Oct 6, 2010

Ilmu Bicara, Begitu Katanya...

Setelah bumi dan segala isinya diciptakan, Tuhan berhenti sejenak. Berpikir, siapa yang akan merawat bumi?
Maka, diciptakanlah oleh Tuhan: manusia, dengan kehendak bebas.

Pada mulanya, kepada manusia diberikan dua mata untuk melihat.
Manusia melihat Bumi begitu indah. Matahari mengintip dari balik awan. Manusia memperhatikan semua itu; pupil mereka membesar menunjukkan ketertarikan dan rasa syukur. Dilihat pula rintik hujan begitu serempak. Ah, seperti apa suaranya? Manusia begitu ingin tahu, dan Tuhan pun merasa bahwa karya-Nya belum selesai.

Maka, kepada manusia diberikan dua telinga untuk mendengar.
Terdengarlah bunyi hujan, juga binatang bercengkerama tentang cantiknya bulan yang sedang tersenyum: mereka menyalak, berkicau, mengaum. Manusia mendengarkan semua itu; karena telinga tidak pernah dapat benar tertutup, dan mendengarkan sebenarnya hanya butuh ketulusan dan usaha lebih dari mendengar.
Binatang-binatang itu bercengkerama sambil menikmati buah-buah yang jatuh dari pohon. Ah, seperti apa rasanya? Dapatkan dimakan? Kembali Tuhan bekerja menyempurnakan karya-Nya.

Maka, kepada manusia diberikan satu mulut untuk menikmati makanan. Di dalam mulut ada gigi untuk mengunyah, ada lidah untuk mengecap.
Lengkap sudah!
Dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu mulut untuk menikmati makanan.

Tapi, segala keindahan dunia, segala kenikmatannya, manusia tidak dapat melantunkan puji-pujian tentang semua ini. Terlalu sunyi!

Maka, Tuhan kembali berhenti dari istirahat-Nya. Kepada manusia ditambahkan
pita suara di dalam rongga mulut untuk menghasilkan bunyi; nada-nada yang sama indahnya seperti kicau burung di pagi hari. Segala puji dan syukur yang selama ini tersimpan dalam hati, kini manusia mendendangkannya.

Semakin lama manusia menempati dunia, semakin berkembang keingintahuannya, pula kreativitasnya. Mulut yang hanya satu, kepadanya manusia berusaha menambahkan fungsinya. Mulut kini digunakan untuk bercengkerama. Bercengkerama seperti halnya hewan-hewan di sekitar mereka.

Cara ini ternyata begitu melelahkan: tiga kali nada panjang dan satu kali nada pendek untuk menyatakan cinta, satu kali nada panjang dan empat kali nada pendek untuk menyatakan terima kasih, dan lain sebagainya. Pada akhirnya manusia menyerah, meninggalkan cara ini dan mencoba mencari cara lainnya.

Manusia mulai berkomunikasi dengan gerak tubuh. Melibatkan gerak tangan, gerak kaki, dan gerak kepala. Mereka terlihat seanggun rerumputan yang melambai lembut tertiup angin. Manusia juga mencoba berkomunikasi lewat gambar. Terkadang mereka berusaha mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara sangat halus dan indah, terkadang pula mereka menggambar begitu cepat dengan garis-garis tegas, namun tetap dipergunakan pikiran dan hati mereka sehingga semuanya tersampaikan dengan bijaksana.

Suatu hari, sesosok makhluk tak bernama mendatangi dunia dan memperkenalkan sesuatu yang ia sebut Ilmu Bicara. Mudah baginya untuk membuat manusia terkagum-kagum dan ingin segera mempelajarinya. Betapa tidak! Dari mulutnya, mengalun sesuatu yang disebut ”vokal”, lalu ada pula "konsonan". Lebih jauh lagi, vokal dan konsonan bisa membentuk "kata" dan kata bisa membentuk "kalimat"!

Manusia begitu senang: semua gerak tubuh dan semua gambar dapat tergantikan. Cara ini sangat efektif lagi efisien. Berlomba-lomba manusia mempelajari Ilmu Bicara, meskipun pepohonan dan binatang-binatang terus mencibir tak setuju.
Manusia belajar dengan cepat, sangat cepat. Mungkin terlalu cepat sehingga tak sempat mereka mempertimbangkan baik dan buruk Ilmu Bicara. Mereka sibuk mempergunakan Ilmu Bicara; bahkan terlalu sibuk untuk mempergunakan pikiran dan hati sehingga tak lagi segala sesuatu tersampaikan dengan bijaksana.

Manusia mulai bertengkar. Pertengkaran dengan Ilmu Bicara. Mulut yang selama ini hanya untuk menikmati makanan dan melantunkan puji-pujian, kini menghasilkan hal-hal yang tak patut disampaikan! Lalu mereka mulai pula bertengkar dengan gerak tubuh. Gerak tubuh ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang begitu kuat, membuat manusia jatuh, terluka, remuk dan lebam. Tak cukup juga, mereka bertengkar lewat gambar. Betapa sebuah gambar dapat membuat manusia sakit hati dan semakin memicu amarah!

Manusia terus bertengkar, bertikai, lupa berdamai. Segala jenis tumbuhan dan segala jenis hewan mulai habis kesabaran; akhirnya mereka menyingkir meninggalkan bumi, pergi ke tempat yang lebih baik.
Apalah artinya manusia tanpa makhluk hidup lainnya? Perlahan, pasti... mati.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...