Apr 25, 2011

Tiket Sekali Jalan

Seringkali cinta tak ubahnya tiket pulang-pergi.
Setelah puas membawa kita bertualang,
ke hamparan padang kebahagiaan, bukit kedamaian, dan pantai pengharapan,
Ia akan mengembalikan kita.
Ke tempat asal kita bernama realita, ke kesendirian kita.

Sebenarnya kita sudah diberitahu, bahkan memilih sendiri, dengan sadar.
Saat kita menyobek tiket keberangkatan, seketika pula kita menyimpan erat tiket kepulangan.
Namun seringkali kita berusaha mengacuhkannya.
Segenap tenaga membuaikan diri dalam indah perjalanan.
Dan di saat tiket itu perlahan menyelip keluar dari saku, kita gopoh memasukkannya kembali.

Pada akhirnya, sang tiket mencuat seutuhnya, mendeklarasikan kuasanya.
Sontak perjalanan usai, kita dipaksa pulang.
Sekuat apa pun kita berontak, kuasanya absolut, tak terelakkan.
Pilihannya hanya dua: membuatnya mudah atau membuatnya sulit.
Dan itu pun hanya proses, karena akhirnya jelas: kita kembali ke realita, kembali ke kesendirian.

Kita terhempas.
Sesenggukan menahan kecewa, meronta melepas amarah.
Tapi selintas kemudian, akan kita cari lagi tiket pulang-pergi itu.
Mungkin destinasi lama, mungkin juga baru.
Semua tergantung perjalanan sebelumnya, lebih tepatnya akhir perjalanan sebelumnya.

Dan meski konon menyebutkan adanya tiket sekali jalan, aku pongah percaya.
Aku tak pernah menemukannya, pun tak berharap suatu saat akan menemukannya.
Bagiku semua tiket keberangkatan memiliki pasangannya: kepulangan.
Karena tidak ada perjalanan yang kekal.
Dan tiket kepulangan bisa saja berbentuk apa pun, termasuk maut.

Jakarta, 24 April 2011
Okki Sutanto | http://octovary.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...