”, 2011). Melihat hal ini sebenarnya bukanlah hal yang mengagetkan. Kita banyak mendengar sulitnya lulusan perguruan tinggi mencari kerja. "Setiap tahun ribuan lulusan perguruan tinggi hanya menambah panjang barisan penganggur intelektual”, demikian pendapat rektor Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, NTT, Pater Yulius Yasinto SVD (“Perguruan Tinggi”, 2009). Menurut versi pemerintah pada artikel “Pendidikan Tak Padu dengan Dunia Kerja” (2011), ada sembilan juta penganggur terbuka, empat belas persen di antaranya adalah alumni pendidikan setara diploma dan tujuh belas persen setara sarjana.
Sudah saatnya dunia pendidikan berkaca dan berefleksi apa yang sudah dibekalkan bagi para peserta didik. Apakah kurikulum dan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia-selain mampu membuat siswa-siswinya jago hafalan- mampu memiliki kompetensi yang berguna di dunia kerja. Sebenarnya, antara dunia pendidikan dan dunia kerja terdapat hubungan berkesinambungan suatu proses. Dunia pendidikan sebagai hulu dan dunia kerja sebagai hilir. Proses ini seharusnya berjalan seiring sehingga apa yang diajarkan di dunia pendidikan berguna di dunia kerja. Sebaliknya dunia kerja pun bisa memberikan kontribusi dan umpan balik pada dunia pendidikan. Sekarang ini situasinya para peserta didik di dunia pendidikan mengeluhkan kurikulum dan tuntutan ketuntasan belajar yang berat. Guru dan tenaga pengajar juga merasa kesulitan memenuhi tuntutan kurikulum yang harus diselesaikan dalam kurun waktu terbatas disertai tugas administratif dari suku dinas pendidikan yang harus mereka selesaikan pada saat bersamaan pula. Informasi ini saya peroleh dari interaksi dengan para guru dalam Pelatihan Yayasan Putera Bahagia (YPB) pada kurun waktu September-November 2011.
Sementara dari sisi dunia kerja mereka juga menyatakan protes dan keheranan serta rasa penasaran dan bertanya-tanya mengenai apa yang sudah dibekalkan dunia pendidikan pada para lulusannya. Sebab mereka menjumpai orang-orang lulusan dunia pendidikan bukanlah orang yang siap bekerja melainkan siap dilatih (“Dunia Pendidikan”, 2011). Akhirnya banyak hal yang sudah dipelajari di dunia pendidikan menjadi mubazir karena tidak terpakai di dunia kerja. Sementara pihak dunia kerja masih harus mengeluarkan waktu, biaya dan tenaga untuk melatih lulusan dunia pendidikan agar mampu bekerja sesuai dengan tuntutan. Belum lagi ketika berbicara tentang ketertinggalan dunia pendidikan dalam mengejar perkembangan dunia kerja yang sangat pesat dalam dekade terakhir ini. Bisa jadi materi pendidikan yang diajarkan sudah tidak lagi relevan dan kontekstual.
Maka hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja di Indonesia tak ubahnya jembatan yang koyak. Dibilang benar-benar putus juga tidak, tapi tersambung dengan baik pun juga tidak. Berbagai pihak pembuat kebijakan dan pelaksana sampai saat ini lebih sering saling tuding untuk mencari siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap realita ini. Kondisi ini mungkin sama seperti tak ada satu pun pihak yang merasa bertanggung jawab bahkan saling menyalahkan ketika jembatan Kutai Kartanegara runtuh. Para eksekutor di dunia pendidikan dan dunia kerja seumpama kerbau yang dicucuk hidung karena harus tetap menjalankan sistem yang tidak jelas. Korban paling “tersiksa” dan dirugikan adalah para peserta didik yang menjadi objek penderita. Harus menerima nasib ketika kurikulum bergonta-ganti tergantung siapa yang memegang jabatan Menteri Pendidikan. Sekaligus dituntut untuk mampu mentuntaskan kompetensi kurikulum yang berat ini. Tapi pada akhirnya, segala perjuangan untuk memenuhi tuntutan dunia pendidikan pun tidak bisa menjamin para peserta didik dapat menjadi penyintas di dunia kerja. Seperti meniti jembatan yang koyak, orang-orang ini tetap berusaha untuk berjalan, bertahan, bahkan bergelantung di jembatan ini demi mampu menyebrangkan diri dari dunia pendidikan ke dunia kerja.
Gambar dipinjam dari sini
Referensi
http://nasional.kompas.com/read/2008/06/25/19483447/function.session-start
http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/10/18340833/Pendidikan.Tak.Padu.dengan.Dunia.Kerja.
http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/25/14075095/Perguruan.Tinggi.Harus.Tekan.Angka.Pengangguran.Intelektual..
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/11/09/22/lrxh06-dunia-pendidikan-butuh-standar-kompetensi-kerja
Referensi
http://nasional.kompas.com/read/2008/06/25/19483447/function.session-start
http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/10/18340833/Pendidikan.Tak.Padu.dengan.Dunia.Kerja.
http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/25/14075095/Perguruan.Tinggi.Harus.Tekan.Angka.Pengangguran.Intelektual..
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/11/09/22/lrxh06-dunia-pendidikan-butuh-standar-kompetensi-kerja
Subscribe to:
Posts (Atom)



