Jan 31, 2012

Ibu dan Anak



Dari setitik cairan bergumpal menjadi sebentuk kehidupan
Tertanam erat di dasar kehidupan yang tak terjamah mata manusia
Namun kehadirannya dirasakan Ibu

Dari seukuran biji kacang hijau hingga mata, kaki dan hidung sempurna terbentuk
Ibu merasakan derap-derap pertumbuhkembangannya
Seorang individu yang sedang tumbuh di dalam individu
Realitas satu tubuh kian terasa sebagai dua pribadi di satu tubuh

Hingga genap sembilan bulan sepuluh hari
Ketika tubuh mungil harus meninggalkan tubuh ibunya
Ibu merasa ada dirinya berada di dalam diri tubuh mungil
Jika tubuh mungil sakit, ibu pun ikut sakit
Seulas senyum di wajah polosnya membuat ibu berseri bukan kepalang

Demi tapak-tapak mungil itu mampu memijak bumi dengan kokoh
Demi tangan-tangan mungil mengatup erat pada dirinya sendiri
Demi senyum mungil yang bagi ibu bagai jutaan listrik megawatt

Hari ini untuk esok
Kemarin untuk esok
Tapi lebih penting lagi ibu meng-ada bersama tubuh mungil
Perpanjangan dirinya yang kian beranjak besar

Ada garis hidup yang ingin Ia wariskan pada celoteh dan alam pikirnya
Ada pengalaman-pengalaman pedih yang tak ingin sang mungil mencecapnya
Namun atas nama pelajaran kedewasaan,
Hal-hal menyakitkan pun tak terhindarkan

Sebab metamorfosis adalah sebuah kepastian hidup
Dan tubuh mungil mengalami metamorfosisnya sendiri
Bersama ibu di sampingnya namun juga seakan ada di dalam dirinya

Kadang tangan ibu ingin merengkuh tubuh mungil yang sedang kesakitan
Tapi bahkan ia sendiri pun menyadari tak mampu ia melawan garis Sang Pencipta
Manakala Yesus terjatuh berkali-kali  saat memanggul salib,
Di saat itu Bunda Maria menangis penuh luka.
Tak mampu berbuat apa-apa bagi buah hatinya.
Teringat ia saat tapak-tapak mungil-Nya masih berlatih memijak,
Belum sampai Ia jatuh, Bunda sudah menangkap,
Memeluk dan menggendongnya penuh cinta.
...
Kini atas nama penebusan, ia biarkan Sang Anak menjalani metamorfosisnya sendiri.
Di dalam kesakitan dan penderitaan ibu menyatu bersama anaknya
Mengingatkannya pada saat dahulu ibu meregang nyawa ketika persalinan, sang anak juga bertekun bersamanya.
Seringkali ibu muncul di saat anaknya susah, di saat genting hidup anaknya.
Sebab baginya, di saat anaknya menderita, di saat itu pula Ibu menderita.
Di saat ia menemani anaknya, di saat itu pula ia menemani dirinya sendiri
Yang sedang belajar mencinta dan memahami dirinya,
Sekali lagi,
Dalam wujud diri belia. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...