Aku sering berpikir dua kali untuk memijakkan kakiku di trotoar penuh debu dan polusi serta terik matahari yang membakar kulit.
Jalan kaki berkeliling mall di Jakarta sesekali aku lakukan. Namun aku tidak menikmati jalan kakinya, sebab aku berjalan terburu-buru dan lebih asik memandangi etalase toko yang begitu menggiurkan.
Namun, pada waktu yang berdekatan aku menemukan kenikmatan berjalan kaki.
Pertama, sewaktu berjalan kaki di Ubud.
Entah suasana atau kontur jalannya yang mendukung tapi rasanya nikmat sekali berjalan di trototar kota kecil ini.
Udaranya yang sejuk dengan toko-toko kecil di kiri dan kanan jalan diselingi kafe-kafe terbuka memberikan atmosfer yang kondusif.
Suasana liburan mungkin juga memberikan rasa relaks dan santai sehingga berjalan kaki terasa semakin nikmat.
Aku tak mempedulikan lagi ke mana kakiku melangkah
Hanya berjalan dan berjalan
Hanya merasakan tiap telapak kaki beralaskan sandal gunung menapaki trotoar.
Hanya merasakan ringannya aku melangkahkan tubuhku
Merasakan damai dan tenangnya hatiku
Dan dengan sendirinya... rasa cinta bermekaran
Kedua, saat berjalan kaki di temaram cahaya malam kota Jakarta
Entah romantisnya lampu malam hari atau jalanan Jakarta yang masih lengang tapi rasanya nikmat sekali berjalan di trotoar kota besar ini.
Udara malam yang tak panas tapi juga tidak dingin dengan pepohonan dan gedung-gedung pencakar langit berbaris di sampingku memberikan atmosfer yang kondusif.
Suasana malam hari dan keceriaan yang telah dialami selama setengah hari mungkin juga memberikan rasa relaks dan santai sehingga berjalan kaki terasa semakin nikmat.
Aku tak mempedulikan lagi jauhnya jalan yang harus ditempuh oleh kakiku
Hanya berjalan, memandang dan menatap
Hanya merasakan kebersamaan di setiap langkah
Hanya merasakan ringannya aku melangkahkan tubuhku
Hidup terasa begitu berarti dan penuh cinta
Within and beyond...
Sesederhana itu menemukan cinta melalui berjalan kaki.
Gambar dipinjam dari sini
No comments:
Post a Comment